Jumat Agung Gubernur di Paroki Jerebuu, ‘Wakil’ Tiga Agama yang Khusuk; Jangan Patahkan Salib di Perjalanan

Polkam32 Dilihat

mediatorstras.com,

Jumat Agung (15/4/2022) yang special dan menginspirasi. Di moment sakral ini, NTT mempertegas posisinya sebagai provinsi yang menjunjung tinggi toleransi. Benar.
Toleransi di provinsi ini bukan baru sekarang. Melainkan sudah sejak lama.
Beraneka resonansi intoleran tak mampu menggeser posisinya.
NTT tetap NTT, sebagai Nusa Terindah Toleransi.
Tepat Pukul 15.00 Wita, misa Perayaan Jumat Agung di Gereja Paroki St. Paulus, Jerebuu, Kabupaten Ngada, dimulai. Satu jam sebelumnya, ratusan umat dari berbagai stasi mulai berdatangan memasuki halaman Paroki.
Tak terkecuali Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, Bupati Ngada, Paru Andreas bersama rombongan besar yang dibawa gubernur. Ada sejumlah staf khusus yakni Prof. Daniel Kameo, DR. Imanuel Blegur, Bertol Badar serta Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho dan sejumlah Kepala Divisi.
Ada yang menarik. Dalam misa yang khusuk itu, hadir satu atap dengan tiga ratusan bahkan mungkin lebih umat, sejumlah umat yang bukan beragama Katholik.
Ada Gubernur Viktor yang adalah umat Kristen Protestan, lalu Nur Fauzi, Komisaris Perhutani, yang beragama Islam. Ketiganya boleh mewakili kekayaan religius di NTT bahkan Indonesia.
*
Empat orang Mudika, ajuda pembawa lilin, memegang erat lilin berukuran besar, lalu membawanya kedepan. Mereka berjubah merah menyala.
Persis di depan, berjalan lebih dahulu, Pater Patrisius Pah, SVD sambil memegang salib berukuran sekira 50 Cm. Dengan Yesus yang masih tergantung, digenggamnya erat dan dengan perlahan dibawanya salib itu maju kedepan. Tiba di depan altar, perlahan Pater Patris, demikian disapa, berhenti lalu setengah berlutut, dia menaruhnya pada sebuah tempat yang sudah disiapkan.
*
Suasana benar-benar hening.
Tak ada satupun yang menoleh. Semuanya fokus kedepan. Gubernur Viktor beberapa saat menatap kedepan tak berkedip, sempat tertunduk. Walau sejenak.
Kedua tangannya bertemu erat.
Kakinya yang tertutup selimut berwarna hitam khas Ngada, kaku.
Jumat Agung yang sakral, umat tertegun, mengikuti setiap detik prosesi dalam gedung berkapasitas seribu orang itu.
Pun saat berdoa, sosok yang kerab disapa Panglima itu pun tertunduk.
Hanya dia dan Sang Khalik yang tau apa yang ditiraskannya saat itu. NTT sedang digumulinya. Masih banyak yang harus dia kerjakan, mewujudkan narasi mimpi menjadikan NTT bangkit dan sejahtera.
Di tahun keempat, publik mulai menagihnya. Bagi yang melek informasi, tidak masalah karena narasi-narasi keberhasilan mulai dikumandangkan.
Jalan provinsi yang sudah mulus, jumlahnya tidak main-main. Sudah 1050 Km, melebihi prestasi Daendels yang membangun jalan Anyar-Panarukan, hanya 1000 Km. Belum lagi puluhan ribu hektar jagung jenis Hybrida Betras7 yang sudah dipanen, menyusul lainnya.
Namun bagi yang tidak melek informasi, ini yang masih harus digumuli, bagaimana cara meyakinkan mereka.
Sudahlah…
Duduk di sampingnya, Bupati Andreas pun sama. Matanya tak berkedip menatap tiap tahap prosesi. Tangannya ditaruh di dada, badannya dimajukan.
Nur Fauzi yang berbelangkon batik coklat, pun mengikutinya. Ketiga tokoh ini duduk pada sebangku panjang. Di barisan paling depan. Di deretan kedua, duduk para staf khusus dan pimpinan OPD.
*
Pater Patris dalam homilinya dengan thema Yesus Cinta akan Salib, menekankan mengenai momentum peristiwa iman, bahwa Yesus rela disalib karena ada alasan, keselamatan. Yesus ditinggikan dan dimuliakan oleh Sang Bapa melalui salib.
“Yesus mencintai salib karena Dia sadar, itulah kehendak Bapa pada DiriNya. Itulah misiNya. Kita dipanggil untuk mencintai salib tidak sekedar menanggung penderitaan kita dengan pasrah,”tegas Pater Patris sembari mengisahkan sebuah ilustrasi tentang seorang Kristen yang dipanggil bersama beberapa orang lainnya untuk memikul salibnya menuju kota kebahagiaan.
Karena salib yang berat membuat orang pertama memotong salibnya agar terasa ringan. Setibanya di kota itu, ternyata ada jurang yang dalam. Beberapa orang menaruh salibnya di jurang dan berhasil menyeberang, tersisa satu orang yang tidak dapat menyeberang karena salibnya terlalu pendek, sudah dia potong.
Tak sedikit orang Kristen yang demikian. Mereka rela memotong salibnya hanya karena urusan duniawi. Mestinya taat menanggung beban hingga tujuan.
Masih dalam homilinya, Pater Patris mengajak umat menoleh ke model pelayanan Gubernur Viktor yang keluar masuk kampung seolah tak pernah lelah.
“Getaran dan gerakan yang sama membuat pimpinan kita berjalan masuk keluar desa. Dengan tekad sejahterakan rakyat miskin, sederhana, mulai dari desa-desa. Saudaraku terkasih, dipanggil untuk mencintai salib, berarti dipanggil ikut berbela rasa dengan kaum miskin dan tertinggal,”ujarnya.
Pada momentum ini dia mengajak semua, agar terus memandang salib sebagai lambang pembebasan, keselamatan, kegembiraan.
Dan tabah memanggul salib adalah deposito rohani jaminan keselamatan abadi.
“Kristus bersabda, pikullah salibmu dan ikutlah Aku. Bukan potonglah salibmu dan ikutlah Aku,”tutupnya. (stenly boymau)

Baca Juga  Demonstran Langgar Prokes, IARMI Minta Polda NTT Tegas

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *