Angkat Ketahanan Ekonomi Sektor Informal, Dr. Willyan Sahetapy Raih Gelar Doktor Studi Pembangunan UKSW Lewat Disertasi “Mama-Mama Papua”

INFO UKSW780 Dilihat

SALATIGA–Dosen tetap STIE Bukit Zaitun Sorong, Drs. Willyan Sahetapy, M.Si., resmi meraih gelar Doktor dari Program Studi Doktor Studi Pembangunan Fakultas Interdisiplin (FID) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Ia berhasil mempertahankan disertasinya dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor yang digelar di ruang Probowinoto pada Rabu (22/10/2026).

Dalam ujian disertasinya, Dr. Willyan Sahetapy memaparkan karya ilmiah berjudul “Mama-Mama Papua Benteng Ekonomi Domestik: Studi Ketahanan Ekonomi pada Sektor Informal di Kota Sorong”.

Sidang promosi ini dipimpin oleh Dekan Fakultas Interdisiplin UKSW dengan menghadirkan Komisi Penguji yang terdiri dari Promotor Profesor Daniel D. Kameo, S.E., M.A., Ph.D., Ko-Promotor Titi Susilowati Prabawa, Ph.D., serta jajaran dewan penguji yang meliputi Profesor Dr. Intiyas Utami, S.E., M.Si., Ak., Profesor Ir. Lieli Suharti, M.M., Ph.D., dan penguji eksternal Dr. Phil. Dewi Candraningrum, S.Pd., M.Ed.

Melalui disertasi nya, Dr. Wilyan Sahetapy menghadirkan konstribusi strategis bagi perlindungan ekonomi kerakyatan dan pembangunan daerah di Tanah Papua. Riset ini mendorong pergeseran indikator keberhasilan intervensi ekonomi dari akumulasi laba menjadi jaminan perlindungan dan kecukupan harian untuk dapur, pendidikan anak, serta kewajiban adat pedagang kecil. Selain itu, disertasi ini menawarkan rekomendasi kebijakan konkret melalui kerangka Model Topang Poros agar pemerintah daerah menghadirkan kebijakan afirmatif, mulai dari pengakuan status pedagang tanpa birokrasi rumit, penyediaan saluran suara permanen dalam tata kelola pasar, hingga proteksi lahan kebun dan tanah adat guna mencegah jebakan resiliensi yang kerap membuat negara absen.

Baca Juga  Dua Doktor Baru Studi Pembangunan UKSW Teliti Perdamaian Poso dan Identitas Nasional Timor-Leste

Disertasi tersebut berakar dari penelusuran etnografi di pasar Kota Sorong yang memotret ketangguhan perempuan Orang Asli Papua (OAP) menopang ekonomi keluarga di tengah kerentanan struktural, serta menawarkan kebaruan konsep resiliensi dari titik nol.

Nuansa akademik yang sarat akan nilai kemanusiaan begitu terasa sepanjang persidangan. Mengawali rangkaian sidang terbuka, Pendeta Dr. Ferry Nahusona, M.Si., dalam pengantar doanya menyampaikan refleksi mendalam mengenai ketulusan di balik riset tersebut. “Ketika menulis disertasi tentang Mama-Mama Papua ini, paling tidak ada tiga mata yang melakari, memotivasi, dan melahirkan karya ini: mata intelektual, mata hati dengan pesan dan kepedulian yang setiap hari dijumpai melihat Mama-Mama Papua di pasar, dan yang jauh lebih penting adalah mata iman,” ungkapnya.

Baca Juga  FH UKSW dan DPRD Kota Salatiga Bersama Pamerkan Puluhan Karya Mahasiswa Sekaligus Luncurkan JDIH

Apresiasi senada juga disampaikan oleh jajaran tim pembimbing. Ko-Promotor Titi Susilowati Prabawa, Ph.D., memuji ketekunan promovendus dalam menangkap suara-suara sunyi di ruang pasar informal yang memadukan kerja keras harian dengan ikatan kultural serta spiritual. Sementara itu, Promotor Profesor Daniel D. Kameo, S.E., M.A., Ph.D., menegaskan bahwa ketahanan Mama-Mama Papua bukanlah sesuatu yang harus diromantisasi tanpa kehadiran negara. “Ketahanan Mama-Mama Papua bukan kelemahan yang harus dikoreksi, melainkan orientasi yang harus diakomodasi. Program pembangunanlah yang semestinya menyesuaikan diri dengan ritme subuh, kebun, dan adat mereka,” tegas Profesor Daniel Kameo.

Dokumentasi foto bersama Drs. Willyan Sahetapy, M.Si., dengan jajaran promotor, penguji, dan tamu undangan.
Foto: UKSW

Pencapaian ini semakin mempertegas komitmen UKSW dalam mencetak Creative Minority yang kepakarannya berdampak luas bagi penyelesaian persoalan masyarakat, serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs ke-1 yaitu tanpa kemiskinan, SDGs ke-8 yaitu pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta SDGs ke-10 yaitu berkurangnya kesenjangan.

Baca Juga  UKSW Gandeng Kedubes Amerika Rayakan Kemitraan Indonesia-AS, ada Konser Drew Tucker and The New Standard

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak tahun 1956 dan memiliki 15 fakultas dengan 65 program studi mulai jenjang Diploma hingga Doktor, serta 36 program studi terakreditasi Unggul dan A. Berlokasi di Salatiga, UKSW dikenal sebagai Kampus Indonesia Mini karena keberagaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui semangat Creative Minority, UKSW terus mendorong lahirnya lulusan yang mampu menjadi agen perubahan dan menghadirkan dampak positif bagi masyarakat. (RLS/UKSW/BOY)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan