Pasien Kanker Tulang Ganas Dirujuk ke Bali atas Karya Mulia Yayasan Danielle dan Relawan

Nuansa NTT892 Dilihat

Kupang (MEDIATOR)— Vinsensius Seran (45) dan isterinya Elisa Tulle (43) adalah warga Desa Oelunggu, Kabupaten Rote Ndao. Sejenak dilihat, kehidupan pasangan ini sama dengan warga lainnya. Namun ad apergumukan berat yang dialami mereka. Sang isteri, Elisa, sejak 2019 lalu mengalami bengkak pada tulang belakang hingga bokongnya. Ibu tiga anak ini pun menderita sakit yang teramat sangat.

Ditemui Jumat (26/5), sang suami, Vinsensius mengisahkan riwayat penderitaan itu. Mereka berpikir semula ini hanya sakit biasa sehingga bengkak itu pun hanya dirawat dengan menggunakan obat-obatan tradisional. Bukannya bertambah sembuhh, malah bengkak itu pun kian membesar. Hingga tahun 2021, Vinsensius yang menjalami hidup sebagai seorang pedagang kecil itu pun akhirnya membawa istrinya ke RSUD Ba’a Kabupaten Rote Ndao lalu dirujuk ke RSUD Prof Dr WZ Yohanes Kupang dan kemudian ke RS Siloam Kupang. Di Siloam inilah Elisa menjalani operasi tumor tulang ganas.

ANTAR. Elisa Tulle bersama sang suami saat dibawa ke Denpasar, mereka didampingi Daniell Nalle (dua dari kanan) selaku penannggungjwab yayasan yang mengurus seluruh keperluan untuk keberangkatan hingga operasi pasien tersebut.
Foto: Yayasan Danielle/Mediatorkupang.com

“Kami sedikit lega karena,”tegas sang suami. Namun itu hanya dua tahun. Selanjutnya sakit itu kembali muncul. Pada Mei 2022, muncul lagi tumor yang lebih ganas dan lebih besar. “Besarnya seperti bantal kepala,” ujar Vinsensius lagi. Kali ini tumor malah tumbuh dan menjalar hingga paha belakang dan bokong.

Baca Juga  Ketua Umum Paguyuban Marga Tionghoa Pertegas, PSMTI dan INTI adalah Kakak Adik

Dikutip media ini dari keterangan resmi Yayasa Danielle, kondisi inilah yang menjadikan Elisa susah tidur. Posisi tidur hanya bisa pada posisi telungkup. “Tidur menyamping saja sangat susah dan sakit apalagi kalau tidur terlentang,” ujar Vinsensius. Elisa akhirnya dirujuk ke Kupang. Untuk biaya pengobatan, keluarga harus saling membantu dan patungan. Namun lamanya perawatan menjadikan Vinsensius kehabisan dana dan daya. Makan minum pun menjadi kendalaa, sehingga sekali waktu Vinsensius menampung air dari kran air di rumah sakit ke botol untuk diminum.

Elisa sempat menjalani tiga kali kemoterapi namun tidak membawa hasil yang menggembirakan dan tumor bahkan makin menyebar. Baru pada bulan Maret 2023, Yayasan Danielle mendapat kabar soal kondisi Elisa dan suaminya yang kesulitan biaya pengobatan. Yayasan pun melakukan pendampingan untuk mengatasi dan membantu kekurangan yang dialami Elisa dan Vinsensius. Yayasan Danielle mencari donatur dan bantuan kemanusiaan serta membantu biaya lain yang tidak tercover oleh BPJS termasuk biaya operasional bagi Vinsensius saat menjaga Elisa. “Yayasan ingin membantu mewujudkan keinginan Elisa dan suaminya agar tumor bisa dioperasi (lagi) dan dibersihkan hingga ke akar-akarnya. Kebetulan mereka mendapat kabar dari dokter kalau upaya pembersihan sel kanker ini belum bisa dilakukan di Kupang dan harus dilakukan di Denpasar Bali,”tegas Daniel Nalle, selaku penanggungjawab yayasan, masih dikutip dari release kepada media ini.

Baca Juga  Jokowi Kunjungi Kampus Bambu dan Sapa Mama-mama Bambu di Ngada
TANGANI. Elisa Tulle saat dibopong oleh relawan. 
Foto: Yayasan Danielle/Mediatorkupang.com

“Laser sel kanker hanya bisa dilakukan di Bali. Kami berusaha menggalang dukungan dari kawan-kawan dan pihak lain yang peduli,” ujar Daniel, Jumat (26/5). Ada keinginan kuat dari Elisa untuk ke Bali guna menjalani laser namun terbentur biaya apalagi selama ini mereka hanya menjalani rawat jalan dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit saat melakukan kontrol kesehatan. Dan Kamis (25/5), Yayasan Danielle pun mengirim Elisa ke Bali. Yayasan juga membiayai suami Elisa, Vinsensius serta membayar sewa tempat tidur di pesawat karena Elisa merupakan pasien rawat jalan maka tidak bisa didampingi dokter atau perawat.

“Kami fasilitasi memberangkatkan perawat yang juga relawan dari Yayasan Danielle untuk mendampingi Elisa,” tambah Daniel Nalle yang juga anggota KP3 Laut Tenau Polresta Kupang Kota. Di Bali, Yayasan juga menanggung biaya pemondokan dan biaya operasional harian karena Elisa bukan pasien dari rumah sakit namun merupakan pasien rawat jalan. “Elisa memang adalah pasien urgen tetapi dia harus mendaftar lagi sehingga belum bisa langsung ke rumah sakit,”ujar Daniel

Baca Juga  Mendiang Lukas Kaborang di Mata Esthon: Pemberani yang Lahir dari Rahim Tana Marapu

Daniel pun mengontak rekan-rekannya di rumah singgah di Bali dan mengupayakan agar Elisa mendapatkan tindakan medis. Karena padatnya pasien di rumah sakit Sanglah Denpasar-Bali maka Elisa baru bisa menjalani tindakan medis pada Senin (29/5).

“Elisa baru akan mendapat tindakan medis pekan depan sehingga biaya operasional selama di  Bali menjadi tanggungjawab Yayasan Danielle,” ujar Daniel se,nari menambahkan yayasan yang dirintis sejak tahun 2016 lalu dan bergerak di bidang sosial serta kemanusiaan merasa terpanggil membantu sesama yang mengalami kesulitan. “Kami memberdayakan potensi yang kami miliki untuk membantu sesama yang membutuhkan,”pungkas Daniel. (IST/YAYASAN DANIELLE/KJR)

Jangan Lewatkan