“Tenunan Kami Dipakai Wakil Presiden, Terimakasih Bank NTT”

Ekonomi63 Dilihat

APLONIA Asnat F. Banu. Dia seorang perempuan paruh baya, yang merantau ke Kupang pada 2001 lalu, mengikuti suaminya mengadu nasib di Kota Kupang. Saat itu, Kupang adalah sebuah lingkungan baru baginya, dan dia sedikit canggung. Berbekal ilmu yang sudah diperolehnya sejak berusia tujuh tahun, dia nyaman dengan profesi ini. Menenun.

Peralatan menenun dibawanya dari Desa Nasi Kecamatan Amanatun Utara Kabupaten TTS, sebuah desa yang jaraknya ratusan kilometer dari Kota Kupang. Sambil menanti sang suami mencari nafkah, dia terus menenun. Hanya itu keahlian yang dimilikinya.

Siapa sangka, kesabaran ini membuahkan hasil. Kecintaannya pada dunia menenun, membuatnya percaya diri untuk mengajak ibu-ibu yang juga memiliki hoby yang sama di Kelurahan Manutapen untuk bergabung dalam satu kelompok. Nama kelompoknya pun mencirikan mereka menjunjung tinggi hukum Kasih sesuai ajaran yang diimaninya. Nasrani.

Nekmese, yang dalam terjemahan bahasa Indonesianya ‘Satu Hati’. Itulah kata yang dipilih sebagai nama kelompok. Mungkin saja mereka memakai kata ini agar nantinya mempersatukan mereka apabila di suatu hari nanti usahanya menjadi besar, maka mereka tetap mengingat bahwa dalam kondisi apapun harus satu hati.

Baca Juga  CSR Bank NTT untuk Rumah Ibadah di Kalabahi, Gembala Umat Mengaku Ini Berkat Tak Terduga

Saat sang suami bermandikan peluh menjadi sopir angkutan kota, Aplonia bersama belasan sahabatnya terus menenun. Niat mereka sudah bulat, kelompok Nekmese ini jangan bubar, harus terus berproduksi. Syukurlah, pada 2021 lalu, saat Bank NTT menggelar Festival Desa Binaan, maka Kantor Cabang Utama (KCU) Kupang melirik mereka.

Berbagai pendekatan dilakukan, dihadirkanlah sebuah tempat usaha baru yang lumayan mewah. Ada lemari pajangan yang sudah kekinian, serta sejumlah fasilitas pembayaran yakni layanan QRIS serta layanan lainnya. Produk mereka pun sudah dijual di pasar online.

Alangkah bahagianya mereka.

“Kami bersyukur karena Bank NTT mendampingi usaha kami dengan Lopo Dia Bisa Nekmese. Kami berharap agar kami terus didampingi karena jika tidak, kami akan kesulitan penjualan, apalagi sekarang COVID, penjualannya susah,”tutur Aplonia polos.

Saat ditemui di pusat penjualan hasil tenunan kelompok Nekmese di Manutapen, Aplonia dengan bangga menunjukkan satu persatu hasil tenunan mereka. Dipajang rapih, bahkan tak sedikit yang sudah laris terjual. “Ini tinggal sedikit saja pak,”ujarnya sambil menunjuk aneka motif tenunan yang dipajangnya.

Baca Juga  Berawal dari 10 Orang, Kini Agen Di@ BISA Bank  NTT Tembus 7.000an Member

Yang membanggakan dari kelompok ini adalah, mereka terbuka dengan semua suku. Malah dari 18 orang anggota kelompok, hampir semua suku ada disana. Dan mereka melakoni tugasnya penuh ceria. “Kami saling mendukung,”tegasnya.


Wapres Ma’ruf Amin saat diwawancarai Dedy Corbuzier
Foto: Capture Podcast Corbuzier

Jacket Wapres Motif Berkelas Tinggi

Karena menjadi kelompok binaan Bank NTT KCU Kupang dalam Festival Desa Binaan itulah, Kelompok Nekmese ini menjadi duta pelaku UMKM tenunan untuk mendisplay produk tenunannya di rumah jabatan gubernur NTT, September lalu saat Wapres K.H Ma’ruf Amin dan sejumlah menteri berkunjung ke Kupang. Hasil tenunan terbaik, mereka bawa kesana. Beberapa manekin dipakaikan jacket bomber bermotif khas Ayotupas. Dan saat melintas itulah, Wapres Ma’ruf jatuh hati pada hasil tenunan Aplonia. Tak segan-segan, Wapres memesan dua.

“Kami senang sekali, Wakil Presiden pakai hasil tenunan kami. Kami tidak pernah bayangkan,”ungkap Aplonia lirih. Ternyata motif jacket yang dipilih Wapres itu bukan sembarang motif. Itu adalah motif kelas yang paling tinggi dari masyarakat adat dawan Timor Ayotupas. “Yang beliau pilih itu adakah motif khusus yang biasa dipakai oleh orang-orang penting, dan nama motifnya orang ternama atau Atoni Naek,”tambahnya lagi.

Baca Juga  Dubes RI untuk Australia Salut dan Bangga, Bisa Menikmati Coklat Asli Asal Sumba dan Malaka

Asal tahu saja bahwa motif tenunan yang disebut Aplonia, adalah tenunan dengan corak berbentuk manusia dengan kedua tangan menjulur ke atas dan kedua kaki yang terbuka. Atoni Naek atau pejabat inilah yang sering mengenakan motif itu karena dalam filosofi ketimuran, hanya pemegang kekuasaan atau orang terpandang sajalah yang diperkenankan.

Walau kemudian terjadi pergeseran tradisi sehingga siapapun bisa mengenakannya.

Pewarnaan yang digunakan seluruhnya diambil dari alam, seperti tarum, daun jati, serta kunyit dan beberapa lainnya. Yang membuat tenunan jenis ini bernilai mahal karena bahan yang digunakan kini sulit dicari. Tak pelak, selembar kain bisa diberi harga dari Rp. 2 juta hingga Rp 7 juta. Tergantung ukuran dan coraknya.

“Namun karena Covid, harganya merosot,”ujar Aplonia menambahkan, sebulan mereka hanya mampu menghasilkan satu kain teunan yang menggunakan pewarna alam. Beda jika mereka menggunakan pewarna dari toko, tinggal celup lalu selesai. Sebulan bisa dua hingga tiga lembar kain mereka hasilkan. “Sejauh ini kami fokus menenun kain bermotif Timor, lalu kami distribusi ke beberapa mitra kami. Dari sinilah kami bisa menghidupi keluarga,”ungkapnya. (stenly boymau)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *