Kupang– Program Studi Pendidikan Luar Sekolah (PLS) FKIP Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali menunjukkan keunggulannya sebagai pusat kepakaran pendidikan nonformal di Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui hasil penelitian mendalam di Kabupaten Malaka, Prodi PLS Undana berhasil memetakan akar persoalan putus sekolah yang selama ini kerap disalahpahami, sekaligus menawarkan model pemberdayaan berbasis potensi lokal.
Temuan riset tahun 2025 tersebut mengungkap bahwa fenomena putus sekolah di wilayah perbatasan tersebut bukan dipicu oleh rendahnya minat belajar, melainkan akibat ketidaksesuaian antara bakat praktis remaja dengan sistem penilaian akademik di sekolah formal.
Koordinator Prodi PLS FKIP Undana, Nirwaning Makleat., S.Si., M.Pd, menjelaskan bahwa prodi yang dipimpinnya memiliki keunggulan dalam melakukan pendekatan edukasi yang lebih fleksibel dan humanis. Berdasarkan data lapangan, banyak remaja yang meninggalkan sekolah justru memiliki kecakapan kerja dan kepercayaan diri sosial yang tinggi, namun mengalami school disengagement atau ketidakterikatan dengan kurikulum formal.
Sebagai prodi yang berfokus pada pendidikan di luar jalur sekolah, PLS Undana menegaskan bahwa pendidikan kesetaraan (Paket A, B, dan C) adalah solusi nyata bagi masyarakat yang tidak terjangkau sistem formal. Keunggulan prodi ini terletak pada kemampuannya menyusun kurikulum yang adaptif, di mana pendidikan tidak harus berbenturan dengan aktivitas ekonomi mahasiswa atau warga belajar.
“Kami tidak hanya bicara tentang ijazah kesetaraan, tetapi juga pemberdayaan yang holistik. Kami mendorong model interest-based communication training atau pelatihan komunikasi berbasis minat untuk mengatasi kendala kepercayaan diri remaja saat berada di ruang formal,” tambah Nirwaning.
Riset ini mempertegas posisi Prodi PLS Undana sebagai institusi yang mampu memberikan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah. Dengan temuan bahwa remaja putus sekolah tetap diterima dengan baik dalam struktur sosial masyarakat, PLS Undana melihat peluang besar untuk melakukan intervensi melalui program kewirausahaan dan pemberdayaan komunitas.
Pendidikan Luar Sekolah Undana berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang belajar yang “memerdekakan”—di mana minat, keterampilan praktis, dan partisipasi ekonomi remaja dapat berjalan selaras. Transformasi ini diharapkan mampu mencetak sumber daya manusia di NTT yang tetap berdaya saing meski berada di jalur pendidikan nonformal, sekaligus membuktikan bahwa PLS Undana adalah garda terdepan dalam mengatasi problematika literasi dan akses pendidikan di wilayah kepulauan. (Ing/rls/undana/tim)






