Lebih dari Gelar Doktor, Kajian Fakultas Teologi UKSW Hadirkan Perspektif bagi Masyarakat

INFO UKSW784 Dilihat

SALATIGA–Program Studi Doktor Sosiologi Agama (DSA), Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), kembali meluluskan dua doktor melalui Yudisium Doktor yang diselenggarakan pada Jumat (16/10/2026) di Ruang F114, Fakultas Hukum (FH) UKSW, Salatiga. Kedua lulusan tersebut adalah Dr. Deky Nofa Aliyanto sebagai Doktor ke-48 dan Dr. Endah Cristina sebagai Doktor ke-49. Keduanya berhasil menyelesaikan pendidikan doktoral dengan predikat Sangat Memuaskan melalui penelitian yang mengangkat isu mesianisme dalam konteks sosial politik serta kepercayaan terhadap konspirasi siber dalam perspektif sosiologi agama.

Melalui disertasi berjudul “Mesianisme dalam Konteks Sosial Politik”, Deky Nofa Aliyanto mengkaji hubungan tradisi Ratu Adil dalam Ramalan Jayabaya dengan konsep mesianisme dalam Injil Matius 24–25. Penelitian ini mengungkap kesamaan pesan tentang harapan akan keadilan dan pemulihan di tengah krisis sosial. Kajian tersebut juga menunjukkan bahwa nilai-nilai lokal dapat memperkaya pemahaman teks Alkitab serta mendorong kepedulian terhadap keadilan, solidaritas, dan tanggung jawab sosial.

Atas disertasinya, Deky berhasil meraih IPK 4,00 dengan predikat Sangat Memuaskan. Penelitian ini dibimbing oleh Promotor Profesor Yusak B. Setyawan, MATS, Ph.D., serta Ko-promotor Profesor Pendeta Izak Y.M. Lattu, Ph.D., dan Dr. Suwarto, M.Si.

Melalui disertasi berjudul “Kajian Sosiologi Agama tentang Kepercayaan pada Cyber Conspiracy mengenai Pandemi COVID-19 di Kalangan Pentakosta-GSJA I, Jawa Tengah”, Endah Cristina mengkaji fenomena kepercayaan terhadap konspirasi siber di tengah komunitas Pentakosta-GSJA I di Jawa Tengah. Penelitian ini menyoroti peran pemimpin agama dalam mendampingi umat menyikapi informasi dan narasi konspirasi di ruang digital, sekaligus memperkaya kajian mengenai hubungan agama, media sosial, dan teori konspirasi.

Endah yang juga menjabat sebagai Ketua Sekolah Tinggi Teologi Berea Salatiga ini menyelesaikan studi doktoralnya dengan IPK 3,89 dan predikat Sangat Memuaskan. Disertasinya dibimbing oleh Promotor Profesor Pendeta Izak Y.M. Lattu, Ph.D., bersama Ko-promotor Pendeta Dr. Tony R.C. Tampake, M.Si., dan Dr. Suwarto, M.Si.

Baca Juga  MSIG Life Goes to Campus, Dorong Gen Z UKSW Berani Memulai dan Bertumbuh di Dunia Bisnis

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Teologi UKSW, Profesor Pendeta Izak Yohan Matriks Lattu, S.Si.-Teol., M.A., Ph.D., menyampaikan rasa syukur atas penyertaan Tuhan sehingga kedua promovendus dapat menyelesaikan pendidikan doktoral. Ia menegaskan bahwa meraih gelar doktor bukanlah perjalanan yang mudah karena membutuhkan ketekunan dan komitmen untuk menyelesaikan setiap proses akademik yang dijalani.

“Gelar ini tidak gampang. Bisa berhasil hingga saat ini bukan hal yang mudah, dan tidak semua orang bisa sampai pada tahapan doktor. Ibu Endah dan Deky berhasil menyelesaikan pendidikan. Terima kasih sudah bertahan,” ungkap Profesor Izak.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Sekolah Tinggi Teologi (STT) Berea dan Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) yang telah memberikan dukungan serta kesempatan bagi kedua lulusan untuk menjalani proses pendidikan doktoral. Menurutnya, keberhasilan ini menjadi bagian dari karya Tuhan yang dapat disyukuri bersama sekaligus mencerminkan pentingnya dukungan berbagai pihak dalam pengembangan pendidikan dan kapasitas akademik.

Baca Juga  UKSW dan BukSU Filipina Perkenalkan COIL, Pembelajaran Global di Era Digital

Penyelenggaraan yudisium ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs ke-4 tentang pendidikan berkualitas, melalui penguatan pendidikan tinggi dan pengembangan pengetahuan. Selain itu, pengembangan kajian akademik yang relevan dengan dinamika sosial turut membuka ruang bagi penguatan pemahaman dan dialog di tengah masyarakat.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi dari jenjang D3 hingga S3. Berlokasi di Salatiga, UKSW dikenal sebagai Kampus Indonesia Mini yang mencerminkan keberagaman mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Dengan semangat Creative Minority, UKSW terus berkomitmen menghasilkan lulusan yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat. (RLS/UKSW/BOY)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan