Oleh: Dahlan Iskan
Sabtu 18-04-2026
Saya belum pernah membaca buku terkenal ini: Shahnameh. Saya ingin membacanya tapi sulit mendapatkannya.
Anda sudah tahu: Shahnameh memang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris: The Persian Book of Kings. Ada juga terjemahan dengan judul lain: saya sulit memilih yang mana; yang diterjemahkan oleh siapa.
Saya harus bertemu dulu dengan orang yang pernah membacanya –dalam bahasa aslinya: Persia. Akhirnya saya bertemu si dia: Afifah Ahmad. Wanita Bandung asal Semarang yang tumbuh sebagai anak-anak di Purwakarta.
Afifah lulusan sastra Parsi dari Az-Zahra University, Teheran. Di sana Afifah masuk S-1 sampai S-2. Itulah universitas khusus untuk perempuan. Program studinya banyak; mulai fisika, teknik, sampai sastra. Ada juga jurusan studi perempuan.
Di sana, mahasiswa jurusan apa pun awalnya harus mengambil mata kuliah yang satu ini: sastra kepahlawanan. Dua semester.
Bacaan wajib mata kuliah ini adalah Shahnameh –kisah raja-raja.
Itulah buku yang membentuk karakter orang Iran untuk tetap menjadi orang Parsi.
Keparsian orang Iran pernah terancam punah. Yakni ketika wilayah itu ditaklukkan oleh Arab –di masa khalifah Umar bin Khattab.
Terjadilah proses arabisasi Parsi. Itu bersamaan dengan datangnya Islam dari Arab. Proses itu berlangsung lebih 200 tahun. Dari zaman Umar berlanjut ke era dinasti Ummaiyah –yang berpusat di Damaskus, Suriah. Lanjut lagi ke dinasti Abbasyiah yang berpusat di Baghdad, Irak. Dua-duanya kerajaan Arab.
Setelah dinasti Abbasyiah mengalami kemunduran, di wilayah Parsi muncul kerajaan lokal: Samaniyah. Pusat pemerintahannya di Bukhara, yang sejak lama di bawah pengaruh Parsi –sekarang Bukhara masuk negara Uzbekistan.
Penulis hadis Nabi Muhammad yang paling terpercaya adalah orang dari Bukhara: Imam Bukhari.
Di zaman Samaniyah ini terjadilah proses re-Persiaisasi. Kembali ke jati diri Parsi. Tap tidak bisa sepenuhnya menghilangkan pengaruh Arab. Sudah lebih dua abad Arab menguasai Parsi. Terutama dalam hal agama: tetap Islam. Dalam hal ini Syi’ah.
Afifah tidak hanya sampai S-2 di Iran. Dia lanjut sampai 10 tahun di sana. “Suami saya dapat pekerjaan di Teheran,” ujar Afifah. “Jadi dosen mata kuliah politik Asia Tenggara,” tambahnyi.
Selama 10 tahun itu Afifah dan suami keliling Iran. Sampai ke pelosok-pelosok. Sampai ke perbatasan dengan Azerbaijan dan Tajikistan. “Saya juga pernah tinggal di satu daerah yang Islamnya Sunni,” kata Afifah. Lalu ke daerah yang sukunya Kurdi. Pergi juga ke wilayah yang mayoritas bersuku Arab.
Afifah menjadikan perjalanannya itu sebagai cerita. Dia terbitkan dalam bentuk buku. Temanya: keragaman di Iran. Dia berencana menerbitkan lagi cerita dari Iran sebagai buku kedua.
“Saat ini saya sedang mendalami Maulana Rumi. Sejak enam tahun lalu,” katanyi. Dia juga akan menerbitkan buku tentang Rumi. Judulnya: Ngaji Rumi: Kitab Cinta dan Ayat-ayat Sufistik.
Afifah konsentrasi di penulisan. Dia juga sedang menerjemahkan buku Imam Al Ghazali yang belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Yakni: Nashihatul Muluk –nasehat untuk para raja.
Buku itu ditulis Al Ghazali dalam bahasa Parsi –bahasa ibu Imam Ghazali. Sebagai orang Parsi Ghazali selalu menulis buku dalam bahasa Arab. Hanya satu buku itu yang ditulis pakai bahasa Parsi.
Seberapa tebal buku Shanameh?
“Kalau yang lengkap tebal sekali. Satu cerita satu buku,” ujar Afifah. “Lebih 1000 halaman,” katanyi.
Isi buku itu cerita tentang kepahlawanan Parsi. Yakni para pahlawan yang kehebatannya selalu berawal dari penderitaan, pengorbanan dan harapan.
Misalnya ketika Shahnameh sampi pada kisah Rostam. Ia tokoh superheronya Persia.
Demikian juga di bab Arash. Kepahlawanannya sangat mengagumkan. Waktu itu ada tantangan negara kepada warganya: siapa yang bisa membuat panah dengan jangkauan sejauh mungkin. Muncullah orang bernama Arash. Ia pergi ke gunung dengan jerih payah luar biasa. Di atas gunung itu ia konsentrasi menciptakan panah. Lalu ia siapkan diri sampai menjadi orang kuat. Panah ciptaannya berhasil bisa meluncur sampai negeri yang jauh.
Rasanya penciptaan rudal jarak jauh Iran terinspirasi dari Arash ini.
Tahun lalu di Teheran dibangun patung baru: patungnya Arash. Itu untuk menandai kemampuan Iran dalam perang 12 hari melawan Israel. Di perang itu Iran mampu mengerahkan rudal dan drone jarak jauh –seperti tokoh Shahnameh: Arash.
Buku Shahnameh ditulis di tahun 1000. Penulisnya tokoh sastra di sana: Firdawsi. Bentuk tulisannya berupa puisi yang setiap kupletnya berisi dua baris. Shahnameh berisi 50.000 kuplet!
Waktu ke Iran sebenarnya Afifah sudah lulus S-1 ekonomi. Yakni di STIE Yogyakarta. Lalu masuk S-1 lagi di sana. Sebelum itu dia mukim di Qom, kota suci untuk orang Syiah. Di Qom-lah dia melahirkan anak satu-satunya.
Begitu besar pengaruh literatur bagi pembentukan jiwa nasionalisme di Parsi. Termasuk dalam mengembalikan jati diri Parsi setelah dikuasai Arab dua abad lamanya. Jati diri bisa hilang. Tapi juga bisa diraih kembali. (Dahlan Iskan)
https://disway.id/catatan-harian-dahlan/941775/afifah-shahnameh






