Fakultas Ekonomi UKSW Lahirkan Doktor dengan Predikat Summa Cumlaude

INFO UKSW99 Dilihat

Salatiga (MEDIATOR)–Disertasi berjudul “Model Identifikasi Perilaku Herding Menggunakan Garch pada Variasi Jenis dan Kondisi Pasar” mengantarkan Dr. Suhendro, S.E., M.Si., Ak. C.A., meraih gelar Doktor Manajemen dalam Yudisium yang diselenggarakan pada Selasa (13/02/2024) sore. Yudisium yang diselenggarakan oleh Program Studi Doktor Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) ini diselenggarakan di Gedung G Ruang Probowinoto.

Dr. Suhendro, S.E., M.Si., Ak. C.A., yang juga merupakan Dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Batik (UNIBA) Surakarta berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif 3.94 atau Summa Cumlaude. Yudisium dipimpin oleh Dekan FEB UKSW Dr. Yefta Andi Kus Noegroho, S.E., M.Si., Akt., dengan Promotor ProfApriani Dorkas Rambu Atahau, S.E., M.Com., Ph.D., dan Ko Promotor DrRobiyanto, S.E., M.M. Sementara itu bertindak sebagai penguji adalah Ronny Prabowo, SE., M.Com., Akt., Ph.D, dan Andrian Dolfriandra Huruta, S.E., M.Si., Ph.D.

Dengan diraihnya gelar Doktor Manajemen, Dr. Suhendro menjadi lulusan ke-67 program studi yang telah meraih akreditasi Unggul ini. Dekan FEB menyebut bahwa gelar doktor yang didapatkan pria kelahiran Karanganyar yang hari ini tepat berusia 51 tahun ini bukanlah akhir, melainkan awal babak baru yang harus dijalani seorang ilmuwan.

Baca Juga  Anak Muda Calon Dokter dari NTT, Sudah Bisa Kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga

Kolaborasi ke depan

“Dari jenjang pendidikan mungkin yang tertinggi, tetapi kita masih perlu belajar, bagaimana ilmu yang sudah didapatkan diaplikasikan dengan baik, dan berkarya untuk institusi. Selamat dan semoga ke depan ada kolaborasi yang baik antar kedua lembaga ini,” kata Dr. Yefta Andi Kus Noegroho.

Hal tersebut juga disambut baik oleh Rektor UNIBA Dr. H. Amir Junaedi, S.H., M.H., yang juga turut hadir dalam yudisium kemarin.

“Kami sangat bersyukur atas kelulusan ini. Terima kasih atas bimbingannya dan mudah-mudahan kita berkolaborasi ke depannya,” kata Dr. H. Amir Junaedi.

Selain dihadiri keluarga dan Rektor UNIBA, yudisium kemarin juga dihadiri perwakilan dari Yayasan Perguruan Tinggi Islam Batik Surakarta yaitu Dr. Djoko Kristianto, S.E., M.M., Anita Wijayanti, S.E., M.M., Akt., Ph.D., dan Ratna Damayanti, S.T., M.M., Ph.D. Selain itu hadir dari Rektorat UNIBA Wakil Rektor 1 Dr. Ariy Khaerudin, S.H., M.H., Wakil Rektor 2 Dr. Kartika Hendra Ts., S.E., M.Si., Ak., Wakil rektor 3 Dr. Ida Aryanti, S.E., M.Si., serta Wakil Dekan Fakultas Ekonomi Drs. Sri Hartono, S.E., M.Si.

Baca Juga  Bersama Mahasiswa Asal Jepang, Pameran Japanese Day FId UKSW Hadirkan Pertukaran Budaya

Sekilas disertasi

Pandemi akibat Covid-19 telah menimbulkan ketidakpastian di berbagai sektor dan beberapa negara mengalami krisis pasar dan resesi ekonomi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan NYSE Composite mencatat penurunan sebesar 30 persen dan SSE Composite menunjukkan penurunan sebesar 10 persen. Ketidakpastian pasar selama pandemi juga tergambar dari tingginya level Chicago Board Options Exchange Volatility Index atau VIX sebagai indikator ketakutan investor. Oleh karena itu penelitian ini berupaya untuk mengetahui perilaku herding di ketiga pasar modal tersebut sebelum dan selama pandemi Covid-19.

Saham-saham yang terdaftar di DJIA (USA), SSE50 (China), dan LQ45 (Indonesia) pada tahun 2015-2021 dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis herding menggunakan GARCH (Generalized autoregressive conditional heteroskedasticity) berdasar dispersi return saham individu terhadap return pasar secara cross-sectional absolute deviation (CSAD).

Baca Juga  Raih Predikat Cumlaude, Fakultas Teologi UKSW Kembali Luluskan 2 Doktor, Satunya asal Kupang-NTT

GARCH (1,1) menunjukkan bahwa investor DJIA dan LQ45 tidak melakukan herding dalam kondisi bullish/bearish, termasuk pasar ekstrim selama pandemi. Temuan menunjukkan bahwa volatilitas pasar yang tinggi kedua indeks terutama selama pandemi tidak berhubungan dengan perilaku herding. Namun, investor SSE50 terindikasi melakukan perilaku herding pada kondisi bearish sebelum pandemi. Hasil tersebut menyiratkan bahwa meskipun investor institusional dan berorientasi jangka panjang mendominasi saham-saham blue-chip, investor bertindak irasional dengan mengambil keputusan dengan meniru konsensus pasar atau investor lainnya.

“Kehadiran herding memperkuat teori behavioral finance mengenai perilaku irasional. Namun indeks volatilitas tidak mempengaruhi model herding pada ketiga indeks tersebut,” ungkap Dr. Suhendro dalam disertasinya. (RLS/HUMAS-UKSW/KJR)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *