Francisco Cosme de Sousa Gama, Dosen Timor Leste yang Raih Gelar Doktor Manajemen di FEB UKSW

INFO UKSW37 Dilihat

Salatiga (MEDIATOR)–Francisco Cosme de Sousa Gama, seorang dosen dari Fakultas Bisnis Dili Institute of Technology (DIT), Timor Leste, meraih gelar doktor dalam Program Studi (Prodi) Doktor Manajemen (DM) dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) belum lama ini.

Pria berdarah Timor-Leste yang lahir di Ostico 51 tahun yang lalu ini telah melalui berbagai tahapan pendidikan dan pengalaman profesional hingga menjadi lulusan ke-71 Prodi DM FEB UKSW dengan predikat sangat memuaskan.

Meraih gelar sarjana dalam Teknik Mesin di DIT dan gelar magister dalam Manajemen di FEB UKSW, Francisco telah menggali pemahaman yang mendalam yang menjadi dasar kuat bagi karirnya di berbagai bidang. Mulai dari menjadi Teknisi Listrik, Trainer hingga Pro-Rektor Perencanaan, Kerjasama Eksternal, dan Pengembangan, dan pengalaman internasional sebagai perwakilan DIT di Australia.

Baca Juga  Dua Profesor Kelahiran NTT di Panggung UKSW, Dampingi Rektor Intiyas Tandatangan Kerja Sama dengan KPU RI

Pada gelaran Yudisium Doktor Manajemen yang dijalaninya, ia memaparkan disertasinya yang berjudul “Meningkatkan Ketahanan Organisasi Melalui Kepemimpinan Berbasis Hubungan Maun-Alin: Solusi untuk Mengatasi Mismatch Undereducated” di Ruang Probowinoto, Gedung G.

Gelaran Yudisium Doktor Manajemen yang dipimpin oleh Dekan FEB Dr. Yefta Andi Kus Noegroho, S.E., M.Si., Akt., ini dihadiri oleh Promotor Prof. Christantius Dwiatmadja, S.E., M.E., Ph.D., dan Co-promotor Prof. Dr. Gatot Sasongko, S.E., M.Si., serta Dr. Yefta Andi Kus Nugroho. Adapun 2 penguji yang turut hadir yaitu Prof. Ir. Lieli Suharti, M.M., Ph.D. dan Prof. Dr. Agus Sugiarto, S.Pd., M.M.

Foto bersama Francisco Cosme de Sousa Gama setelah melalui gelaran Yudisium Yudisium Doktor Manajemen FEB UKSW belum lama ini.
Foto: Humas UKWS/Mediatorkupang.com

Pemberdayaan yang Menguntungkan

Dalam disertasinya, Francisco menggali filosofi pemberdayaan menurut Paulo Freire, dengan fokus pada pendidikan sebagai instrumen pembebasan individu dari ketidaksetaraan. Penekanannya pada refleksi personal dan kesadaran kritis sebagai landasan pemberdayaan individu mencerminkan komitmennya terhadap pengembangan manusia secara holistik.

Baca Juga  Ternyata Asyik Kuliah di UKSW Salatiga, Setiap Tahun Fasilitasi Rp 20 M Beasiswa Bagi Ribuan Mahasiswa

Disertasinya menyoroti pentingnya pemberdayaan dalam meningkatkan kinerja dan kesuksesan organisasi secara keseluruhan. Konsep delegasi tanggung jawab, kolaborasi, pengakuan kinerja, pendampingan pimpinan, dan pengembangan belajar mandiri menjadi inti strategi pemberdayaan yang dikaji oleh Francisco.

Studinya juga menggali dinamika pemberdayaan dalam konteks mismatch undereducated, dengan pendekatan Maun-Alin. Dalam kerangka ini, individu dengan pengetahuan terbatas berperan sebagai Alin, menerima bimbingan dan dukungan dari Maun yang memiliki tingkat pengalaman yang lebih tinggi.

“Pendekatan Maun-Alin memfasilitasi pemberdayaan yang saling menguntungkan di mana Alin mendapat manfaat dari bimbingan, motivasi, dan sumber daya baru. Sementara Maun juga merasakan kepuasan membantu individu lain dalam pertumbuhan bersama,” ungkapnya.

Menurut hasil disertasinya, hal ini menciptakan lingkungan inklusif dan mendukung di mana individu dengan pengetahuan terbatas didorong dan didukung untuk terlibat dalam pembelajaran dan pengembangan diri, membuka jalan bagi anggota tim untuk mengatasi ketidaksesuaian pendidikan dengan memanfaatkan hubungan kolaboratif yang saling mendukung. (RLS/HUMAS-UKSW/KJR)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *