Karya Nyata Pelayanan Serena Francis, Hadirkan Rumah Harapan bagi Pekerja Migram di Batam

Public Service554 Dilihat

BATAM — Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, bersama Majelis Jemaat GMIT Eklesia Kota Batam menginisiasi pembangunan Graha GMIT Eklesia Batam sebagai rumah aman, tempat pemulihan, dan pusat pemberdayaan pekerja migran Indonesia. Peletakan batu pertama dilaksanakan pada 1 November 2026 di Batam.

 

Wakil Ketua Sinode GMIT, Pdt. Sanep Blegur, menyampaikan bahwa pembangunan graha merupakan wujud pelayanan kasih gereja bagi mereka yang membutuhkan perlindungan dan pendampingan.

 

“Kami mengapresiasi inisiatif Ibu Serena Francis bersama Majelis Jemaat GMIT Eklesia Kota Batam. Kita berharap rumah ini menjadi tempat saudara-saudara kita diterima, dipulihkan, dan dikuatkan untuk kembali membangun kehidupan,” ujarnya.

Baca Juga  Warga Berterimakasih, Kolaborasi Pemkot-Polantas Mengurai Kemacetan

 

Urgensi pelayanan tersebut tergambar dalam data Lembaga Jaringan Safe Migran. Jumlah penanganan meningkat dari 164 pada 2024 menjadi 448 pada 2025, atau sekitar 173 persen.

 

Pembangunan dan kelengkapan graha direncanakan membutuhkan sekitar Rp5,27 miliar, dengan luas bangunan 1.033 meter persegi. Fasilitasnya meliputi dormitori perempuan dan laki-laki berkapasitas total 56 orang, ruang konseling dan administrasi, ruang pembinaan dan belajar, ruang makan, pantry, serta area rekreasi sederhana.

 

Graha juga direncanakan memiliki 12 kamar guest house berkapasitas 24 orang, lobi, area komunal, dan taman tengah. Hall multifungsi dirancang menampung 200 peserta ibadah, 150 peserta seminar, atau 100 peserta pelatihan, sesuai pengaturan kegiatan.

Baca Juga  "Saya Sudah Berusia 25 Tahun, Sangat Siap Terjun ke Politik"

 

Serena Francis, saat dihubungi, menegaskan komitmennya untuk mendukung terwujudnya graha dengan melibatkan Pemerintah Kota Kupang dan jejaring mitranya. Graha diharapkan menjadi rumah persaudaraan bagi pekerja migran, termasuk mereka yang kembali melalui Batam dari Malaysia dan Singapura.

 

“Bersama Majelis Jemaat GMIT Eklesia Kota Batam, kami ingin menghadirkan tempat yang aman bagi saudara-saudara yang menghadapi kesulitan di perantauan. Melalui pendampingan dan pelatihan, kita berharap mereka dapat pulang dengan harapan serta kesiapan untuk hidup mandiri,” kata Serena.

 

Pelayanan graha akan bertumpu pada empat pilar, yakni rumah aman, pusat pemberdayaan, pusat pembinaan jemaat, dan pusat budaya Indonesia Timur. Pdt. Sanep berharap kebersamaan berbagai pihak dapat menopang pembangunan sekaligus keberlanjutan pelayanannya.

Baca Juga  Wawai Serena dan DPRD Tekankan Sinergi dan Kebijakan yang Berpihak kepada Masyarakat

 

Gagasan pembangunan Graha GMIT Eklesia Batam turut mendapat dukungan Deputi BP Batam, Fary Francis; anggota DPR RI, Saraswati Djojohadikusumo; Pemerintah Kota Batam; serta Pengurus PGI Wilayah Kepulauan Riau. Mereka mengajak dunia usaha dan pemangku kepentingan lainnya bergotong royong mendukung pembangunan serta pelayanan graha sebagai rumah pemulihan dan harapan bagi pekerja migran Indonesia. (BOY)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan