Kupang (MEDIATOR)- Guna menghadapi musim tanam periode Oktober – Maret, Dinas Oertanian Provinsi NTT menggandeng Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG ) guna memastikan waktu paling tepat untuk pelaksaan proses tanam sehingga para petani dapat mempersiapkan lahannya sejak jauh hari.
Rahmatulloh Adji Kepala Stasiun Klimatologi NTT didampingi Kepala Dinas Pertanian NTT Lecky Frederich Koly dan Karo Administrsi Publik Setda NTT, Prisilia Parera dalam jumpa pers di Lobby Kantor Gubernur, Senin (3/10) menjelaskan, keterlibatan mereka untuk menyamakan persepsi dan informasi akurat berkaitan dengan prakiraan cuaca beberapa bulan kedepan. Ini penting agar dapat menentukan waktu tanam sehingga dapat memproduksi hasil tanam yang maksimal.
“BMKG mempunyai kriteria suatu wilayah itu masuk musim penghujan bila dalam satu dasarian itu dasarnya adalah 10 hari yang terukur itu 50 mm, dan diikuti dua dasarian berikutnya artinya dalam satu bulan kurang lebih 150 mm itu baru dikatakan wilayah tersebut memasuki musim penghujan. Sesuai dengan prediksi kita, awal masuk musim penghujan bulan Oktober sampai November minggu ketiga, sementara itu wilayah Kupang umumnya daratan Timor jatuh pada November awal dan November akhir. Tentu kita akan selalu update di sepuluh hariannya dan setiap bulannya serta evaluasi,”tegas Adji.
Masih menurutnya, yang lebih awal musim ujannya itu daerah Ruteng yang dikenal dengan daerah basah sedangkan di penghujung November ada Maumere, Larantuka, Lewoleba, Kalabahi.
“Sedangkan untuk angin kencang, curah hujan ekstreme perlu kita ketahui dan khawatirkan di masa masa transisi atau masa peralihan musim, walaupun pola angin masih dominan timuran,”tambahnya.
Kadis Pertanian Lecky Koly saat itu mempertegas informasi dari BMKG yakni berdasarkan prediksi, dasarian kedua hujan akan secara normal menyeluruh daerah di NTT. Oleh karna itu pada kesempatan ini menghimbau kepada petani, masyarakat pertanian di mana saja berada untuk bisa mengikuti semua informasi cuaca an dan menjadikannya pegangan untuk menghindari gagal tanam apalagi gagal panen.
”Sumberdaya kita terbatas, benih terbatas karena daerah tertentu tidak mempersiapkan benih dan lebih fokus ke daerahnya, serta keterbatasan dari sisi anggaran, sehingga tentu dengan kearifan ini kita sampaikan kepada masyarakat petani bijak dalam melihat fenomena alam ini sehingga melihat informasi BMKG ini sebagai referensi utama dalam menanam sampai panen sekaligus menghindari kerugian besar membaca situasi alam,”tegas Lecky. (GEB/BOY)






