Debat Muktamar

Nasional730 Dilihat

Oleh: Dahlan Iskan

Sabtu 26-09-2026

 

Inilah orang yang paling dicari –dan mungkin dimaki-maki– oleh mereka yang terpilih sebagai pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang baru: Gus Lilur. Nama lengkapnya Gus Haji Raden Muhammad Khalilur Abdullah Sahlawiy.

 

Gus Lilur viral. Wawancaranya di berbagai video beredar luas: bagaimana uang bermiliar-miliar beredar di Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang akhir bulan lalu.

 

Banyak yang memberi tahu saya bahwa ia itu sebenarnya bukan warga NU –apalagi kader. Ada juga yang menilai ia itu orang yang sakit hati karena ingin mengelola tambang batu bara NU.

 

Saya pun penasaran: siapa Gus Lilur sebenarnya. Mengapa ia sampai hati mengungkapkan aib sebesar itu –tanpa menunggu fakta hukum. Mengapa ia, di setiap tampilan video selalu pakai kopiah hitam –seperti umumnya orang NU.

 

Lalu saya hubungi Gus Lilur, Kamis malam kemarin dulu.

 

“Gus, apakah kita pernah bertemu?”

 

“Lho kan sudah sering,” katanya.

 

Saya pun malu. Bisa dikira suka melupakan orang. Saya buru-buru minta maaf kalau saya lupa kapan pertemuan itu.

 

“Tapi saya pernah kecewa sama sampeyan…,” katanya.

 

Aduh! Kenapa ya kecewa? Kok saya juga lupa. Sekali lagi saya minta maaf.

 

“Kapan kita terakhir bertemu, Gus,” tanya saya.

 

“Pokoknya sering. Saya kan pernah jadi penyewa ruangan di Graha Pena. Saya berkantor di situ bersama Pak Fathorrasjid almarhum,” katanya. Fathorrasjid adalah tokoh NU dan PKB yang pernah jadi ketua DPRD Jatim. Fathor masuk penjara karena tuduhan korupsi dana APBD yang untuk seluruh anggota DPRD itu. Dianggap tidak sah. Banyak sekali anggota DPRD yang juga jadi tersangka saat itu.

 

“Kenapa Gus kecewa dengan saya?”

 

“Waktu saya ajak salaman sampeyan tidak mau,” katanya.

 

Hah? Saya tidak mau salaman?

 

“Oh … saya ingat Gus. Waktu itu saya baru pulang operasi ganti hati. Saya harus jaga diri baik-baik. Termasuk tidak mau salaman dengan siapa pun. Agar tidak terkena kuman,” kata saya.

Baca Juga  WFH Sarengat

 

“Iya. Saya maklum kok,” katanya.

 

Saya pun lega.

 

“Kenapa Gus kok sampeyan membuka soal uang di Muktamar itu?”

 

“Saya menjalankan ayat Quran dan hadis Nabi. Kemungkaran harus diberantas, agar Muktamar yang akan datang tidak terjadi seperti ini lagi,” katanya.

 

“Waktu muktamar Anda hadir?”

 

“Saya hadir”.

 

“Tapi kan ada yang bilang Anda bukan anggota NU?”.

 

“Saya ini sebelum lahir sudah NU,” katanya. “Ayah saya itu santrinya Kiai As’ad Syamsul Arifin, Sukorejo, Situbondo,” katanya. Nama yang disebut itu adalah ulama besar yang mendirikan pondok besar di Sukorejo, Situbondo. Ia kiai papan atas di dunia NU. Ke Gus Dur pun tidak takut: pernah menyatakan mufaraqah –memisahkan diri sementara– dengan Gus Dur.

 

“Tapi kenapa tidak pernah jadi pengurus NU?”

 

“Kalau saya mau, saya sudah jadi pengurus PBNU di zaman Ketua Umum Buya Said Aqil Siroj. Tapi saya tidak mau. Saya mau jadi konglomerat,” katanya.

 

Said Aqil adalah guru Gus Lilur semasa di UIN Syarief Hidayatullah, Ciputat, Jakarta. Yakni ketika Kiai Aqil Siroj baru kembali dari kuliah S-3 di Ummul Quro, Saudi Arabia. Saat itu Gus Lilur masih di tahun ketiga sebagai mahasiswa. Ia mengambil jurusan filsafat. “Filsafat aqidah,” katanya. Setelah lulus UIN tidak ambil S-2 atau S-3. Ia terjun ke dunia usaha.

 

“Ada juga yang bilang Anda ini kecewa karena tidak dipercaya mengelola tambang batu bara milik NU”.

 

“Untuk apa? Tambang saya sendiri tidak terurus. Tambang saya sendiri sudah banyak,” katanya.

 

Bahkan ia bercerita, sebenarnya sudah akan jadi pemilik tambang batu bara terbesar di Indonesia. “Sayang izinnya dicabut,” katanya.

Baca Juga  Zaman Batu

 

“Kenapa dicabut?”

 

“Karena terkait uangnya Nazaruddin, bendahara Partai Demokrat yang ditangkap KPK. Tambang disita”.

 

“Tambangnya di mana?”

 

“Di Kutai Timur. Sekarang jadi milik Adaro,” katanya.

 

“Kok Anda meragukan keilmuan banyak tokoh sampai berani menantang Kiai Miftachul Akhyar, Gus Kikin, Gus Nusron Wahid, Gus Ipul untuk membaca kitab kuning dan menulis kitab di depan forum muktamar? Emangnya Anda sendiri bisa membaca kitab kuning?” Istilah kitab kuning adalah literatur yang ditulis dalam huruf Arab tanpa tanda baca. Hanya orang yang ilmu nahwu-sorof-nya tinggi yang mampu membacanya.

 

“Saya ini mondok di Denanyar, Jombang selama tiga tahun. Selama itu tiap hari membaca kitab kuning, hanya berbicara dalam bahasa Arab dan Inggris,” katanya. “Waktu mau tamat sekolah saya membuat karya tulis dalam bahasa Arab tanpa harakat (tanda baca) setebal 150 halaman,” katanya. Kalau ia menantang menulis buku di depan muktamar itu agar pesertanya tidak bisa dibantu menuliskannya.

 

Buku yang ia tulis saat masih siswa aliyah itu berjudul Alhayatul Fadloiyah ‘indal Quran wa attahliiLiL ‘ishriy: kehidupan luar angkasa menurut Alquran dan penelitian modern.

 

Gus Lilur lahir di Situbondo. SD dan SMP di sana. Lalu masuk madrasah aliyah unggulan yang disebut MAPK –Madrasah Aliyah Program Khusus. Hanya ada dua di Indonesia: di Jombang dan di Solo. Itu sejenis Taruna Nusantaranya madrasah. Setelah sukses pernah dikembangkan ke beberapa aliyah –tidak termasuk aliyah tempat saya sekolah. Entah kenapa program itu dihapus.

 

Saat masih remaja itu Gus Lilur sudah mendirikan gerakan amar makruf nahi munkar –mengajak ke kebaikan dan mencegah kemungkaran. Nama gerakannya: PAMANGKAR –Pejuang Amar Makruf Nahi Mungkar.

 

Apa yang ia lakukan sekarang, katanya, itu konsisten dengan apa yang ia lakukan sejak remaja.

 

Ketika saya hendak bertanya soal lain lagi Gus Lilur memberi info terbaru. “Tadi siang saya ke KPK. Saya temui pejabat di sana,” katanya.

Baca Juga  Mati Efisien

 

“Untuk apa?”

 

“Agar KPK menyiapkan diri untuk menerima uang pengembalian dari Buya Aqil Siroj yakni uang yang diterima saat Muktamar,” katanya.

 

“Yang benar saja,” kata saya.

 

“Benar. Buya sendiri yang menelepon saya,” katanya.

 

Gus Lilur memang memanggil Kiai Aqil Siroj dengan panggilan Buya.

 

“Benar dikembalikan?”

 

“Saya tunggu di KPK sampai jam 12.00. Tidak jadi,” katanya.

 

“Kenapa?”

 

“Buya berubah pikiran. Uang itu akan dikembalikan langsung ke Gus Ipul. Sampai sore belum bertemu Gus Ipul”.

 

Gus Lilur diberi tahu Buya: penyerahan kembali uang itu akan dilakukan stafnya. Buya minta agar ada tanda terima pengembalian dan ada bukti foto penyerahan. “Kalau tidak bersedia memberi tanda terima dan tidak bersedia difoto baru akan diserahkan ke KPK,” katanya.

 

Menurut Gus Lilur, Buya Said Aqil Siroj dan dua kiai utama lainnya agak berbeda soal penerimaan uang itu. “Buya dan dua kiai lainnya menerima uang setelah proses pemilihan berlangsung. Bukan sebelumnya,” ujarnya. Dua yang dimaksud adalah Kiai Anwar Manshur dan Kiai Nurul Huda.

 

Gus Lilur kini berumur 49 tahun.

 

“Punya anak berapa Gus?”

 

“Saya malu kalau bercerita tentang keluarga,” katanya.

 

“Maafkan saya Gus,” kata saya.

 

“Gak apa-apa …”

 

“Kenapa malu Gus?”

 

“Istri saya empat. Satu di Situbondo, yang istri keempat di Shenzhen,” katanya. “Santri itu bodoh kalau berzina. Maka istri saya empat,” katanya.

 

Istri pertamanya orang Palembang, sesama teman di UIN Jakarta. Yang kedua juara dangdut di Indosiar. Yang keempat orang Tiongkok yang tinggal di Shenzhen.

 

Gus Lilu lama tidak beredar di kepala saya. Coba saja saya tahu ia punya rumah di Shenzhen saya bisa sering numpang menginap di rumahnya. (Dahlan Iskan)

 

https://disway.id/catatan-harian-dahlan/970438/debat-muktamar

Posting Terkait

Jangan Lewatkan