KUPANG—Pemerintah Kecamatan Oebobo mewajibkan kepada seluruh kelurahan di wilayah mereka untuk menghadirkan bank sampah baik itu di kantor kelurahan maupun rumah warga. Sejauh ini Kelurahan Liliba sudah memulai, tinggal enam kelurahan lainnya.
Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban (Kasie Tramtib) Kecamatan Oebobo, Budi Imanuel Izaac kepada media ini di ruang kerjanya, Jumat lalu menjelaskan bahwa dia ditugaskan oleh Camat Oebobo untuk menjadi ‘komandan’ dalam pembentukan bank sampah di wilayah kecamatan tersebut.
“Kebetulan bank sampah itu ditugaskan ke saya. Syukur karena Kasie PMK kecamatan juga mantan lurah Namosain dimana bank sampah mereka sama-sama kami urus. Semua lurah sudah diwajibkan jntuk membuat bank sampah kecuali Liliba karena mereka sudah berjalan. Kini tinggal enam kelurahan lain,”tegas Budi menambahkan, bank sampah Kelurahan Oebobo sedang berprose dan atas atensi pak camat, bank sampah kelurahan ini nanti berlokasi di kantor kecamatan karena ada bangunan kosong disana.
“Mereka sudah bersihkan lokasinya dan saya sudah koordinasikan dengan lurah. Dalam waktu dekat mereka akan soft launching bank sampahnya. Memang beberapa lurah sudah koordinasi dengan kita dan apa yang diharapkan dari Pak Walikota agar bank sampah sudah bisa berjalan. Saya sudah bertemu dengan semua lurah untuk ini,”ujarnya.
Ketika bertemu para lurah, mereka mengakui bahwa di beberapa lokasi, sudah ada bank sampah yang dimotori oleh warga namun baginya, alangkah baiknya pemerintah juga menginisiasi satu sehingga nantinya pemerintah hadir sebagai pioner.
“Mereka memahaminya. Kita harus memahami bahwa sampah ini jika tidak diurus, akan menjadi masalah di kemudian hari. Makanya diurus sejak masih kecil. Di bank sampah ini, kita bentuk pengurusnya, cari orang yang benar-benar peduli lingkungan. Libatkan mereka karena mereka bekerja tanpa syarat, karena modalnya peduli,”tegas Budi. Dia memberi testimoni ketika memimpin di Naikoten I, bank sampah disana sudah berusia satu tahun lebih, dan sudah berjalaan baik.
“Warga dengan kesadarannya sendiri datang membawa sampah. Mereka sadar benar bahwa sampah itu bernilai uang. Jika tidak dimanfaatkan, rugi. Sehingga mereka mulai mengumpulkan sampah-sampahnya, sampai di kantor lurah sebagai lokasi bank sampah baru mereka pilah,”ujar Budi. Bank sampah ini sudah mampu menghasilkan uang sendiri untuk operasional staf. (BOY)






