DI tangan kanan seorang jenderal, sebuah arloji bukan sekadar penunjuk waktu. Ia menjelma simbol disiplin, keteladanan, dan visi besar tentang masa depan prajurit. Dialah Jenderal TNI Wismoyo Arismunandar, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) periode 1993–1995, sosok yang dikenang bukan hanya karena kebiasaan unik memakai arloji di tangan kanan, tetapi juga karena gagasannya yang melampaui zamannya: perwira TNI AD harus menjadi sarjana.
Wismoyo percaya disiplin adalah napas prajurit. Dalam program back to basic, ia kerap menegaskan bahwa ketepatan waktu mencerminkan kesetiaan, dan kesetiaan adalah jiwa tentara. Arloji yang selalu melekat di tangan kanannya menjadi pengingat visual akan pentingnya waktu dalam dunia militer. Bahkan, setiap kunjungan kerja ke satuan-satuan, ia sering menghadiahkan arloji kepada para komandan sebuah simbol agar disiplin waktu meresap hingga ke lapisan paling bawah.
Kebiasaan ini sempat melahirkan kisah-kisah jenaka. Para perwira mengganti posisi arloji dari kiri ke kanan saat Wismoyo datang, lalu kembali ke kiri setelah ia pergi. Di Mabes ABRI Cilangkap, arloji kembali ke kiri demi menghormati Panglima ABRI Jenderal Feisal Tanjung. Sementara di Mabesad Gambir, arloji kembali ke kanan mengikuti gaya sang KSAD. Sebuah isyarat kecil, namun sarat makna tentang budaya hormat dalam tradisi militer.
Namun warisan terbesar Wismoyo bukanlah arloji, melainkan pendidikan. Meski ia merendah dengan menyebut dirinya “tidak sepintar saudara-saudaranya” secara akademik, justru dari sanalah lahir tekad kuat. Ia ingin perwira TNI AD tidak hanya tangguh di lapangan, tetapi juga kuat secara intelektual. Saat menjabat KSAD, ia mendorong perwira khususnya perwira pertama untuk menuntaskan pendidikan sarjana (S-1) sebelum melangkah ke Seskoad.
Langkah itu bukan sekadar imbauan. Kodam Jaya bekerja sama dengan Universitas Terbuka dan Sekolah Tinggi Hukum Militer. Para petinggi ikut memberi contoh: Pangdam Jaya Mayjen TNI Hendropriyono dan Kasdam Jaya Brigjen TNI Wiranto duduk di bangku kuliah. Wismoyo bahkan membantu biaya studi, menanggung SKS para perwira, dengan harapan suatu hari mereka bisa meraih gelar doktor.
Dari visi itulah lahir generasi perwira berpendidikan tinggi. Salah satunya Kapten Infanteri Andika Perkasa, yang meraih gelar sarjana sebelum Seskoad, menjadi lulusan terbaik, hingga akhirnya menyandang gelar doktor dari Amerika Serikat dan kelak menjabat KSAD. Sebuah bukti bahwa mimpi Wismoyo bukan sekadar idealisme, melainkan fondasi nyata bagi kemajuan TNI AD.
Jenderal Wismoyo Arismunandar wafat pada 28 Januari 2021, dua pekan sebelum genap berusia 81 tahun. Namun jejaknya tetap hidup dalam disiplin waktu para prajurit, dalam semangat belajar para perwira, dan dalam keyakinan bahwa tentara yang kuat adalah tentara yang berilmu.
Sumber : Republika.co.id






