Kupang (MEDIATOR)–Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyimpan potensi panas bumi yang sangat besar, mencapai lebih dari 1.000 Megawatt (MW). Menyikapi kekayaan energi bersih ini, Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (PPSDM KEBTKE) Kementerian ESDM memberikan dukungan penuh kepada Universitas Nusa Cendana (Undana) untuk membuka Program Studi Teknik Geologi atau Teknik Panas Bumi.
Dukungan ini bertujuan menjadikan Undana sebagai pusat pengembangan panas bumi di kawasan timur Indonesia. Langkah awal ini akan memperkuat kapasitas sumber daya manusia SDM lokal yang kompeten untuk mengelola potensi energi terbarukan di daerah, di mana sekitar 741,5 MW potensi panas bumi berada di Pulau Flores.

Foto: undana
Hal ini terungkap dalam rapat pembahasan Program Training for Lecturer antara PPSDM KEBTKE dengan Undana yang dilaksanakan di ruang rapat Rektor, Selasa (4/11/2025). Sebagai tindak lanjut, PPSDM KEBTKE akan melakukan Training Need Analysis (TNA) untuk memetakan kebutuhan pelatihan dosen Prodi Teknik Geologi, yang hasilnya akan menjadi dasar penguatan kapasitas akademik di Undana
Wakil Rektor I Bidang Akademik Undana, Prof. Dr. drh. Annytha Ina Rohi Detha, M.Si., menyambut dukungan tersebut sebagai momentum penting. “Kami sangat berterima kasih atas dukungan yang diberikan. Kehadiran Prodi Teknik Geologi akan menjadi langkah strategis bagi Undana dalam mencetak sumber daya manusia unggul di bidang geologi dan energi panas bumi,” ujarnya, menegaskan komitmen Undana dalam pengembangan potensi lokal.
Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama dan Sistem Informasi menekankan urgensi kolaborasi lintas lembaga untuk memperkuat kapasitas SDM dan teknologi. Ia menilai kekayaan alam NTT merupakan aset besar yang wajib dikelola dengan pendekatan ilmiah dan inovatif. “Secara garis besar, sumber daya alam merupakan sektor paling dominan di Nusa Tenggara Timur. Karena itu, pengembangan institusi dan SDM harus terus didukung, terutama oleh Kementerian ESDM,” tegasnya.
Prof. Jefri juga menyoroti bahwa program studi teknik di Undana masih relatif muda, sehingga perlu dukungan berkelanjutan dalam penguatan kapasitas. Ia menambahkan bahwa tantangan pengelolaan sumber daya alam tidak hanya soal teknologi, tetapi juga menyangkut aspek sosial dan politik yang sangat menentukan keberhasilan.
Kepala PPSDM KEBTKE, Susetyo Edi Prabowo, menegaskan bahwa kerja sama dengan Undana adalah bagian dari strategi nasional untuk memperkuat pendidikan dan penelitian energi baru terbarukan di wilayah timur. “Kami berharap kerja sama ini tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten, tetapi juga mendorong lahirnya riset-riset terapan yang mendukung pengembangan energi panas bumi di NTT,” harapnya.
Dari sisi manfaat ekonomi, Sahat Simangunsong, Koordinator Pokja Teknik dan Lingkungan Panas Bumi, menyoroti efisiensi panas bumi. Dengan biaya produksi listrik berbasis minyak mencapai Rp5.000 per kWh, pengembangan panas bumi dapat mengurangi beban subsidi dan mengalokasikan anggaran negara ke sektor lain, termasuk pendidikan di Undana.
Sahat Simangunsong juga menegaskan peran penting Undana sebagai mitra strategis dalam riset dan pelatihan tenaga lokal agar mereka mampu mengelola sumber daya panas bumi di daerahnya sendiri. Dengan potensi lebih dari 1.000 MW, Undana memiliki peluang besar menjadi pusat riset dan inovasi energi terbarukan di Indonesia Timur.
Sebagai tindak lanjut, sejumlah kegiatan telah dijadwalkan, termasuk Training for Lecturer pada 23–30 November, penyusunan kurikulum, kuliah umum, Job Fair industri panas bumi tahun depan, serta riset kolaboratif di Flores, Alor, dan Lembata pada 2027. Sinergi ini diharapkan melahirkan SDM unggul dan riset inovatif yang mendorong NTT menjadi lumbung energi bersih nasional sekaligus memperkuat peran Undana sebagai motor penggerak transisi energi. (ref/rls/UNC/BOY)






