Kupang (MEDIATOR)-Badan Gizi Nasional (BGN) turun tangan, datang ke Kupang terkait insiden di SMPN 8 Kupang dalam kaitan dengan program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Tak hanya itu, BGN juga menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut.
Ini ditegaskan oleh Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola BGN, Tigor Pangaribuan dalam konferensi pers yang berlangsung Senin (4/8) siang di SMPN 8 Kupang.
“Kami ucapkan permintaan maaf sebesar-besarnya kepada orang tua dari anak-anak yang terdampak dari kasus kemarin di SMPN 8 Kupang. Kedua, kami juga prihatin atas apa yang terjadi. Saya sebagai Deputi ditugaskan kepala Badan (BGN) untuk melihat apa saja yang harus diperbaiki. Karena dapur sudah berjalan sejak 17 Februari 2025, dan BGN sudah membuat SOP untuk memastikan bahan pangan harus baik dan segar,”tegas Tigor menambahkan, SOP serta tata kelola pelaksanaan program MBG khususnya di SPPG/Dapur Sehat sudah ada.
Karena itu kedepan mereka akan lebih detail lagi dalam penerapan SOP kepada SPPG di seluruh Indonesia.
“Kita akan liat lagi proses pembeliannya, pengolahan serta pengantarannya karena bisa saja terjadi kontaminasi. Sudah ada SOP-nya. Kami sudah berkoordinasi dengan ibu kepala sekolah dan terimakasih sudah menerima kami dan memberi masukan. Tentu perbaikan yang dilakukan secara internal oleh SPPG agar terus melakukan evaluasi hari demi hari dalam proses pemberian makan,”ungkapnya lagi.
Dikatakan, kasus ini terjadi bisa saja karena pihak yang menyediakan, atau pada tahapan lain. Tentu mereka akan terus mereviewnya. Sementara pihak sekolah pun direview bagaimana proses hingga makanan itu tiba di sekolah.
“Dan murid-murid juga diyakinkan agar insiden ini tidak terjadi lagi,”tambahnya.
Hadir dalam konferensi pers itu, Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan BPOM, Elin Herlina
Staf khusus BGN, Redy Hendra, Deputi Bidang Diseminasi dan Media Informasi PCO Noudy Valdryno, serta Florentio Mario Vieira dari BGN dan kepala sekolah SMPN 8.
Lalu seperti apa pola pembinaan yang dipakai oleh BGN ke SPPG Kelapa Lima, karena atas penyajiannya sehingga anak-anak dilarikan ke IPJ RSU?
Tigor menjelaskan bahwa pihaknya sudah datang ke SPPG dan memberi masukan untuk segera memperbaiki mekanisme pembelian, pengolahan hingga penyajian.
“Kita sudah datangi dan memberi masukan untuk segera memperbaiki. Kalau tidak maka jelas akan disanksi,”ujarnya menambahkan pihaknya menanti hasil laboratorium dan jika ada unsur kelalaian maka akan ada teguran. BGN tegas terhadap kasus ini, dan selalu mengikuti perkembangannya.
Dari situlah BGN meyakinkan orang tua dan anak untuk tidak ragu mengkonsumsi MBG.
Diakui BGN setiap hari terus mengevaluasi menu dan metode pelayanannya agar tidak salah.
Deputi Bidang Diseminasi dan Media Informasi PCO Noudy Valdryno saat itu menjelaskan akan ada evaluasi menyeluruh setelah pihaknya menhkonfirmasi berbagai pihak terkait insiden.
Dikatakan, pemerintah ingin memastikan penanganan atas kasus itu harus berjalan cepat, terkoordinasi dan menyeluruh. Apalagi pihaknya mendapat informasi kalau anak-anak tersebut sudah 100 persen pulih.
“Karenanya pemerintah berkomitmen menjaga SOP mulai dari pembelian, pengolahan hingga distribusi. Kami tegaskan bahwa program MBG ada program bapak presiden yang bertujuan mulia untuk mempersiapkan gizi anak sejak dini serta mengawal tumbuh kembang anak sejak dini,”tegasnya.
Tak Libatkan Vendor
Masih di kesempatan yang sama, Tigor Pangaribuan menegaskan bahwa SPPG atau Dapur Sehat langsung dikelola oleh BGN sehingga BGN menempatkan personilnya di sana yakni seorang Kepala SPPG, ahli gizi dan akuntan. Sementara relawan yang jumlahnya 47 orang sifatnya sukarelawan, dan mereka direkrut dari sekitar SPPG.
“Kalau ada yang katakan bahwa dapur dikelola vendor itu tidak benar. Dikelola oleh BGN. Shg ketika ditanya jaminan. Ini mengapa, agar mudaj dikendalikan dan ketika ada kasus gampang ditelusuri karena semuanya staf BGN,”ungkapnya. (BOY)












