UKSW Tuan Rumah Kongres ke-7 ESAI, FBS Persembahkan Mars untuk Asosiasi Studi Inggris Indonesia

INFO UKSW548 Dilihat

SALATIGA–Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menjadi tuan rumah Kongres ke-7 English Studies Association in Indonesia (ESAI) yang mempertemukan sedikitnya 140 peserta dari 93 perguruan tinggi di Indonesia, Senin-Rabu (2–4/10/2026). Mengusung tema “Grounding, Evolving, Impactful”, kongres ini menjadi forum bagi program studi bahasa Inggris untuk membahas perkembangan pendidikan sekaligus memperkuat kolaborasi akademik. Dalam penyelenggaraan ini, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UKSW turut memberikan kontribusi melalui penciptaan dan peluncuran Mars ESAI sebagai persembahan bagi asosiasi.

Kongres yang berlangsung di Balairung UKSW ini dihadiri ketua program studi maupun perwakilan program studi bahasa Inggris dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari D4, S1, S2, hingga S3. Forum ini menghadirkan dua narasumber, yakni Ketua Lembaga Akreditasi Mandiri Humaniora (LAMHUM), Dr. Abdur Rahman, serta Prof. Dr. Ni Luh Nyoman Seri Malini, S.S., M.Hum. dari Universitas Udayana.

FBS UKSW Persembahkan Mars ESAI

Kontribusi lain UKSW dalam Kongres ke-7 ESAI adalah penciptaan Mars ESAI oleh Dekan FBS UKSW, Dr. Agastya Rama Listya, MSM., Ph.D., bersama Wakil Dekan FBS UKSW, Dr. Deta Maria Sri Darta, M.Hum., yang turut berperan sebagai co-author dalam penyusunan lirik. Mars ini menjadi persembahan FBS UKSW bagi asosiasi sekaligus upaya menghadirkan identitas bersama bagi program studi bahasa Inggris yang tergabung dalam ESAI.

Agastya Rama Listya menjelaskan bahwa proses penciptaan Mars ESAI bermula dari pertemuannya dengan pengurus harian ESAI pada 2 Juli 2026. Lirik lagu disusun berdasarkan visi dan misi asosiasi, kemudian disempurnakan bersama Deta Maria Sri Darta selaku co-author.

“Lagu Mars harus ear-catching, mudah dipahami, mudah diingat, dan mudah dinyanyikan. Dengan hanya 16 birama, siapa pun anggota ESAI akan jauh lebih mudah mengingat dan menyanyikannya,” jelas Agastya Rama Listya.

Baca Juga  UKSW Siap Gelar Upacara Wisuda Periode IV Tahun 2024

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa terdapat tiga pesan utama yang menjadi landasan penciptaan Mars ESAI, yakni kualitas atau keunggulan, sinergi dan kerja sama antarlembaga, serta transformasi yang mampu menghasilkan dampak. Ketiga pesan tersebut diolah dari visi dan misi asosiasi sekaligus selaras dengan tema kongres tahun ini, “Grounding, Evolving, Impactful”.

Agastya Rama Listya berharap Mars ESAI dapat menjadi lagu identitas yang digunakan dalam berbagai kegiatan asosiasi, termasuk acara protokoler maupun kegiatan seremonial. Baginya, penciptaan Mars ini merupakan bentuk kontribusi UKSW sebagai tuan rumah sekaligus fasilitasi FBS dalam mendukung keberadaan dan keberlanjutan ESAI.

Peluncuran Mars ESAI dilakukan oleh Ketua ESAI, Dr. Adi Sutrisno, M.A., didampingi Dr. Agastya Rama Listya, MSM., Ph.D. Mars tersebut kemudian diperkenalkan dan dinyanyikan oleh Lux Aeterna Vocal Ensemble UKSW sebagai bagian dari rangkaian acara kongres.

Bahas Pengembangan Program Studi Bahasa Inggris

Selain menjadi ajang pertemuan akademisi, Kongres ke-7 ESAI juga membahas berbagai isu strategis yang dihadapi program studi bahasa Inggris di Indonesia. Ketua Panitia Kongres ke-7 ESAI, Dr. Purwanti Kusumaningtyas, M.Hum., menjelaskan bahwa pembahasan mencakup sejumlah hal yang perlu disikapi bersama oleh program studi, terutama terkait akreditasi dan pengembangan kurikulum.

Baca Juga  UKSW Gelar NLDP Batch ke-8: Eksplorasi Diri dan Membangun Keterhubungan Emosional

“Salah satu hal yang dibahas adalah akreditasi. Tahun ini, pembahasan terutama berfokus pada bagaimana program studi menyikapi akreditasi, termasuk bagaimana kurikulum perlu terus ditinjau,” jelasnya.

Selain itu, kongres juga membahas kehadiran Lembaga Akreditasi Mandiri Humaniora (LAMHUM), penggunaan SAPTO versi 2.0, serta capaian pembelajaran lulusan yang diharapkan dapat menjadi kesepakatan bersama bagi program studi bahasa Inggris yang tergabung dalam ESAI.

Ketua ESAI, Dr. Adi Sutrisno, M.A., menyampaikan apresiasi kepada UKSW dan panitia penyelenggara atas dukungan dalam pelaksanaan kongres. Menurutnya, pertemuan dua tahunan ini menjadi kesempatan bagi anggota asosiasi untuk merefleksikan capaian, mengevaluasi program yang telah berjalan, serta merumuskan langkah pengembangan ke depan. Ia juga mengajak seluruh peserta membangun diskusi yang terbuka, saling mendengarkan, dan menghargai perbedaan perspektif untuk menghasilkan keputusan serta komitmen bersama bagi kemajuan asosiasi.

UKSW Dorong Penguatan Kompetensi Bahasa Inggris dan Kolaborasi Akademik

Sejalan dengan pembahasan kongres, Wakil Rektor UKSW Bidang Kerja Sama dan Kealumnian, Profesor Yafet Yosafet Wilben Rissy, menekankan pentingnya penguatan kompetensi bahasa Inggris dalam menghadapi persaingan global. Menurutnya, Indonesia memiliki kapasitas dan sumber daya untuk berkembang, tetapi kemampuan berbahasa Inggris perlu terus ditingkatkan agar mahasiswa dan tenaga profesional dapat berpartisipasi lebih luas di tingkat internasional.

Baca Juga  Welcome Party UKSW 2026 Sambut Mahasiswa Baru, Dimeriahkan Barasuara dan Souljah

“Ini menjadi tantangan besar bagi kita untuk mempersiapkan mahasiswa, khususnya dari program studi bahasa Inggris, agar mampu mengajar bahasa Inggris secara tepat dan profesional,” ungkapnya.

Ia berharap kongres ini dapat mendorong perguruan tinggi, khususnya program studi bahasa Inggris, untuk memberikan perhatian serius terhadap pengembangan kompetensi tersebut. Dengan demikian, pendidikan bahasa Inggris dapat semakin relevan dalam mempersiapkan lulusan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan tantangan global.

Melalui penyelenggaraan Kongres ke-7 ESAI dan penciptaan Mars ESAI oleh FBS, UKSW berkontribusi dalam memperkuat jejaring akademik serta kolaborasi antarperguruan tinggi untuk pengembangan pendidikan bahasa Inggris di Indonesia. Upaya ini sejalan dengan semangat UKSW Berdampak dan mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas dan tujuan ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi pada jenjang D3 hingga S3. Berlokasi di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini yang mencerminkan keberagaman mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui semangat Creative Minority, UKSW terus mendorong sivitas akademika untuk menjadi agen perubahan dan menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat. (rls/UKSW/BOY)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan