KADIN Sebut Pengusaha akan Lebih Waspada Berekspansi Pada 2023

Ekonomi1425 Dilihat

Jakarta (MEDIATOR) – Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri Shinta Kamdani menyebut bahwa pelaku usaha akan lebih waspada dalam berekspansi atau mengembangkan usaha di 2023 untuk mewaspadai risiko resesi global.

“Sebenarnya kita optimis tapi tetap berhati-hati. Kalau ekspansi dan lain-lain, kita mesti lihat demandnya, pasarnya, dan lain-lain yang penting sekarang di perusahaan cost itu tidak mempengaruhi efisiensi,” kata Shinta dalam Bincang Bersama BKPM, Bappenas, dan KADIN di Jakarta, Selasa seperti dikutip ANTARA.

Adapun investasi pada sektor-sektor ekonomi yang sudah menerapkan prinsip tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) diprediksi akan tetap tumbuh ke depan karena Indonesia masih memiliki potensi yang belum dioptimalisasi.

Baca Juga  Sementara Berlangsung, KKB On The Street Bank NTT Ramai Dikunjungi
Direktur Bidang Perencanaan dan Penanaman Modal Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indra Darmawan, Wakil Ketua Umum KADIN Shinta Kamdani, Koordinator Koalisi Ekonomi Membumi Lishia Ezra, dan Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas Anang Noegroho dalam Bincang Bersama BKPM, Bappenas, dan KADIN di Jakarta, Selasa (25/10/2022). (ANTARA/Sanya Dinda)

“Perekonomian Indonesia diproyeksikan akan lebih baik dari negara lain, termasuk di area tertentu seperti kendaraan listrik, itu mungkin akan terus jalan,” katanya.

Investasi di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara juga akan terus berlanjut karena pembangunannya menerapkan konsep smart city yang sesuai dengan prinsip SDGs.

“Selama kita bisa menjustifikasi permintaan, pasar, dan siapa saja yang akan pindah, saya rasa investor akan mau berinvestasi, apalagi kalau kita fokus ke investasi yang berkelanjutan,” ucapnya.

Sementara itu, ke depan sektor padat karya diperkirakan akan banyak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sebagaimana sektor start up.

“Jadi padat karya untuk dipertahankan karyawannya itu sulit. Bahkan mereka berupaya untuk tidak melakukan PHK, tapi sekali lagi ini sulit karena permintaan dan pasarnya menurun signifikan, jadi mereka banyak melakukan efisiensi,” ucapnya. (ANTARA/BOY)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan