Mahasiswa Psikologi UKSW Raih Juara II Nasional, Usung Isu Seksisme di Media Sosial

INFO UKSW397 Dilihat

Salatiga–Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Gesry Shielda Surenayu, mahasiswa Program Studi Psikologi, berhasil meraih Juara II dalam ajang Indonesian Student Essay Forum (ISEF) 2026 yang diselenggarakan oleh Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia (ILMPI) pada 23 Maret hingga 8 April 2026.

ISEF 2026 merupakan kompetisi esai nasional bergengsi yang diselenggarakan oleh ILMPI dengan mengangkat tema “Internalized Sexism dalam Era Kesadaran Gender.” Kompetisi ini diikuti pelajar SMA/SMK hingga mahasiswa dari berbagai institusi di seluruh Indonesia dengan jumlah peserta mencapai lebih dari 90 orang, menjadikannya ajang yang kompetitif sekaligus relevan terhadap isu sosial masa kini.

Dalam ajang tersebut, Gesry mengangkat subtema “Internalized Sexism dalam Pola Pikir dan Pengambilan Keputusan” melalui esai berjudul “Menghancurkan Sipir Pikiran: Dekonstruksi Seksisme Terinternalisasi di Media Sosial Melalui Kesadaran Kolektif Perempuan.” Tulisannya menghadirkan refleksi kritis sekaligus empatik terhadap realitas yang kerap luput disadari, khususnya mengenai cara perempuan tanpa sadar mengulang pola saling menghakimi di media sosial.

Baca Juga  Perkuat Ekonomi Desa, FEB UKSW Adakan Akademi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)

Melalui tulisannya, Gesry menyoroti fenomena yang dekat dengan kehidupan sehari-hari yaitu bagaimana perempuan, tanpa disadari, dapat saling melukai melalui komentar, perbandingan, hingga sikap merendahkan di media sosial. Ia melihat bahwa semangat women empowerment yang seharusnya menjadi ruang saling menguatkan, justru kerap berubah menjadi arena kompetisi yang penuh tekanan sosial.

“Kadang perempuan tidak sadar bahwa mereka sedang mengulang pola yang sama, menilai, membandingkan, bahkan menjatuhkan. Padahal seharusnya kita bisa saling mendukung,” tuturnya.

Bagi Gesry, menulis bukan sekadar menyampaikan gagasan, melainkan bentuk kepedulian. Ia ingin menghadirkan kesadaran bahwa perubahan dapat dimulai dari cara pandang bahwa perempuan tidak perlu saling berhadapan, tetapi bisa berjalan berdampingan.

Suara Berdampak

Capaian ini pun datang dengan cerita yang sederhana namun bermakna. Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa dan aktivitas lainnya, Gesry mengaku sempat meragukan dirinya. Bahkan, esai tersebut diselesaikan dalam waktu yang sangat terbatas menjelang batas pengumpulan.

Baca Juga  Mengarungi Sejarah Air di Forum Air Sedunia: Menyelami Warisan Indonesia

“Saya sempat ragu, tapi saya mencoba tetap menulis. Saya percaya tulisan ini bukan hanya untuk saya, tetapi untuk perempuan lain,” ungkapnya.

Perjalanan Gesry bukanlah langkah yang tiba-tiba. Mahasiswa asal Serukam, Kalimantan Barat ini telah menunjukkan konsistensinya melalui berbagai prestasi, termasuk sebagai The Most Outstanding Student UKSW 2024–2025, 2nd Place in the Best Presentation NUNI Presidential Forum & Student Camp Programme 2025, dan penerima Beasiswa Djarum Plus. Namun, di balik deretan capaian tersebut, ia tetap melihat prestasi sebagai sarana untuk memberi dampak, bukan sekadar pengakuan.

Lingkungan UKSW pun menjadi ruang yang menumbuhkan semangat tersebut. Dukungan dari dosen, teman, dan atmosfer akademik yang terbuka memberi ruang bagi Gesry untuk terus berkembang dan berani menyuarakan gagasannya.

Ke depan, ia ingin terus menulis, khususnya tentang perempuan. Bagi Gesry, tulisan adalah cara untuk merawat empati dan menghadirkan perubahan kecil yang berarti.  Di ujung refleksinya, ia meninggalkan pesan sederhana namun kuat yaitu bahwa setiap tulisan adalah jejak. “Ini bukan akhir. Tetap bersuara untuk memberi dampak. Tulisanmu adalah memoar indah, bukan hanya bagi dirimu, tetapi juga bagi orang lain,” tutupnya.

Baca Juga  RTIK Kota Salatiga Bersama FTI UKSW Sukses Gelar Roadshow Internet Sehat Sambangi SMP Negeri Se-Kota Salatiga 

Melalui capaian ini, UKSW turut mendukung SDGs ke-4 Pendidikan Berkualitas, SDGs ke-16 Perdamaian dan Keadilan, serta SDGs ke-17 Kemitraan, sekaligus sejalan dengan Asta Cita poin ke-4 dalam penguatan sumber daya manusia dan pendidikan, serta poin ke-8 dalam membangun harmoni sosial dan sikap saling menghargai.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 64 program studi di jenjang D3 hingga S3 dengan 36 prodi terakreditasi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat.  (RLS/UKSW/BOY)

Jangan Lewatkan