SALATIGA-Lahan yang terbatas dan sampah organik rumah tangga menjadi dua persoalan yang dekat dengan kehidupan warga Kampung Pancuran, Kelurahan Kutowinangun Lor, Kecamatan Tingkir, Salatiga. Melalui Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dalam Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) 2026, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) bersama warga mencoba menjawab persoalan tersebut melalui pelatihan urban farming dan pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos, akhir pekan lalu.
Kegiatan yang melibatkan 14 warga RW 04 dan mahasiswa baru UKSW ini memberikan pengalaman langsung mengenai pemanfaatan lahan terbatas sekaligus pengelolaan sampah dari rumah. Bagi warga, keterampilan tersebut diharapkan dapat menjadi langkah sederhana untuk menciptakan lingkungan yang lebih produktif dan mandiri.
Mengubah Lahan Terbatas Menjadi Ruang Produktif
Koordinator PkM OMB 2026, Ruth Meike Jayanti, S.P., M.Sc., menjelaskan bahwa program dirancang berdasarkan identifikasi terhadap kebutuhan masyarakat. Dari proses tersebut, urban farming dan pengolahan sampah organik dipandang sebagai peluang yang dapat dikembangkan bersama warga.
“Kami sudah mengidentifikasi permasalahan yang ada di sini, kemudian mencari peluang yang memang dibutuhkan oleh masyarakat di RT 08/RW 04 Pancuran,” jelas Ruth Dosen Fakultas Pertanian dan Bisnis.
Pelatihan urban farming menggunakan media tanah sebagai pengembangan dari program Smart Farming Anti Stunting yang telah dilakukan UKSW sejak 2025. Jika sebelumnya warga diperkenalkan dengan sistem hidroponik, kali ini praktik pertanian perkotaan diperluas melalui pemanfaatan media tanah dan lahan terbatas.
Pada saat yang sama, sampah organik rumah tangga diarahkan untuk diolah menjadi pupuk kompos yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai penyubur media tanam. Dengan demikian, pengelolaan sampah dan urban farming tidak berdiri sendiri, tetapi dapat saling mendukung dalam satu siklus sederhana di lingkungan rumah.
UKSW juga memfasilitasi peralatan yang diperlukan agar warga dapat melihat dan mempraktikkan proses pengolahan secara langsung. Harapannya, praktik tersebut dapat dikembangkan secara mandiri setelah kegiatan selesai.
Belajar Bersama Masyarakat
Bagi mahasiswa baru, PkM menjadi kesempatan untuk belajar langsung dari persoalan yang dihadapi masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, mereka tidak hanya berinteraksi dengan warga, tetapi juga belajar bekerja sama dan menerapkan pengetahuan melalui praktik yang memiliki manfaat langsung.
Finse Nansia, mahasiswa baru Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian dan Bisnis, mengatakan pengalaman terjun langsung ke masyarakat menjadi bagian yang paling berkesan baginya.
“Yang paling berkesan adalah melatih keterampilan diri untuk terjun ke masyarakat dan bisa bekerja sama. Untuk warga, harapannya ke depannya bisa mempraktikkan sendiri apa yang sudah kami berikan, baik contoh-contoh maupun hal-hal yang sudah kami berikan,” ungkapnya.
Sementara bagi warga, manfaat pelatihan terasa dekat dengan kebutuhan sehari-hari. Ani Kresnowati, warga RT 08/RW 04 Pancuran, melihat pengolahan sampah organik sebagai salah satu solusi yang dapat dimulai dari rumah.
“Sangat bermanfaat, ya, saya kira. Karena kami sedang mencari solusi untuk menanggulangi sampah organik. Ini sudah menjadi isu sosial di Salatiga juga karena sampah sudah menggunung. Jadi, kami bisa menyelesaikan sampah kami dari rumah kami masing-masing,” tuturnya.
Warga lainnya, Maurisia Giska Kurnia Rukmi, menyambut urban farming sebagai peluang untuk menghidupkan kembali kegiatan bertani di tengah kawasan perkotaan.
“Senang, ya. Di tengah perkotaan, kegiatan seperti ini jadinya membuat jiwa bertani muncul lagi, seperti urban farming,” ujarnya.
Dari Pelatihan Menuju Keberlanjutan
Bagi warga, pelatihan menjadi lebih berarti apabila pengetahuan yang diberikan dapat terus diterapkan. Ani berharap UKSW dapat melanjutkan pendampingan sehingga program tidak berhenti pada satu kali pertemuan.
“Harapannya juga terus berkelanjutan, terus-menerus. Perlu ada pemantauan juga dari kampus untuk melihat bagaimana program ini berjalan, apakah sudah berkelanjutan, apakah masyarakat sudah melakukan kegiatan ini, dan apakah program ini benar-benar menjawab apa yang menjadi kebutuhan kami,” ungkap Ani.
Rektor UKSW Profesor Intiyas Utami yang turut menghadiri kegiatan PkM menegaskan bahwa UKSW mempunyai komitmen untuk menjadi kampus berdampak, yang manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Melalui kegiatan OMB, UKSW mengajak mahasiswa untuk mengenal persoalan yang ada di masyarakat sekaligus belajar mengambil bagian dalam upaya mencari solusi.
“Semoga dengan tiga kegiatan yang dilaksanakan, mahasiswa baru bisa mengikuti dengan asyik dan menyenangkan, dan masyarakat juga bisa merasakan manfaatnya. Semua ini kami lakukan sebagai wujud bakti UKSW untuk Indonesia,” kata Rektor Intiyas.
Sementara itu, Lurah Kutowonagun Lor M. Arif Nurnanto, S.Sos., yang turut hadir menyatakan terima kasihnya atas kehadiran UKSW. Disampaikannya, kerja sama dengan UKSW sudah berlangsung lama, sudah ada program Pojok Data untuk kelurahan cerdas dan juga penanganan stunting yang sudah menunjukkan hasil penurunan angka stunting di sini.

Foto: UKSW
Menurutnya, sudah ada 14 anak yang lolos stunting berkat program penanganan stunting yang dilakukan bersama UKSW yaitu melalui program Gerakan Orang Tua Anti Stunting atau Genting dan Smart Farming Anti Stunting. Rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan UKSW disambut gembira dan pastinya memberikan manfaat untuk masyarakat di sini.
Ketua Panitia OMB Alfred Jansen Sutrisno, ST., M.Si., M.Agr., mengungkapkan ada tiga bentuk kegiatan PkM yang dilakukan yaitu Pelatihan Urban Farming dan Pembuatan Pupuk Kompos, Cek Kesehatan Gratis, san Sosialisasi dan Kampanye Anti Bullying serta Cinta Kampung.
Pelatihan urban farming dan pengolahan sampah organik tersebut turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs ke-11 yaitu kota dan permukiman yang berkelanjutan, SDGs ke-12 yaitu konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, melalui pemanfaatan lahan perkotaan dan pengelolaan sampah organic, dan SDGs ke-17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan. Kegiatan ini juga mendukung Asta Cita Presiden Republik Indonesia, terutama Asta Cita ke-2 yaitu memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 64 program studi di jenjang D3 hingga S3 dengan 36 prodi terakreditasi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. (RLS/UKSW/BOY)






