Kupang (MEDIATOR)–Staf Khusus (Stafsus) Presiden Republik Indonesia Bidang Inovasi, Pendidikan dan Daerah Terluar, Dr (can) Bily Mambrasar, S.T., B.Sc.,MBA., M.Sc.,Edm., didampingi Serena Francis, sebagai Founder Aksi Flobamora Foundation, Senin (24/7) petang, menghadiri sebuah pertemuan di Sekolah Lapangan Nekamese. Dalam acara yang dikemas dengan thema ‘Pemuda Nusa Tenggara Timur, Bisa Bikin Apa Sa?’ dengan sub thema ‘Optimalisasi Peran Pemuda dalam Mendorong Pembangunan Daerah’, hadir puluhan tokoh yang adalah para Bacaleg Partai Gerindra seluruh Dapil di Kota Kupang dan Bacaleg DPRD NTT Dapil 1 (Kota Kupang).

Foto: Mediatorkupang.com
“Saya adalah seorang anak kampung, yang lahir dari keluarga penjual kue namun karena memiliki tekad yang kuat akhirnya saya memulai sesuatu yang penting dalam hidup saya. Yakni, membangun usaha yang menjadi berkat bagi orang lain,”tegas Billy membuka diskusi. Masih menurutnya, selama menjalani tanggungjawab sebagai Stafsus Presiden, dia sudah masuk keluar kampung dan memotivasi seluruh anak negeri untuk jangan pernah lelah memulai sesuatu.
“Saya keluar masuk kampung, karena saya ingin membawa perubahan bagi daerah-daerah yang jauh. Ketika 2018 diajak Pak Presiden, saya minta waktu seminggu untuk berpikir. Orang tua bilang mungkin selama dilibatkan, saya akan merubah lebih banyak orang lagi,”tegas dia. Diakui bahwa walau mamanya penjual kue, dan papanya seorang honorer, namun dia memiliki keyakinan yaang teguh bahwa dia harus bisa. Semasa kuliah S1 di Jawa, dia membiayai diri sendiri dengan jalan jualan kue dan melakukan pekerjaan serabutan. Seperti mengamen, lalu menjadi penyanyi kafe dan wedding.
“Namun karena saya punya tekad, akhirnya bisa kuliah di Oxford. Memang ketika saya bicara sama teman, mereka bilang tidak mungkin karena IPK saya pas-pasan, cuman dua koma. Tapi ternyata Oxford tidak melihat IPK, melainkan usaha apa yang sudah pernah kita lakukan,”tegasnya sembari berpesan kepada seluruh yang hadir termasuk anak-anak Paskibra bahwa harus pandai melihat peluang. Seperti peka terhadap lingkungan sekitar. Dia fokus pada pendidikan anak-anak di pedalaman sehingga saat ini yayasannya mempekerjakan ratusan guru dan mereka tersebar di pedalaman Papua.
“Saya selalu masuk keluar kampung. Esok saya ke Atambua, dan disana saya hanya mau sampaikan bahwa saya juga anak kampung. Kita bisa taklukkan dunia. Bagi adik milenial yang saat ini mau maju, saya doakan agar orang yang punya visi inilah yang sukses dan membawa perubahan. Kita tahu bahwa kita lahir untuk memberkati. Lakukan perubahan apapun sesuai passion, bakat dan talenta apapun. Jangan menunggu sampai pada posisi yang tinggi untuk melakukan sesuatu. Kami memulai dengan lima anak didik, sekarang sudah ribuan. Mulailah dengan perkara yang kecil. Ketika saya ditunjuk, saya bisa melakukan pekerjaan besar. Mulailah dulu yang kecil. Apabila kitab setia pada perkara yang kecil. Terus belajar, rendah hati,”tegasnya.

Foto: Mediatorkupang.com
Sementara Serena Francis saat itu menegaskan, dia memiliki visi besar untuk membangun pendidikan di NTT. Karena itu didirikanlah Yayasan Timor Belajar. “Yayasan ini baru didirikan pada tahun 2021 lalu. Selama dua tahun berdiri, kita tidak saja galang dana dan salurkan ke desa-desa. Kita fokus ke kabupaten yang indeks pendidikan dan kesehatannya rendah. Kita juga memberikan sejumlah rekomendasi mengenai apa yang sudah kita temukan dan syukur, ada beberapa daerah menerima advis kita,”tegas Serena yang kini menjabat sebagai Wasekjen TIDAR pusat ini.
Tamatan SMAN 3 Kupang yang meraih S1 di Universitas Indonesia ini menambahkan bahwa, yang dibutuhkan sekarang oleh setiap milenial adalah soft skill. Karena walau memiliki IPK bagus namun jika tak memiliki soft skill yang bagus, maka akan tertinggal.
“Saat bertemu teman-teman di Jawa,saya bisa merasakan apa perbedaan kita dengan mereka. Yakni soft skill. mereka punya rekam jejak yang padat, kita kurang. Inilah yang harus terus didorong agar anak-anak kita terus memperkaya diri,”ungkap Serena yang sementara mengambil program magister di salah satu universitas di Inggris ini.
Dia memotivasi kaum milenial untuk terus belajar, memperkaya diri dan mempersiapkan diri, karena merekalah yang akan memimpin bangsa ini. (KJR)






