Kupang (MEDIATOR) – Universitas Nusa Cendana (Undana) melalui Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Forum Group Discussion (FGD) Harmonisasi Kurikulum Mikrobiologi Veteriner 2025. Kegiatan nasional ini diinisiasi oleh Asosiasi Mikrobiologi Veteriner Indonesia (AMVI) dan berlangsung selama dua hari, 2–3 Desember 2025, di Hotel Sahid T-More Kupang, dengan menghadirkan para dosen mikrobiologi veteriner dari berbagai Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) se-Indonesia.
FGD ini merupakan langkah strategis AMVI untuk menyelaraskan kurikulum Mikrobiologi Veteriner di seluruh FKH dan Program Studi Kedokteran Hewan di Indonesia. Harmonisasi ini dinilai sangat penting sebagai fondasi utama dalam mendukung sistem Uji Kompetensi Dokter Hewan Nasional berbasis Computer Based Test (CBT) dan Objective Structured Clinical Examination (OSCE).
Rektor Undana yang juga menjabat sebagai Ketua AMVI, Prof. Dr. drh. Maxs U. E. Sanam, M.Sc., secara resmi membuka kegiatan. Dalam sambutannya, ia menegaskan komitmen Undana sebagai bagian dari kawasan timur Indonesia untuk terus berkontribusi dalam penguatan pendidikan veteriner nasional.
“Kami berharap FGD ini menghasilkan rekomendasi yang komprehensif, dapat diterapkan secara merata, dan menjadi dasar penyusunan standar kompetensi nasional di bidang mikrobiologi veteriner,” ungkap Prof. Maxs.
Ketua Panitia FGD, drh. Elisabet Tangkonda, M.Sc., Ph.D., dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah upaya bersama untuk memastikan kompetensi lulusan dokter hewan di Indonesia memiliki standar yang seragam dan kuat. Harmonisasi kurikulum menjadi kunci untuk menjamin kesetaraan kompetensi lulusan agar sesuai dengan kebutuhan nasional.
Sementara itu, dukungan terhadap harmonisasi kurikulum juga datang dari organisasi profesi. Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI), drh. Andi Wijanarko, MM, menekankan bahwa Mikrobiologi Veteriner merupakan pilar utama dalam pendidikan kedokteran hewan.
Menurut drh. Andi, meningkatnya kasus penyakit infeksi, resistensi antimikroba, serta dinamika isu One Health menuntut lulusan dokter hewan memiliki kemampuan analisis laboratorium dan praktik yang kuat. “FGD ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat fondasi pendidikan kedokteran hewan Indonesia,” ujarnya.
Dukungan serupa disampaikan secara virtual oleh Sekretaris Asosiasi Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia (AFKHI), drh. Teuku Reza Ferasyi, M.Sc., Ph.D., yang menekankan pentingnya sinkronisasi materi inti. Ia menambahkan, harmonisasi juga harus memastikan kurikulum adaptif dengan perkembangan global, termasuk isu zoonosis dan teknologi diagnostik modern.
Dekan FKKH Undana, Dr. dr. Christina Olly Lada, M.Gizi, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan AMVI menunjuk Undana sebagai tuan rumah. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki nilai strategis mengingat tuntutan pelayanan dari dokter hewan yang semakin tinggi, baik karena perkembangan alat maupun meningkatnya kebutuhan informasi dan pelayanan dari pecinta hewan.
Kegiatan FGD selama dua hari ini meliputi pemaparan kurikulum dari masing-masing FKH, diskusi intensif, hingga perumusan blueprint awal bank soal CBT/OSCE dan standar capaian pembelajaran (CPMK). Hasil akhirnya diharapkan menjadi dokumen harmonisasi yang dapat digunakan secara nasional. (ref/rls/undana/boy)






