SALATIGA–Lingkungan yang aman dan suportif menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak dan remaja. Karena itu, pemahaman tentang perundungan perlu dibangun sejak dini, termasuk di lingkungan tempat anak dan remaja berinteraksi sehari-hari.
Hal tersebut menjadi perhatian Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Kampung Pancuran, Salatiga, akhir pekan lalu. Menurut Mardian Putra Frans, S.H., M.H., panitia PkM OMB 2026 UKSW, sebanyak 22 pemuda Kampung Pancuran mengikuti edukasi interaktif mengenai anti-bullying dan “Cinta Desa Pancuran”. Kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa baru UKSW dari Fakultas Hukum (FH), Fakultas Teknologi Informasi (FTI), Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer (FTEK), Fakultas Psikologi (FPSI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISKOM), dan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS).
“Kegiatan ini menjadi perkenalan awal bagi mahasiswa baru UKSW angkatan 2026 terhadap pengabdian kepada masyarakat sebagai salah satu Tridharma Perguruan Tinggi. Melalui edukasi pencegahan bullying dan kecintaan terhadap desa, kegiatan ini diharapkan turut membangun karakter dan ketahanan sosial, sekaligus menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan saling menghargai,” jelas Mardian.
Melalui edukasi anti-bullying, peserta diajak mengenali pengertian, bentuk, dampak, serta cara menghadapi perundungan. Materi tidak hanya diarahkan untuk menambah pengetahuan, tetapi mendorong peserta berani mencegah perundungan dan membangun relasi yang lebih aman dengan lingkungan sekitarnya.
Salah satu pemateri, Joseph Dwi Putra Pandoh mahasiswa baru dari FBS, menekankan pentingnya menjaga perilaku dalam berinteraksi. Menurutnya, perundungan dapat memberikan dampak serius, terutama bagi anak dan remaja.
“Tujuan materi ini untuk memberikan imbauan kepada pemuda di sini, karena di usia kami yang masih belasan seperti ini, bullying bisa berdampak serius,” ujarnya.
Selain anti-bullying, peserta diajak melihat lingkungan tempat tinggal dari sisi yang lebih positif melalui materi “Cinta Desa Pancuran” yang disampaikan Alfarin Clarisa, mahasiswa baru FBS. Peserta didorong untuk mengenali nilai dan potensi kampungnya serta memiliki rasa bangga terhadap lingkungan tempat mereka tumbuh.
“Walaupun mungkin kampungnya kecil dan gang-gangnya sempit, tapi di situ ada makna positifnya. Ada hal yang bisa kita dapatkan dari situ,” ungkap Alfarin.
Peserta Bawa Pulang Pesan Edukasi
Dampak edukasi mulai terlihat dari respons peserta. Dzulfiqar Mahasin, siswa SMK Telekomunikasi Tunas Harapan yang tinggal di Kampung Pancuran, mengaku materi “Cinta Kampung” membuatnya semakin menyadari arti penting lingkungan tempat ia tumbuh.
“Saya menjadi sadar bahwa kampung yang saya tinggali, Kampung Pancuran, itu begitu spesial. Dari saya kecil hingga saya dewasa, kampung ini benar-benar tidak bisa terlupakan,” katanya.
Menurut Dzulfiqar, edukasi anti-bullying juga penting karena perundungan dapat membuat korban kehilangan kepercayaan diri, menjadi pemalu, bahkan enggan bersekolah maupun berinteraksi dengan teman.
Pengetahuan tersebut mendorongnya untuk meneruskan pesan yang diperoleh kepada orang-orang di sekitarnya.
“Saya juga akan menyampaikan kembali kepada teman-teman tentang materi bullying yang disampaikan kakak-kakak UKSW, sekaligus mengajak mereka untuk mencintai Kampung Pancuran,” ujarnya.
Erella Atha Setya Pranoto, siswi SMK Negeri 1 Salatiga yang juga tinggal di Kampung Pancuran, merasakan manfaat serupa. Ia mendapatkan pemahaman baru mengenai bullying dan dampaknya terhadap korban.
“Saya jadi lebih paham tentang bullying dan dampaknya bagi orang yang menjadi korban. Dari sini saya belajar bahwa kita tidak boleh melakukan bullying dan harus berani mengingatkan ketika melihatnya,” ungkapnya.

Foto: UKSW
Erella berharap edukasi semacam ini dapat terus dilakukan agar semakin banyak anak memahami cara mencegah perundungan.
“Harapan saya ke depannya program edukasi ada terus, karena banyak anak-anak yang harapannya mereka tidak menjadi pelaku dan korban bullying,” katanya.
Ia pun berkomitmen untuk menerapkan pengetahuan tersebut dengan mengingatkan orang di sekitarnya ketika melihat tindakan perundungan.
Pengabdian Jadi Ruang Belajar Maba
Di sisi lain, PkM ini juga menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk belajar berkomunikasi dan terlibat langsung bersama masyarakat. George Darrentvino Huwae, mahasiswa baru FTI yang dipercaya menjadi moderator, mengaku mendapat pengalaman pertamanya memandu kegiatan.
“Saya sangat bangga dan senang karena bisa dipercaya menjadi moderator. Ini juga baru pertama kalinya bagi saya menjadi moderator,” ujarnya.
Menurut Darrent, pengalaman tersebut membantunya mengasah public speaking, kemampuan berpikir cepat, serta kerja sama dengan rekan satu tim.
Melalui kegiatan ini, UKSW tidak hanya memberikan edukasi, tetapi mendorong peserta untuk menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif. Pengetahuan mengenai anti-bullying diharapkan tidak berhenti di ruang sosialisasi, melainkan diteruskan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, PkM UKSW di Kampung Pancuran menjadi langkah untuk membangun kesadaran bersama, bahwa menciptakan ruang aman bagi anak dan remaja tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak, tetapi membutuhkan peran aktif masyarakat sejak dari lingkungan tempat mereka tumbuh.
Rektor UKSW Profesor Intiyas Utami yang turut menghadiri kegiatan PkM menegaskan bahwa UKSW mempunyai komitmen untuk menjadi kampus berdampak, yang manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Melalui kegiatan OMB, UKSW mengajak mahasiswa untuk mengenal persoalan yang ada di masyarakat sekaligus belajar mengambil bagian dalam upaya mencari solusi.
“Semoga dengan tiga kegiatan yang dilaksanakan, mahasiswa baru bisa mengikuti dengan asyik dan menyenangkan, dan masyarakat juga bisa merasakan manfaatnya. Semua ini kami lakukan sebagai wujud bakti UKSW untuk Indonesia,” kata Rektor Intiyas.
Sementara itu, Lurah Kutowinangun Lor M. Arif Nurnanto, S.Sos., yang turut hadir menyatakan terima kasihnya atas kehadiran UKSW. Disampaikannya, kerja sama dengan UKSW sudah berlangsung lama, sudah ada program Pojok Data untuk kelurahan cerdas dan juga penanganan stunting yang sudah menunjukkan hasil penurunan angka stunting di sini. Menurutnya, sudah ada 14 anak yang lolos stunting berkat program penanganan stunting yang dilakukan bersama UKSW yaitu melalui program Gerakan Orang Tua Anti Stunting atau Genting dan Smart Farming Anti Stunting. Rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan UKSW disambut gembira dan pastinya memberikan manfaat untuk masyarakat di sini.
Ketua Panitia OMB Alfred Jansen Sutrisno, ST., M.Si., M.Agr., mengungkapkan ada tiga bentuk kegiatan PkM yang dilakukan yaitu Pelatihan Urban Farming dan Pembuatan Pupuk Kompos, Cek Kesehatan Gratis, san Sosialisasi dan Kampanye Anti Bullying serta Cinta Kampung.
Kegiatan ini mempertegas kiprah UKSW dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu ke-4 pendidikan berkualitas dan ke-17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan. Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata komitmen UKSW terhadap program Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Berdampak yang selaras dengan Asta Cita 4 yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, dan pendidikan.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3 dengan 36 prodi terakreditasi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. (RLS/UKSW/BOY)






