SALATIGA–Pengetahuan lokal masyarakat Desa Ngrawan menjadi pintu masuk penjajakan riset kolaboratif antara Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) Belanda, dan Komunitas Omah Cikal. Penjajakan dilakukan melalui observasi sosial-kultural dan ekologis di Desa Ngrawan, yang dilakukan baru-baru ini.
Desa Ngrawan di Kabupaten Semarang memiliki beragam praktik dan pengetahuan lokal yang masih hidup di tengah masyarakat. Kunjungan tim bertepatan dengan tradisi Saparan, sehingga tim KITLV dan Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UKSW dapat melihat langsung praktik budaya sekaligus berinteraksi dengan masyarakat. Dalam kesempatan tersebut, tim KITLV bertemu dengan tiga tokoh masyarakat yang menguasai ilmu petung, pengetahuan tradisional mengenai perhitungan hari baik. Rombongan juga mengunjungi Prasasti Ngrawan. Berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian dari observasi awal untuk memetakan tema riset yang relevan dengan kepakaran Profesor Diana Suhardiman, Direktur KITLV.

Foto: UKSW
Kepala Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UKSW Dr. Wahyu Purwiyastuti, S.S., M.Hum., mengatakan, penjajakan tersebut membuka peluang pengembangan riset yang mempertemukan kepakaran akademik dengan pengetahuan yang berkembang di masyarakat.
“Kehadiran tim KITLV di UKSW adalah bukti dan komitmen kami memperkuat kolaborasi di aras global. Selain kegiatan Workshop Oral History, kami siap memediasi jejaring akademisi dan komunitas melalui PkM maupun riset global bersama KITLV,” ujarnya.
Memperkuat Jejaring
Penjajakan riset di Desa Ngrawan merupakan pengembangan dari jejaring Collective Oral History yang selama ini mempertemukan KITLV, UKSW, sejumlah perguruan tinggi di Indonesia dan Belanda, serta komunitas sejarah. Jejaring tersebut telah dikembangkan melalui konferensi internasional, summer course, workshop, riset, dan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM).
Tidak hanya di Desa Ngrawan, tim KITLV bersama Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UKSW melanjutkan agenda dengan mengunjungi Rumah Noto UKSW. Tidak hanya berkunjung, diskusi seputar sejarah pendirian UKSW, karakteristik sosial-kultural mahasiswa, serta penjajagan kerja sama yang akan dituangkan dalam Memorandum of Understanding (MoU) ikut mengisi rangkaian kegiatan. Agenda kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke Kampung Pancuran untuk mendukung kegiatan PkM dan upaya menjaga kesinambungan hubungan antara akademisi, komunitas, dan masyarakat dalam jejaring Collective Oral History.
Kolaborasi tersebut sejalan dengan komitmen UKSW untuk mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs ke-4 yaitu pendidikan berkualitas, SDGs ke-11 yaitu kota dan permukiman yang berkelanjutan, serta SDGs ke-17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan. Dalam konteks nasional, penjajakan ini juga mendukung semangat Asta Cita, terutama penguatan kualitas sumber daya manusia, pendidikan, sains, dan inovasi serta pengembangan pengetahuan yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 64 program studi di jenjang D3 hingga S3 dengan 36 prodi terakreditasi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. (RLS/UKSW/BOY)






