Nobar Film Suanggi, Perjumpaan Mahasiswa UKSW dan Sineas Muda

INFO UKSW50 Dilihat

SALATIGA-Karya film dapat menjadi ruang pertemuan antara kekayaan budaya lokal dan kreativitas modern. Hal tersebut terlihat dalam film Suanggi: Ilmu Kutukan yang mengangkat mitologi masyarakat Papua ke dalam genre horor. Menggunakan pendekatan sinema modern film ini sukses menghadirkan budaya yang belum banyak dikenal dalam kemasan yang dekat dengan penonton masa kini.

Perpaduan budaya dan kreativitas sineas tersebut menjadi perhatian Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISKOM) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Melalui kegiatan Nonton Bareng (Nobar) dan Meet & Greet Suanggi: Ilmu Kutukan, baru-baru ini, mahasiswa lintas fakultas UKSW tidak hanya menikmati film, tetapi juga berdialog langsung dengan para sineas mengenai proses kreatif dan dinamika industri perfilman.

 

Rektor UKSW Profesor Intiyas Utami menilai perjumpaan mahasiswa dengan pelaku industri menjadi ruang penting untuk mempertemukan berbagai disiplin ilmu. Menurutnya, pengalaman seperti ini memungkinkan mahasiswa melihat bagaimana pengetahuan, seni, budaya, dan iman dapat saling beririsan dalam menghasilkan karya sekaligus membuka ruang pengembangan talenta.

 

“Saya sangat takjub dengan anak-anak Papua yang terlibat langsung dalam proses pembuatan film ini. Talenta itu ibarat mutiara yang sudah ada di dalam diri kita dan akan bersinar ketika bertemu dengan ruang yang cocok untuk berkembang. Kerja keras pasti ada hasil akhir baik, tapi kita tidak pernah bisa mencapainya tanpa memulainya,” tutur Rektor Intiyas.

 

Ia menambahkan, pendekatan pembelajaran saat ini semakin membutuhkan pengalaman lintas ilmu. Pertemuan antara ilmu pengetahuan, seni, budaya, dan iman, menurutnya, dapat menjadi kekuatan yang memperkaya proses pembelajaran mahasiswa. Senada, Wakil Dekan FISKOM Sampoerno, S.Pd., M.Si., mengungkapkan bahwa pembelajaran tidak hanya berlangsung melalui materi di ruang kuliah, tetapi juga melalui pengalaman mahasiswa berinteraksi langsung dengan ekosistem media dan industri kreatif.

Baca Juga  UKSW Hadirkan Alisjahbana Haliman, Perkaya Mahasiswa dengan Konsep Value Creation

 

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak melihat sebuah karya bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai produk komunikasi yang memiliki proses panjang di baliknya. Mulai dari gagasan, pengembangan cerita, produksi, hingga bagaimana sebuah karya diperkenalkan dan diterima oleh masyarakat.Bagi mahasiswa, film tersebut memberikan pengalaman untuk mengenal lebih dekat kekayaan budaya Indonesia Timur sekaligus melihat bagaimana identitas budaya dapat diterjemahkan ke dalam karya populer. Diva, mahasiswa Fakultas Teologi angkatan 2021, menilai film Suanggi mampu memadukan unsur horor, budaya Timur, dan komedi.

 

“Filmnya sangat seru karena tidak hanya menyajikan suasana horor dan kebudayaan Timur, tetapi juga diselingi unsur komedi yang segar. Jadi meskipun menegangkan, penonton tidak merasa terlalu takut karena ada gelak tawa di tengah-tengah cerita,” ujar Diva.

 

Nonifilinia Lase, mahasiswa FISKOM mengungkapkan rasa senangnya dapat bertemu dengan para pemain dan sutradara Suanggi.

 

“Film ini sangat menarik karena mengangkat tema budaya lokal yang dikemas dengan genre horor, genre yang banyak disukai oleh masyarakat Indonesia. Jadi, menurut saya sangat tepat sasaran untuk dinaikkan ke layar lebar,” kata Noni.

 

Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, Noni juga belajar banyak hal dari sesi meet and greet.

“Saya belajar bahwa dalam membuat karya film, risetnya harus mendalam. Sebagai mahasiswa yang sedang belajar menulis naskah film, kegiatan ini menambah ilmu bagi saya,” imbuhnya.

Tidak hanya melalui kegiatan nobar, keterlibatan mahasiswa FISKOM dalam perjalanan film Suanggi juga berlangsung secara langsung di balik layar promosi. Evan Ramandey, mahasiswa FISKOM yang tengah menunggu wisuda, terlibat dalam tim promosi dan pemasaran film di sejumlah kota seperti Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Salatiga, hingga Semarang.”Saya merasa bersyukur turut dilibatkan dalam pembuatan film ini”, kata Evan.

 

Bagi Evan, pengalaman tersebut menjadi pengalaman kerja nyata sekaligus pengalaman pertamanya terlibat langsung dalam bidang advertising, pemasaran, dan promosi. Pengalaman tersebut memberikan kesempatan baginya untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan di FISKOM ke dalam situasi kerja yang nyata.

Baca Juga  Ada Spirit Satu Hati antara UKSW dengan Media Mitra, Dua Pohon Kamboja Jadi Simbol Persahabatan

 

“Ini menjadi pengalaman kerja nyata dan pengalaman pertama saya di bidang advertising, marketing, dan promosi. Hal ini merupakan sesuatu yang baru bagi saya,” ujarnya.

Keterlibatan tersebut juga membuat Evan melihat peluang yang lebih luas bagi mahasiswa FISKOM untuk mendapatkan pengalaman industri. Ia berharap pengalamannya bersama tim Suanggi dapat menjadi jembatan antara PH Film Mutiara dan UKSW untuk membuka ruang kolaborasi yang lebih berkelanjutan.

 

“Saya berharap keterlibatan saya di film Suanggi dan kesempatan menjadi jembatan antara PH Film Mutiara dengan UKSW nantinya dapat membangun hubungan kerja sama yang baik. Terutama bagi adik-adik mahasiswa yang mengambil bidang advertising dan broadcasting di Ilmu Komunikasi FISKOM, agar mereka mendapatkan akses dan tempat untuk menuangkan ilmu pengetahuan dalam praktik sebelum masuk ke dunia pekerjaan,” harap Evan.

 

Pengalaman menonton diperdalam melalui dialog langsung bersama para kreator Suanggi. Dalam sesi meet & greet dan diskusi, mahasiswa berdialog dengan sutradara Dom Dharmo, pemeran Arnold Kobogau, pemeran Yewen, dan producer Yanti Wijaya mengenai proses kreatif dan perjalanan mereka di industri film.

Dom Dharmo membagikan perjalanan kariernya yang dimulai dari dunia animasi dan berbagai pekerjaan teknis hingga akhirnya terlibat dalam produksi film. Pengalamannya menunjukkan bahwa industri perfilman memiliki ruang yang luas bagi individu dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam.

“Saya mengawali karier dari animator, jadi tukang tarik kabel, hingga perlahan masuk ke industri film. Industri film itu ruangnya sangat luas, terbuka bagi siapa saja yang mau belajar, baik di lini produksi maupun distribusi,” ungkap Dom.

Baca Juga  UKSW Siap Gelar Simposium Kimia Internasional ISNSC 2026 di Bali

 

Menurut Dom, pengangkatan Suanggi dalam film tersebut juga berangkat dari keinginan untuk menjaga keberadaan warisan budaya Papua di tengah perubahan zaman. Proses menerjemahkan mitologi tersebut ke dalam bahasa sinema membutuhkan riset serta pengolahan berbagai elemen visual dan audio.

 

“Suanggi adalah tradisi dan warisan budaya yang jangan sampai hilang,” jelasnya.

 

Tidak hanya Dom, pengalaman lintas disiplin juga terlihat dari perjalanan Arnold Kobogau yang memiliki latar belakang Teknik Elektro dan Yewen yang dikenal sebagai komika. Keduanya menunjukkan bahwa keterlibatan dalam industri film dapat berkembang dari berbagai bidang dan pengalaman.

 

Pertemuan tersebut sekaligus membuka peluang pengembangan kolaborasi antara UKSW dan pelaku industri kreatif. Rektor Intiyas berharap kehadiran tim Suanggi di Salatiga dapat menjadi awal bagi kerja sama yang lebih luas, antara lain melalui kuliah tamu interdisipliner dan keterlibatan praktisi dalam agenda Expo Dies Natalis UKSW ke-70 mendatang.

 

Kegiatan nobar dan meet & greet Suanggi menjadi bukti komitmen UKSW mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs ke-4 yaitu pendidikan berkualitas dan SDGs ke-17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan.  Hal ini juga selaras dengan Asta Cita 5, yaitu melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak tahun 1956 dan memiliki 15 fakultas dengan 65 program studi mulai jenjang Diploma hingga Doktor, serta 36 program studi terakreditasi Unggul dan A. Berlokasi di Salatiga, UKSW dikenal sebagai Kampus Indonesia Mini karena keberagaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui semangat Creative Minority, UKSW terus mendorong lahirnya lulusan yang mampu menjadi agen perubahan dan menghadirkan dampak positif bagi masyarakat. (RLS/UKSW/BOY)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan