Guru Besar Undana: NTT Butuh Pemimpin yang Berdayakan Pertanian Lahan Kering dan Punya Manajemen Air Terbaik

Polkam206 Dilihat

Kupang (MEDIATOR)—Secara teoritis, NTT memiliki banyak lahan yang cocok untuk pertanian. Sayangnya, pola pertanian warga kita masih tradisional, dan hasilnya sekadar cukup untuk konsumsi pribadi, sangat sedikit yang berpikir untuk industrialisasi pertanian. NTT juga memiliki sumber daya air yang melimpah yang tinggal diangkat ke permukaan. Presiden RI Joko Widodo pun sudah menghadirkan bendungan berkapasitas besar sehingga kedepan, ini bisa menjadi kekuatan besar dan menjadi andalan NTT.

Apakah dengan demikian Provinsi NTT butuh seorang pemimpin yang punya visi baik tentang pola pertanian lahan kering?

“Iya. Nantinya pemimpin di NTT (kedepan) ini harus menemukan cara yang tepat untuk memanfaatkan sarana irigasi yang sudah dibangun. Dia harus mampu memanage sumber daya air yang dimiliki. Manajemennya harus bagus karena potensinya sudah ada,”demikian Prof Dr I Gusti Bagus Arjana, MS., guru besar Geografi dan Wis Peduli (pariwisata, pendidikan, kependudukan dan lingkungan) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.

Akademisi yang sudah setengah abad lebih mengabdi dan masuk keluar kampung-kampung di NTT ini di awal diskusi dengan media ini menegaskan bahwa dia menemukan banyak fakta bahwa sebenarnya provinsi ini mampu jika diarsiteki oleh tangan yang tepat. Apalagi, 27 November mendatang seluruh masyarakat NTT akan memilih siapa calon gubernur yang layak memimpin NTT lima tahun kedepan pada Pilkada Gubernur. Dia mencontohkan, pada tahun 2010 ketika menjbat sebagai Pembantu Rektor 1 Undana, dia bertugas di Nagekeo dan saat itu bertemu Bupati Nagekeo, Yohanis Aoh.

“Saat itu saya kunjungan ke Bendungan Sutami yang dibangun tahun 1975 dengan kapasitas bisa mengairi 5.000 hektar lebih lahan pertanian. Saya tanya sudah berapa hektar dikelola dan dijawab sekurang 2.500 hektar. Saya bilang aduh kasian, kenapa sekian tahun masih lahan tidur sekitar 3000-an hektar. Beliau jawab, lahan-lahan itu banyak dikuasai ‘kerah putih’. Ini satu kendala besar, karena tanah itu milik mereka yang tanahnya dibeli, tidak dikelola dan hanya menjadi aset. Inilah hambatannya. Karena itu butuh leadership yang mampu membangun sektor-sektor ini. Airnya dikelola baik, sehingga pertaniannya bagus,”ungkap Prof Gusti.

Baca Juga  Dikemas Berbeda,HUT NTT ke-64 Terfokus di Desa Hameli Ate -SBD

Dikatakannya, pola pertanian lahan kering di NTT masih harus dibenahi. Karena hasilnya hanya untuk makan dan tidak dikomersilkan. Tentu membutuhkan banyak sentuhan disana. Mulai dari skill yang mencukupi, infrastruktur serta sarana dan prasarana.

”Menjadi masalah, ketika petani kita masih belum tertarik memiliki jiwa bisnis. Kita liat di Kota Kupang, berapa banyak yang membuka usahanya. Pertanian hanya untuk makan. Ini harus didobrak menjadi pola pertanian komersial. Nanti petani-petani dibina, diberikan teknologi-teknologi yang baik. Ini harus dibenahi. Harus diperbarui,”tegasnya.

Masih pada kesempatan yang sama, dosen senior Undana yang diwawancarai tentang figur seperti apa yang tepat memimpin Provinsi NTT lima tahun kedepan ini memberikan sejumlah penegasan. Sebagai akademisi dia memiliki pandangan bahwa seorang pemimpin harus memenuhi rumus ACC. Yakni Aceptable, Capable dan Credible.

“Dia juga sosok yang bisa diterima oleh semua orang, semua pihak, pribadi yang ramah, simpatik, elegan tidak primordial. Capable itu memiliki kapabilitas atau kemampuan yang cukup dari berbagai aspek seperti pendidikan, pengetahuan, pengalaman, kemampuan untuk memahami masyarakat yang dipimpin serta Credible yaini sosok pemimpin yang dapat dipercaya, jujur, berintegritas,”tegas Prof Gusti lagi.

Kepribadian pemimpin itu dapat dipercaya publik, serta memiliki pendidikan yang cukup, jujur, berintegritas tinggi, konsisten. Berlaku adil, tidak diskriminatif dan transparan, tidak memiliki rekam jejak yang buruk serta memahami perkembangan dan dinamika masyarakat secara lokal, nasional maupun global. Di sisi lain, dia juga harus menghormati keberagaman.

Baca Juga  Prof Yafet Rissy Bicara Keras Mengenai Pembodohan dan Perampokan Politik

Sejumlah fakta dibukanya, yakni tingkat kemiskinan di NTT masih cukup tinggi, yakni > 20%, tingkat penganggurannya 3,54%, lalu pekerja migran asal NTT sering menjadi korban  dan TPPU, pertanian berciri subsisten, etos kerja yang rendah, budaya bisnis pun rendah.

Sementara di bidang kesehatan, dia menemukan tingkat kelahiran kasar/Total Fertility Rate (TFR) tinggi, Angka Kematian Ibu (AKI), tinggi, Angka Kematian Bayi (AKB) tinggi, Tingkat Stunting tinggi, 15,2% (63,804 anak), Usia Harapan Hidup (UHH) tergolong rendah. Karena itu mestinya ada kecukupan tenaga kesehatan termasuk dokter umum maupun dokter spesialis sampai di pedesaan serta ketersediaan infrastruktur, fasilitas kesehatan harus sampai ke pedesaan di daerah 3T.

“Saya tekankan, calon pemimpn di NTT itu harus memahami potensi wilayah NTT. Ada potensi sumber daya manusia, juga alam. Harus dipahami oleh seorang calon pemimpin. Kemudian dia harus memahami juga masalah-masalah yang ada di NTT supaya menjadi fokus sehingga menjadi program prioritas,”ujarnya menambahkan, pemahaman pemimpin itu terhadap berbagai bidang pembangunan terutama pembangunan bidang infrastruktur dan pembangunan sumberdaya manusia secara global dan nasional haruslah baik.

Serta paham akan  konsep pembangunan sumberdaya manusia dikenal sebagai Human Development Index (HDI), yang diluncurkan oleh UNDP mencakup 3 bidang utama: Ekonomi, Pendidikan dan Kesehatan.

Masalah ekonomi pun haruslah dipahami benar karena akan menjadi kunci kesejahteraan masyarakat. Bagaimana mengelola sumber daya alam di NTT untuk memiliki nilai-nilai ekonomi, kemudian sumber daya di laut dan masalah-masalahnya mengelola SDA laut.

Baca Juga  Tim Prabowo Gibran Beraksi di  Belu, Masyarakat Perbatasan Sangat Terbantu

Satu potensi yang tak kalah mahal nilai jualnya yakni pariwisata dan NTT memilikinya.

“Ini harus dipahami bagi calon-calon pemimpin di NTT. Pembangunan pariwisata juga sangat penting karena seluruh dunia memiliki program pengembangan pariwisata karena inti dari pariwisata adalah menggali devisa. Devisa makin banyak, kunjungan wisata luar negeri makin banyak karena ada daya tarik. Kita ada  Komodo juga Kelimutu dan banyak lagi,”ujar dia.

Dia juga menawarkan rumus dalam penatakelolaan pariwisata di NTT seperti 4A yakni accessibility, attractions, amenities (kenyamanan) dan ansilari (jasa-jasa pengembangan pawiwisata) serta 4 P, yakni Produk, apa yang menjadi produk wisata kemudian Palace atau tempat, dimana bisa dikembangkan, Price untuk menjaga stabilitas harga sehingga tidak naik atau turun sesuai mau penjual, dan terakhir, Promosi baik melalui dunia digital maupun secara nyata yang bisa disaksikan.

Lalu ada juga 4 something yang harus dipahami oleh pimpinan terutama pengelola pariwisata itu. yakni something to know. Ada dokumen-dokumen yang bisa menjelaskan tentang apa yang ingin diketahui oleh wisatawan di NTT. Surfing terbaik dimana, hotel nyaman dimana dan lain-lain. Lalu something to see, melihat keindahan alam, budaya, seni tari, dan ini kebutuhan pariwisata.

“Kalau ini tidak bisa dipenuhi, dia hanya akan berkunjung satu dua hari lalu pulang. Ini i membuat seseorang bisa long stay. Yang yang dibelanjakan menjadi devisa bagi negara dan akan terus bertambah. Menyusul something to do. Wisatawan berkunjung itu buat apa disana, ada surfing, snorkeling, diving, dan sebagainya. Terakhir, something to buy. Beli cinderamata, makanan, minuman. Pimpinan harus mengetahui, ikut untuk mendorong dan menggerakkan,”bebernya. (***/KJR)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *