Kupang – Delegasi mahasiswa internasional asal Prancis tiba di Universitas Nusa Cendana (Undana), Kamis (7/5/2026). Kunjungan ini semakin memantapkan langkah Undana menuju World Class University.
Perjumpaan ini merupakan bagian dari program Joint Culture Camp (JCC) yang diinisiasi oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal NTT ke mata dunia.
Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., bersama Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. drh. Annytha I.R. Detha, M.Si., menyambut langsung kedatangan enam mahasiswa Prancis dan dua mahasiswa pendamping dari ITS di Gedung Rektorat Undana.
Selama periode 4 hingga 9 Mei 2026, para mahasiswa internasional yang berasal dari berbagai kampus ternama di Prancis—seperti INSA Toulouse, Epita, INSA Lyon, IMT Atlantique, dan INSA Strasbourg—menjalani serangkaian agenda intensif di Pulau Timor. Mereka mempelajari alat musik Sasando, teknik menenun kain tradisional, hingga menyelami kebudayaan suku Helong.
Tak hanya menjadi subjek pembelajar, para mahasiswa asing ini juga berkontribusi langsung kepada masyarakat Kupang dengan membuka kelas Bahasa Inggris. Selain itu, mereka melakukan kunjungan akademik ke sejumlah fakultas di Undana, di antaranya Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan (FPKP), serta Fakultas Sains dan Teknik (FST).
Kepala International Relations Office (IRO) Undana, Santri E. P. Djahimo, Ph.D., menjelaskan bahwa partisipasi Undana dalam JCC merupakan langkah strategis untuk meningkatkan eksposur kampus di level global. Sejak mendaftar pada Januari lalu dan melewati tahap asesmen oleh ITS pada April, Undana berhasil mendapatkan kuota enam mahasiswa, melampaui target awal yang hanya tiga orang.
“Melalui program ini, Undana dan NTT akan semakin dikenal luas di kalangan mahasiswa internasional melalui testimoni langsung para peserta. Kami sangat berterima kasih kepada ITS atas peluang kolaborasi ini. Ini adalah ruang bagi kami untuk belajar menginisiasi program internasional mandiri di masa depan,” ungkap Santri.
Gyneth Lawrence, mahasiswi asal Kampus Epita, Prancis, mengaku terkesan dengan suasana akademik di Undana yang masih kental dengan nuansa alam. Ia berharap program pertukaran budaya ini dapat terus berlanjut dan melibatkan lebih banyak mahasiswa, baik dari skala nasional maupun internasional.
Keberhasilan penyambutan mahasiswa Prancis ini menjadi sinyal positif bagi Undana dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan berstandar internasional. Dengan semakin seringnya interaksi dengan komunitas global, Undana optimis dapat meningkatkan daya saing institusi sekaligus mempromosikan potensi daerah Nusa Tenggara Timur di kancah internasional. (Hec/rls/undana/tim)






