“PLN Berkontribusi Lebih dari yang Kami Bayangkan di  Zona Ring 1 PLTP Mataloko”

Ekonomi383 Dilihat

ADA yang menarik ketika rombongan kami mengunjungi Kampung Adat Nuwa Wogo yang lokasinya tak jauh dari trans Ende-Bajawa, Jumat (24/10) siang. Secara administratif, kampung ini berbatasan langsung dengan PLTP Mataloko. Ada lima desa yang merupakan zona ring 1, dan Wogo adalah salah satunya.

Di kampung Wogo inilah, siapa saja bisa menemukan jejak kaki PT PLN UIP Nusra. Lembaga ini tidak saja fokus pada pengembangan PLTU Mataloko, melainkan mereka menunjukkan kepeduliannya pada masyarakat adat sekitar. Melalui program TJSL, PLN menghadirkan tidak saja akses parkiran yang tertata rapi, melainkan gerbang, pelataran jalan, hingga MCK dan saluran air. Jejeran rumah adat dengan konstruksi khas berbahan baku kayu dan bambu ini, sekarang sudah bisa dijadikan sebagai homestay bagi para pengunjung.

Kampung Nua Wogo jika diabadikan dari atas.
Foto: PLN

“Terimakasih PLN, sudah membawa terang bagi desa kami,”demikian pengakuan tulus seorang perempuan paruh baya yang juga menjadi salah satu dari enam penari. Mereka mempersembahkan tari-tarian diiringi gong, ketika rombongan PLN UIP Nusra maupun para jurnalis yang melakukan site visit ke PLTP Mataloko, mampir ke kampung adat mereka.

Diakui, dulu kampung adat ini tidak ramai, bahkan terkesan tidak tertata. Kini kondisi sudah berbalik 100 persen.

Baca Juga  Geothermal Adalah Anugerah: Warga Desa Ulubelu 'Jadi Fondasi Pengembangan PLTP Mataloko

Wajah penduduk kampung adat pun tidak cemberut lagi. Mereka pun sudah bisa melakukan beberapa pekerjaan ketika malam tiba. Karena sudah terang benderang. Jangan dianya soal sanitasi, karena kondisinya sudah sangat berubah.

“Kami berterimakasih kepada PLN atas banyak kepeduliannya pada kampung adat kami. Yang dilihat saat ini adalah hasil karya kita bersama, rumah-rumah, listrik, serta berbagai fasilitas,”tegas Hans Naghi, tetua adat setempat dalam sambutannya ketika menerima rombongan PLN. Dia mengakui, banyak manfaat yang mereka dapatkan ketika PLN melayani mereka. Kampung adat mereka sudah jauh berbenah.

Foto bersama seusai visit. Foto: PLN

“Kami syukuri dengan kehadiran PLN khususnya kami di Wogo beberapa tahun terakhir, ada CSR yang kami dapatkan. Ini kampung adat yang kelestariannya memang harus kami jaga dengan kuat dan ini membutuhkan banyak dukungan dan dukungan yang kami rasakan ini datang dari PLN,”ungkapnya menambahkan selama ini mereka hanya dibantu dengan donasi ala kadarnya dari pengunjung.

Namun ketika PLN hadir, mereka dibantu pertama kali dibantu lampu di pelataran parkir dan tempat pemakaman warga. Selanjutnya ada gazebo dan sejumlah fasilitas publik lainnya.

Gerbang masuk ke kampung Nua Wogo. Foto: PLN

Di tahun 2025 ini, mereka membangun kantor serta lapak UMKM untuk tempat jualan ibu-ibu. Jika saat ini hanya sedikit yang berjualan, diakuinya wajar karena mereka sedang melaksanakan berbagai kegiatan sosial di sejumlah tempat dan setelah selesai baru kembali berjualan.

Baca Juga  Masyarakat Kini Mudah Beli Motor Listrik Berkat Sinergi PLN dan Himbara

“Mohon dimaklumi karena baru pemula,”tegas Hans yang pernah berprofesi sebagai sopir di Kupang ini.

Dia mengucapkan terimakasih kepada PLN yang sudah membantu mereka selama ini. Bahkan dia berharap agar kedepan, mereka masih bermitra lagi dengan PLN. Apalagi sedang ada pembangunan infrastruktur penunjang PLTP Mataloko. Dia berharap ada warga mereka yang terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan bangunan.

Tamu menapaki jalan setapak di kampung adat.
Foto: PLN

“Kami sangat berharap kerjasama ini bahwa kedepan kita saling mensupport. Dan kami pun ikut serta dalam berbagai aksi menjaga alam kami,”ujar Hans menambahkan “Sebagai masyarakat adat yang mempunyai kampung, saya berharap dukungan dari PLN agar terus bersama-sama. Kami akui, selama ini Pak Bobby yang selalu membantu kami.” Yang dia maksudkan adalah Manager Perijinan dan Komunikasi PT PLN UIP Nusra, Boby Robson Sitorus.

Lalu bagaimana reaksi PLN terhadap pengakuan masyarakat adat tersebut? Boby berterus terang bahwa akan ada bonus produksi ketika PLTP Mataloko sudah beroperasi. Dan ini sudah diatur dalam regulasinya tersendiri. Ketika itu sudah ada, tentu PLN akan menyerahkannya ke Pemda sehingga masyarakat diminta untuk berkomunikasi secara baik karena sejatinya dana itu akan dialokasikan 70 persen kepada masyarakat yang terdampak, atau mereka yang berada di zona Ring 1 PLTP Mataloko. Dia juga berterimakasih kepada warga untuk kerjasamanya selama ini.

Baca Juga  Bank NTT Miliki Direktur Kepatuhan, Dirut Alex: Jaga Predikat Sebagai Bank Sehat

“Terimakasih buat kerjasamanya selama ini,”pungkasnya.

Hal senada dipertegas Agradi Aryatama, selaku officer komunikasi dan TJSL PLN UIP Nusra. Kepada media ini, dia menjelaskan bahwa sejauh ini PLN sudah membangun MCK dan kamar mandi di kampung adat, jaringan perpipaan untuk air bersih, perbaikan panggung, gerbang selamat datangm serta tiga buah gazebo. PLN juga mensupport masyarakat adat untuk membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sehingga kedepan merekalah yang berada di barisan terdepan dalam rogram-program bernuansa  pariwisata. PLN juga membantu pembersihan jalan menuju ke lokasi kampung lama serta fasilitas-fasilitas lainnya untuk membuat para wisatawan merasa nyaman.

“Kami juga melaksanakan pelatihan aneka produk berbahan baku bambu untuk oleh-oleh juga pelatihan untuk promosi ataupun berjualan di sosial media,”ungkapnya. Siang itu menjadi sebuah momentum penuh reflektif bagi semua, ternyata warga terdampak dari pelaksanaan program strategis nasional di bidang kelistrikan ini, merasakan dampak positif dari kehadiran PLN. “PLN Berbuat Lebih dari yang Kami Bayangkan.” (stenly boymau)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan