KUPANG – Universitas Nusa Cendana (Undana) terlibat aktif dalam menyukseskan Webinar Nasional Edustat-Talk Season 3 bertajuk “From Census to Insight” yang diselenggarakan pada Selasa (26/5/2026). Dalam forum strategis tersebut, akademisi Undana membedah urgensi pengolahan data Sensus Ekonomi 2026 sebagai basis pengambilan kebijakan pembangunan daerah yang akurat dan tepat sasaran.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi lintas perguruan tinggi yang melibatkan Universitas Pattimura (Unpatti) sebagai penyelenggara utama, bersama Undana dan sejumlah universitas mitra seperti Universitas Bina Bangsa, UNP, ULM, Universitas Andalas, UIN Ar-Raniry Aceh, serta Badan Pusat Statistik (BPS).
Data sebagai Navigasi Kebijakan Bangsa
Wakil Rektor Bidang Akademik Unpatti, Prof. Dr. Dominggus Male, S.Pt., M.Sc., dalam sambutannya menekankan bahwa tahun 2026 merupakan momentum krusial bagi Sensus Ekonomi nasional. Menurutnya, data hasil sensus tersebut akan memberikan gambaran riil mengenai kondisi ekonomi bangsa yang menjadi indikator utama dalam perencanaan pembangunan.
Senada dengan hal tersebut, Kepala BPS Provinsi Maluku, Maritje Pattieaellapia, S.E., M.Si., menegaskan bahwa data bukan sekadar tumpukan angka, melainkan sumber wawasan (insight) untuk kemajuan negara. “Sosialisasi menjadi hal paling penting untuk membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya data sensus ekonomi kelima ini,” ujar Maritje.
Analisis Statistik Undana untuk Intervensi Ekonomi
Dosen Prodi Matematika Undana, Nikmatul Ajizah Ambao, S.Pd., M.Sc., hadir sebagai pemateri yang membedah teknis pengelompokan wilayah ekonomi. Menggunakan metode K-Means Cluster Analysis dan perangkat lunak RStudio, Nikmatul memetakan karakteristik ekonomi berdasarkan jumlah usaha, proporsi sektor mikro, hingga daya serap tenaga kerja.
Nikmatul menjelaskan alur algoritma statistik mulai dari standarisasi data menggunakan rumus Z-Score hingga finalisasi klaster wilayah. Hasil analisis ini dinilai sangat aplikatif bagi pemerintah daerah dalam merumuskan intervensi kebijakan.
“Hasil klasterisasi ini memungkinkan pemerintah menyusun intervensi ekonomi yang sesuai dengan karakteristik spesifik suatu wilayah. Inilah esensi pemanfaatan data Sensus Ekonomi bagi pembuatan kebijakan daerah,” urai Nikmatul.
Menjawab Tantangan Ekonomi Digital
Statistisi Ahli Muda BPS, Nastain Komarudin, SST., M.Si., M.App.Econ., menambahkan bahwa Sensus Ekonomi 2026 menjadi sangat krusial di tengah pergeseran aktivitas masyarakat ke arah ekonomi digital dan fenomena gig economy. Data yang akurat sangat dibutuhkan untuk pemetaan tenaga kerja, arah investasi, hingga program pengentasan kemiskinan yang efektif.
Webinar yang berlangsung interaktif melalui wadah Pojok Statistik ini diharapkan memperkuat sinergi antara akademisi Undana, perguruan tinggi mitra, dan instansi pemerintah. Kolaborasi ini menjadi langkah nyata dalam mengawal kebijakan pembangunan nasional yang berbasis data demi memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat luas. (Audc/rls/undana/boy)
Foto : Dokumentasi Humas






