Angkat Sejarah Stasiun Pertama Indonesia, Doktor UKSW Tawarkan Solusi Pelestarian Berkelanjutan

INFO UKSW584 Dilihat

SALATIGA–Pelestarian warisan budaya tidak cukup dilakukan dengan mempertahankan bangunan bersejarah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat dan tata kelola kolaboratif. Gagasan tersebut menjadi kontribusi disertasi Dr. Albertus Kriswandhono yang meraih gelar doktor ke-113 dari Program Studi Doktor Studi Pembangunan, Fakultas Interdisiplin, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor, Jumat (30/10/2026).

 

Melalui disertasi berjudul “Pelestarian Warisan Budaya Berkelanjutan di Spoorlaan Kemijen, Semarang: Tata Kelola Kolaboratif Berbasis Ekologi Nilai Triadik”, Albertus mengkaji persoalan pelestarian kawasan Spoorlaan-Kemijen, Semarang Timur. Kawasan ini memiliki nilai sejarah penting karena menjadi lokasi Stasiun Samarang NIS, titik awal jalur kereta api pertama di Hindia Belanda yang dibuka pada 10 Agustus 1867. Namun, jejak sejarahnya semakin terabaikan. Rel kereta api tertimbun aspal, bangunan depo berubah fungsi menjadi hunian, sementara kawasan menghadapi ancaman banjir rob dan amblesan tanah.

Dokumentasi foto bersama para promotor dan ko promotor dengan Dr. Albertus.
Foto: UKSW

Menggunakan pendekatan mixed-methods yang menggabungkan survei kuantitatif dan analisis kualitatif, penelitian ini menemukan bahwa 89% warga RW 03 Kemijen mendukung penyelamatan lingkungan sekaligus pelestarian sejarah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak terpecah antara kepentingan menjaga warisan budaya dan keselamatan lingkungan. Persoalan utamanya justru terletak pada kebijakan kelembagaan yang berjalan sendiri-sendiri, ketimpangan akses, serta konflik penguasaan lahan yang belum terselesaikan.

Baca Juga  Kenzie, Siswa SD Kristen Satya Wacana, Raih 8 Medali di Kejuaraan Renang Provinsi

 

Albertus juga mengidentifikasi tiga kelompok masyarakat berdasarkan hubungan mereka dengan sejarah dan lingkungan kawasan. Kelompok Penjaga Memori merupakan warga yang merawat ingatan kolektif sejarah, Pragmatis Lingkungan memprioritaskan keselamatan hunian dari banjir rob, sedangkan Warga yang Bertanya terdiri atas generasi muda dan pendatang yang belum mengenal sejarah kawasan, tetapi memiliki rasa ingin tahu. Pemetaan ini menjadi dasar perlunya pendekatan pelestarian yang mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat secara berbeda.

 

Sebagai kontribusi penelitian, Albertus merumuskan konsep Ekologi Nilai Triadik (Triadic Value Ecology/TVE), yakni kerangka yang memandang warisan budaya sebagai ekosistem relasional antara manusia, ruang, dan sejarah. Konsep ini dilengkapi pendekatan tata kelola DEIV (Differentiated Engagement, Integrated Vision) serta usulan pembentukan Dewan Warisan Kemijen. Wadah tersebut dirancang sebagai ruang deliberasi permanen yang melibatkan masyarakat, PT Kereta Api Indonesia (KAI), dan Pemerintah Kota Semarang untuk menyatukan kepentingan pelestarian sejarah, keselamatan lingkungan, dan pembangunan kawasan.

 

“Pembangunan berkelanjutan di kawasan marginal tidak boleh dimulai dari sekadar program fisik dari atas (top-down), tetapi harus dimulai dari pemetaan siapa yang menghuni nilai dan memori di kawasan tersebut,” ungkap Albertus.

Baca Juga  UKSW Jadi Bagian Konvensi Sains dan Teknologi Pertama di Indonesia Bersama 3000 Peserta

 

Ketua Program Studi Doktor Studi Pembangunan Profesor Daniel Daud Kameo, S.E., M.A., Ph.D., menilai penelitian Albertus relevan dengan bidang Studi Pembangunan karena mengintegrasikan berbagai aspek keilmuan. “Topik yang ingin diteliti Pak Kris bukan hanya persoalan arkeologi atau arsitektur. Ada persoalan lingkungan dan kemasyarakatan di dalamnya. Ini merupakan topik Studi Pembangunan yang luar biasa,” ungkapnya.

 

Mewakili tim promotor dan ko-promotor, Titi Susilowati Prabawa, Ph.D., mengapresiasi ketekunan Albertus selama proses akademik serta dedikasinya mendampingi masyarakat Kemijen selama 16 tahun. “Saya sangat berharap ke depan Bapak akan terus mengembangkan karya luar biasa yang telah dipertahankan pada pagi hari ini,” ungkapnya.

 

Sementara itu, Dekan Fakultas Interdisiplin Aldi Herindra Lasso, Ph.D., berpesan agar pencapaian gelar doktor menjadi awal untuk menghasilkan karya yang berdampak bagi masyarakat. “Yang menjadi ukuran bukan lagi tinggi rendahnya gelar atau titel yang telah Bapak raih, melainkan besar kecilnya dampak yang dapat Bapak hasilkan,” pesannya.

 

Sebagai tenaga ahli konservasi bangunan, situs, dan cagar budaya, Albertus memiliki pengalaman dalam berbagai proyek pelestarian warisan budaya di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah konservasi Eks NIS Building atau Lawang Sewu Semarang, pelestarian Pasar Johar Semarang, penanganan Eks Depo Trem 1882 Semarang, serta perencanaan revitalisasi Benteng Pendem Willem I Ambarawa. Pengalaman tersebut memperkuat relevansi penelitiannya yang menghubungkan pelestarian fisik dengan kehidupan masyarakat dan sejarah kawasan.

Baca Juga  Satya Mart Kini Hadir di Kampus Kartini UKSW, Jawab Kebutuhan Mahasiswa

 

Melalui penelitian ini, UKSW turut mendorong pengembangan pengetahuan yang berangkat dari persoalan nyata masyarakat. Pendekatan pelestarian berbasis kolaborasi yang ditawarkan diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengelolaan kawasan bersejarah lainnya. Kontribusi tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4 tentang pendidikan berkualitas, ke-9 tentang industri, inovasi, dan infrastruktur, serta ke-17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan. Penelitian ini juga berkaitan dengan Asta Cita poin ke-4 mengenai penguatan sumber daya manusia, sains, teknologi, dan pendidikan, serta poin ke-6 mengenai tata kelola ekonomi dan kelembagaan yang produktif, inovatif, dan berkelanjutan.

 

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dan memiliki 15 fakultas serta 65 program studi pada jenjang D3 hingga S3. Berlokasi di Salatiga, UKSW dikenal sebagai Kampus Indonesia Mini karena keberagaman mahasiswa dari berbagai daerah, sekaligus menghidupi semangat “Creative Minority” sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. (RLS/UKSW/BOY)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan