PLN Mediasi Wartawan dari Kupang hingga Jakarta Tinjau PLTP Mataloko, Perkuat Transparansi Energi Hijau

Ekonomi680 Dilihat

Bajawa (MEDIATOR)–PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) mengajak puluhan wartawan dari berbagai media untuk meninjau langsung proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko di Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada.

Kunjungan lapangan pada Jumat (24/10) ini menjadi bagian dari upaya PLN memperkuat keterbukaan informasi publik sekaligus mengedukasi masyarakat tentang potensi energi panas bumi di Pulau Flores yang dikenal sebagai Pulau Panas Bumi. Terpantau media ini, wartawan-wartawan ini tidak saja berasal dari Kupang melainkan sejumlah media nasional.

Wakil Kepala Teknik Panas Bumi PLTP Mataloko, Taufik Iskandar, menyambut langsung para jurnalis dan berharap kunjungan tersebut memberi gambaran nyata tentang progres proyek.

“Kami ingin masyarakat tahu bahwa PLN terus bekerja menghadirkan terang melalui energi bersih,” ujarnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Manager Perizinan dan TJSL PT PLN (Persero) UIP Nusra, Bobby Robson Sitorus, menjelaskan bahwa kunjungan ke PLTP Mataloko merupakan wujud penerapan prinsip transparansi dan keterbukaan yang menjadi landasan PLN dalam berkomunikasi dengan publik, terutama untuk mendukung transisi energi di wilayah Nusa Tenggara.

Baca Juga  Bupati Manggarai dan Ratusan Warga Terdampak Beri Dukungan Pengembangan Geothermal PLTP Ulumbu Unit   5 - 6 Harus Terus Berjalan
Boby Robson Sitorus, ketika memberikan penjelasan kepada media.
Foto: dok

“Kami semua punya tanggung jawab untuk menyampaikan informasi sebenar-benarnya kepada masyarakat. Media adalah mitra strategis dalam membangun pemahaman publik tentang energi panas bumi,” kata Bobby.

Dalam paparannya, Bobby menjelaskan bahwa sekitar 98 persen pasokan listrik di Kabupaten Ngada masih berasal dari luar Kecamatan Bajawa. Padahal, Pulau Flores memiliki potensi panas bumi mencapai 999 megawatt (MW) yang tersebar di 21 titik.

“Satu-satunya energi baru terbarukan (EBT) yang dapat menjadi baseload adalah panas bumi,” ujarnya.

Saat ini, pembangunan infrastruktur pengeboran PLTP Mataloko telah mencapai progres konstruksi sekitar 85 persen, sementara pembangunan jalan akses mencapai 60 persen. PLN menargetkan pekerjaan rampung pada akhir 2025 sehingga mobilisasi peralatan dapat dimulai pada 2026.

Dalam kunjungan tersebut, para wartawan juga meninjau langsung lokasi manifestasi panas bumi di sekitar PLTP. Manifestasi ditandai dengan aroma belerang, lumpur panas, dan suara gemuruh dari bawah tanah—menunjukkan adanya potensi sumber energi panas bumi. Di sekitarnya, lahan pertanian warga tetap tumbuh subur dan produktif.

Baca Juga  Srikandi PLN UIP Nusra Salurkan Bantuan Pangan dan Pendidikan kepada Yayasan Peduli Anak
Seorang petani sayur di lokasi semburan uap air di Mataloko.
Foto: mediator

Para jurnalis berkesempatan berbincang dengan petani lokal, Marselinus Gone, yang tengah mempersiapkan lahan untuk menanam cabai. Ia menegaskan bahwa aktivitas panas bumi tidak memengaruhi kegiatan pertanian warga.

“Buktinya tanaman tumbuh, ternak sehat, air sungai juga baik-baik saja. Tidak ada masalah dengan kesehatan,” katanya.

Warga Desa Ulubelu, Emerensiana Wawo, menambahkan bahwa masyarakat kini justru merasakan manfaat ekonomi dan sosial dari proyek PLTP Mataloko. Menurutnya, PLN selalu membuka ruang dialog dan mendengarkan aspirasi masyarakat.

“Hasil ternak dan sayuran kami tetap subur dan laku di pasar. PLN selalu hadir membantu dan siap melayani kami,” ucapnya.

Baca Juga  PLN Berhasil Kelola FABA Hingga 1,45 Juta Ton Pada Semester I Tahun 2023

Sementara itu, Ketua Adat sekaligus Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Nua Wogo, Yohanes Baghi, menyampaikan apresiasi kepada PLN yang selalu melibatkan masyarakat adat dalam proses pembangunan.

“Kami percaya pemerintah dan PLN sudah memikirkan yang terbaik. Kami sudah merasakan manfaatnya dan siap mendukung program ini,” ujar Yohanes.

Wartawan Mediator Kupang, Stanley Boymau, yang ikut dalam kunjungan tersebut, mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai proyek geothermal di Mataloko.

“Dengan melihat langsung, kami tahu bahwa masyarakat di sini tidak seragam dalam pandangan. Ada yang menolak, tapi kelompok besar justru mendukung karena sudah merasakan manfaat ekonomi dan berharap proyek ini segera selesai,” ujarnya.

General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra, Rizki Aftarianto, menegaskan bahwa pelibatan media dalam kegiatan pengembangan infrastruktur kelistrikan merupakan bagian penting dari strategi PLN membangun komunikasi publik yang sehat dan berimbang.

“Dengan melibatkan media, kami ingin memastikan masyarakat mendapat informasi yang benar dan lengkap tentang apa yang sedang kami kerjakan di Mataloko,” kata Rizki. (RLS/PLN/BOY)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan