Kupang (MEDIATOR)—Parkir adalah salah satu dari sembilan jenis pendapatan yang jika dioptimalkan akan berkontribusi baik bagi pembangunan di Kota Kupang. Karena itu, sudah menjadi komitmen dari Pemerintah Kota Kupang untuk memaksimalkannya di tahun depan. Pernyataan ini disampaikan Penjabat Walikota Kupang, George Hadjoh dalam sambutannya ketika meresmikan Gallery ATM dan ATM Disabilitas, Jumat (30/12) pagi di kantor pusat Bank NTT, Jl. Iman Budiman, Oebufu.
“Khusus pakrir yang disampaikan pak Dirut Bank NTT, saya sudah catat sekitar enam kali. Ini masukan yang bagus. Saya didatangi Kadis Perhubungan dan mau tandatangan untuk pengelola-pengolola. Saya suruh tidak bisa. Saya bilang tidak bisa lagi dengan cara-cara lama. Masa 30 persen untuk pengelola, 60 persen untuk juru parkir dan 10 persen untuk pemerintah. Ini sampai kucing keluar tanduk, daerah ini tidak akan maju,”tegas George.

Foto: Stenly Boymau/Mediatorkupang
Dia menuturkan, tahun 2022 ini Kota Kupang over target dari sisi pembayaran pajak. “Ada 90 persen pajak yang sudah terbayar. Hanya tinggal pajak hiburan yang memang karena kondisi belum normal. Pajak yang lain over target 100 persen keatas. Itu berarti masyarakat kota ini sudah taat pajak,”tegasnya.
Namun harus diakui, pemasukan dari sektor retribusi inilah yang tidak maksimal ditagih selama tahun 2022. “Kita terkendala di retribusi. Karena itu saya sudah berulangkali pergi ke DPRD supaya Perda tentang pemasukan itu kita revisi sehingga pendapatan bisa naik,”tegasnuya menambahkan, apa yang menjadi harapan bersama, yakni digitalisasi sistem pembayaran yang ditawarjan oleh Bank NTT akan menjadi berkat bagi Kota Kupang.
Sebelumnya, dalam sambutannya, Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho pun menyentil tentang parkir, yang mana potensi ini masih belum dimaksimalkan. Dan untuk memaksimalkannya, Bank NTT siaap mensupportnya.
“Kedepan kita berharap untuk bisa bekerjasama dengan Pemkot agar Bank NTT bisa berkontribusi lebih kuat. Kita contohkan lahan parkir,”tambah Alex. Menurut dia, parkir adalah sektor potensial jika dikelola secara baik, tentu dengan sentuhan digitalisasi. Ini akan memberi kontribusi lebih bagi masyarakat kota ini jika dimaksimalkan.
“Jadi membangun Kota Kupang sebenarnya bisa dari PAD yang dikelola dengan cara-cara yang tepat dan sistem serta teknologi yang memadai. Karena itu jika Kota Kupang mau maju, mandiri maka Bank NTT siap menjadi mitra utama. Tentunya penerapan-penerapan itu di bawah pengawasan OJK dan BI baik dari sisi tata kelolanya maupun sistem teknologinya karena kita harus mendapat ijin persetujuan untuk berbagai pengembangan teknologi dan komitmen kami dari sisi GCG merupakan satu hal yang penting.” (BOY)












