Kupang (MEDIATOR) – Sektor pertanian di Nusa Tenggara Timur (NTT) kini dituntut untuk bertransformasi melalui pemanfaatan data dan teknologi digital guna mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif. Hal ini menjadi benang merah dalam diskusi “Edukasi Statistik Episode 11” bertajuk Statistik untuk Ekonomi Cerdas: Digitalisasi Pertanian menuju Ekonomi Inklusif yang digelar Pojok Statistik Universitas Nusa Cendana (Undana) secara daring, Jumat (13/3/2026).
Kegiatan ini menjadi wadah sinergi antara akademisi dan praktisi untuk membedah bagaimana peran statistik dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang tepat sasaran. Diskusi ini menghadirkan Statistisi Ahli Pertama BPS Sumba Barat Daya, Agung Setiawan Samuel Putra, S.Tr.Stat., dan Peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Adenanthera Jennifer Rambu Paddu Ranu.
Mengukur Kualitas Pertumbuhan Ekonomi NTT
Dalam pemaparannya, Agung Setiawan menyoroti tren pertumbuhan ekonomi NTT yang tercermin dalam kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di berbagai wilayah. Meski tumbuh konsisten, ia mencatat bahwa pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya dinikmati secara merata oleh masyarakat.
Angka kemiskinan di NTT masih berada di level 19,02 persen per September 2024. Ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi kita belum sepenuhnya inklusif,” ujar Agung. Ia menekankan pentingnya penggunaan Indeks Inklusif II untuk memantau hubungan antara kemiskinan, ketimpangan pendapatan, dan partisipasi tenaga kerja demi memastikan manfaat pembangunan benar-benar menjangkau lapisan masyarakat terbawah.
Potensi Besar Digitalisasi di Sektor Pertanian
Sejalan dengan isu kesejahteraan, Adenanthera Jennifer memaparkan riset mengenai dampak teknologi terhadap nasib petani di NTT. Sebagai sektor yang menyerap 49,91 persen tenaga kerja di NTT, produktivitas pertanian dinilai masih rendah. Namun, risetnya menunjukkan bahwa petani yang memanfaatkan teknologi digital mampu meningkatkan pendapatan mereka hingga 41 persen, dari rata-rata Rp1,32 juta menjadi Rp1,86 juta per bulan.
Sayangnya, tingkat pemanfaatan teknologi digital di kalangan petani NTT masih berada di bawah angka 30 persen. “Masalah utamanya bukan pada efektivitas teknologinya, melainkan pada kesenjangan antara potensi manfaat besar dengan rendahnya tingkat pemanfaatan oleh petani di lapangan,” jelas Adenanthera.
Kolaborasi dan Kebijakan Berbasis Data
Menanggapi tantangan tersebut, Pojok Statistik Undana berkomitmen untuk terus memperkuat literasi data di kalangan civitas akademika dan masyarakat. Upaya ini dilakukan melalui kolaborasi berkelanjutan antara perguruan tinggi, Badan Pusat Statistik (BPS), dan pemerintah daerah guna menghasilkan rekomendasi kebijakan yang adaptif.
Melalui dukungan data yang akurat dan sinergi lintas sektoral, digitalisasi pertanian diharapkan tidak lagi sekadar menjadi tren teknologi. Inovasi ini harus mampu menjadi solusi konkret dalam meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat fondasi ekonomi NTT yang lebih berkeadilan dan inklusif. (FnT/boy)






