Kupang (MEDIATOR)—Sejarah mencatat, NTT mencapai masa keemasannya ketika berada di tangan para tokoh hebat berlatar belakang militer. Sebut saja El Tari. Sosok bernama lengkap Mayor Jenderal TNI Anumerta Elias Tari, pernah menjabat sebagai Gubernur NTT sejak 12 Juli 1966 sampai wafat pada 29 April 1978. El Tari yang lahir di Sabu 18 April 1926 ini menggantikan gubernur sebelumnya, W.J Lalamentik.
Berikutnya, Ben Mboi. Orang lebih mengenalnya sebagai seorang dokter. Namun siapa sangka, Ben, sosok cerdas bernama lengkap Aloysius Ben Mboi, kelahiran Ruteng-Manggarai, 22 Mei 1935 ini pangkat terakhirnya jenderal bintang satu (Brigjen TNI). Untuk diketahui, dr Aloysius Ben Mboi, M.P.H., lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan dia mengawali karier di dua bidang, kesehatan dan militer. Sosok heroik ini pernah mengikuti Operasi Naga dan Operasi Trikora. Prabowo Subianto selaku Menhan RI, mendedikasikan Ben Mboi sebagai nama Universitas Pertahanan di Belu. Ben memimpin NTT pada periode 1978-1988.
Tak hanya itu, ada satu sosok fenomenal keturunan Ngada yang lahir di Padalarang, Bandung Barat-Jawa Barat, Mayjen TNI Herman Musakabe. Herman pun sukses memimpin NTT pada periode 1993-1998. Terakhir, Herman berdinas militer dan menjabat sebagai Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat.
Ketiganya memiliki kekhasan dalam memimpin, dan sukses membawa NTT di kancah nasional. Mereka hadir dengan program yang dirasakan manfaatnya sampai saat ini.

Foto: Dok
Bupati Manggarai dua periode, Christian Rotok, memiliki penilaian tersendiri mengenai ketiga legenda TNI ini. Baginya, ketiganya orang hebat yang berjaya di masanya. Dan ini bukti bahwa masyarakat NTT sangat care dengan pemimpinnya, dan siap mensupport mereka. Sehingga ketika hari ini publik kembali merindukan kehadiran figur berlatar belakang militer yang berkarakter tegas dan visioner, itu adalah sebuah keniscayaan. Karena memang mereka membutuhkannya dengan alasan-alasan yang prinsipil.
“Saua sangat kenal dengan Pak Andre (Adrianus Garu), sepak terjangnya. Rekam jejaknya mulai dari DPRD Manggarai, DPD RI, pernah maju sebagai calon bupati. Sementara Pak Simon, beliau juga saya kenal. Kita pernah bertemu, sepintas. Masih muda orangnya, energik, cocoklah untuk NTT,”tegas Chris Rotok.
NTT menurutnya, membutuhkan pemimpin yang energik. Dia berhasil merekam tipe kepemimpinan yang cocok untuk TNI selama puluhan tahun terakhir, dan dia berkesimpulan demikian.
“Tipe-tipe energik seperti itu. Saya teringat dengan Pak Ben Mboi saat itu. Kalau tidak salah beliau memimpin NTT di usianya yang ke 43. Kalau tidak salah. Pak Simon (Simon Petrus Kamlasi) juga kepala empat. Ya… mudah-mudahan semangatnya juga sama sepeti Pak Ben,”tegas Chris Rotok, semalam saat diwawancarai. Dia sangat antusias dengan pasangaan yang mengusung tagline SIAGA ini.
Masih menurutnya, untuk bisa memimpin NTT yang topografisnya sulit dengan infrastruktur jalan yang masih banyak yang buruk membutuhkan figur yang gesit.
“NTT pernah memiliki gubernur-gubernur berlatar belakang TNI dan mereka meninggalkan legacy yang baik. Pak El Tari ada program tanam sekali lagi tanam, Pak Ben dengan ONM dan ONH, pengembangan KUD, hanya karena tidak dilanjutkan saja. Pak Herman juga cikal bakalnya sampai saat ini seluruh ASN pakai pakaian motif daerah. Saya rasa Pak Simon tidak beda jauh,”ujar Chris Rotok menambahkan sekarang ini negara sedang berperang melawan kemiskinan dan keterbelakangan sehingga butuh pemimpin visioner.
“Kita butuh figur yang mampu membawa NTT keluar dari kemiskinan. Saya amati Pak Simon ini sudah jalan keliling dan mengidentifikasi apa yang menjadi kebutuhan dari tiga pulau besar ini,”ungkap Chris Rotoh yang melihat kombinasi antara SPK dan Andre Garu merupakan kombinasi yang bagus.
“Saya rasa baguslah. Saya pernah mencobanya, kombinasi antara birokrat dan akademisi dan berhasil. Rakyat mempercayai kami bersama 15 tahun. Saya bersama beliau 10 tahun dan beliau sendiri 5 tahun,”pungkasnya.
Untuk diketahui, Simon Petrus Kamlasi saat ini menjabat sebagai Kasrem 161/Wira Sakti Kupang dengan pangkat Kolonel. Pada 27 April 2024 lalu, alumnus SMA Taruna Nusantara Magelang dan AKMIL tahun 1996 ini telah dipromosi mendapatkan kenaikan pangkat sebagai jenderal bintang satu, Brigadir Jenderal (Brigjen). Selanjutnya SPK, demikian biasa disapa, akan menduduki jabatan baru sebagai perwira tinggi staf ahli KASAD bidang Lingkungan Hidup yang bertugas di Mabes TNI AD. Dalam kontestaasi Pilkada NTT, nama SPK disebut-sebut akan bertarung menjadi calon gubernur. Namanya sedang disurvei oleh Partai Gerindra NTT, sementara DPP Partai Nasdem sudah memberi drekomendasi padanya bersama Adrianus Garu sebagai pasangan tunggal untuk mempersiapkan diri menuju Pilgub NTT. (BOY)






