KUPANG – Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali menegaskan komitmennya sebagai institusi pendidikan tinggi yang mengedepankan kepedulian sosial melalui kebijakan pembebasan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi 1.658 mahasiswa yang menjadi korban gempa bumi di Pulau Flores. Langkah strategis ini ditetapkan secara resmi melalui Keputusan (SK) Rektor Undana pasca-koordinasi langsung dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi guna memastikan keberlanjutan studi mahasiswa terdampak pascabencana gempa bumi Agustus 2026.
Pembebasan UKT penuh selama satu semester ini mencakup rentang Kelompok 1 sebesar Rp500.000 hingga Kelompok 10 sebesar Rp5.000.000 per semester, yang disusun berdasarkan data faktual verifikasi berjenjang dari pimpinan fakultas hingga program studi. Penerbitan kebijakan pembebasan biaya kuliah ini menegaskan peran kampus sebagai pilar perlindungan sosial dan benteng gotong royong yang mencegah terjadinya angka putus kuliah akibat bencana alam.
Sementara bagi publik dan para orang tua mahasiswa terdampak bencana, kebijakan ini memberikan ruang bernapas finansial secara signifikan agar alokasi keuangan keluarga dapat difokuskan pada pemenuhan kebutuhan pokok serta pemulihan tempat tinggal yang rusak tanpa mengorbankan masa depan pendidikan anak-anak mereka.
Verifikasi Presisi dan Kebijakan Berbasis Data
Guna memastikan bantuan tepat sasaran, Undana menerjunkan tim khusus untuk melakukan verifikasi dan validasi faktual secara ketat terhadap 6.670 mahasiswa asal Flores yang terdaftar dalam sistem akademik kampus. Proses penyaringan data berbasis kondisi riil di lapangan tersebut menghasilkan penetapan 1.658 mahasiswa yang berhak menerima pembebasan biaya pendidikan. Langkah transparan dan akuntabel ini diambil agar skema bantuan kemanusiaan universitas benar-benar meringankan beban ekonomi keluarga yang paling membutuhkan pertolongan.
Wakil Rektor IV Undana, Prof. Dr. Philiphi de Rozari, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa institusi pendidikan harus hadir menjadi bagian dari solusi di tengah krisis yang dihadapi masyarakat. Kampus menyadari betul dilema berat yang dihadapi para orang tua korban bencana antara membiayai kuliah atau membangun kembali rumah mereka yang hancur. Atas dasar pertimbangan kemanusiaan tersebut, rektorat mengambil keputusan untuk menanggung beban UKT mahasiswa selama satu
“Orang tua mahasiswa harus memilih antara membangun kembali rumah mereka yang hancur atau membiayai anak sekolah. Karena itu, kami memutuskan membebaskan UKT selama satu semester agar dapat meringankan beban ekonomi keluarga, sehingga anak-anak tetap bisa fokus menuntut ilmu,” tegas Wakil Rektor IV.
Penguatan Resiliensi dan Edukasi Mitigasi Bencana
Musibah yang menimpa wilayah Flores menjadi momentum edukatif bagi civitas akademika dan masyarakat luas mengenai pentingnya mitigasi bencana, resiliensi, dan pemanfaatan modal sosial. Letak geografis NTT yang berada di jalur rawan bencana menuntut penguatan kesiapsiagaan serta semangat saling menopang antar-elemen masyarakat. Kehadiran relawan Undana di tengah warga pengungsian menjadi contoh konkret pengamalan Tridharma Perguruan Tinggi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Pulau Flores adalah rumah kita yang indah sekaligus wilayah yang rentan akan dinamika alam. Di sinilah kita belajar untuk berdamai, merangkul ketangguhan, dan saling menguatkan dalam setiap langkah. Musibah ini mengingatkan kita bahwa kita tidak pernah berjalan sendirian; lewat semangat kebersamaan dan gotong royong yang tulus, kita bersama-sama merajut kembali harapan untuk bangkit dan memulihkan tanah tercinta,” tutur Prof. Philiphi de Rozari.
Rangkaian bantuan keuangan, penanganan fisik, dan penguatan psikologis ini mempertegas posisi Undana bukan sekadar tempat menimba ilmu di ruang kuliah, melainkan rumah dan sandaran hangat bagi masyarakat NTT di masa-masa sulit. Undana berkomitmen untuk terus mengawal proses pemulihan mahasiswa dan keluarga korban hingga situasi kembali kondusif. Melalui konsistensi kepedulian sosial ini, Undana optimis para mahasiswa terdampak dapat terus memelihara asa dan meraih cita-cita akademisnya demi kemajuan daerah pada masa depan. (IyL/RLS/UNDANA/BOY)






