Salatiga (MEDIATOR)–Mengawali perjalanan pengabdian sebagai perawat profesional, sebanyak 19 mahasiswa Program Studi Profesi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) mengikuti acara “Capping & Pinning Ceremony Angkatan II” di Grha Kartini, Jumat (10/04/2026) sore. Dalam suasana yang penuh khidmat, para mahasiswa berdiri tegak membawa lilin kecil di tangan yang merupakan lambang ketegasan dan keberanian seorang perawat untuk memberikan sebuah harapan di tengah penderitaan.
Puncak acara ditandai dengan pemasangan capping dan pinning kepada kesembilan belas mahasiswa Profesi Ners. Pemasangan cap dilakukan oleh Ketua Program Studi Profesi Ners FIK, Ners Venti Agustina, S.Kep., MAN. Penyematan pin dilakukan oleh Wakil Rektor Bidang Pengajaran, Akademik, dan Kemahasiswaan (WR PAK) Profesor Ferdy Semuel Rondonuwu, Dekan FIK Ir. Ferry Fredy Karwur, M.Sc., Ph.D., dan Pendeta Kampus Pendeta Dr. Ferry Nahusona, M.Si.
Setelah mengikuti rangkaian pemasangan capping dan pinning, dengan penuh keyakinan, kesembilan belas mahasiswa tersebut mengucapkan janji profesi “Janji FLorence” sebagai bentuk komitmen moral pengabdian diri dalam pelayanan profesional, beretika, dan penuh empati.
Rasa haru dan bahagia tergambar jelas di wajah para mahasiswa. Salah satunya, Sintia Kolong, S.Kep., yang menyampaikan rasa syukurnya atas momen berharga ini. Baginya acara ini bukan hanya sekadar acara seremonial tetapi menjadi suatu momen yang sangat sakral dan dinantikan.
“Rangkaian acara mulai dari proses masuk ke ruangan sambil membawa lilin, pemasangan cap dan juga pin mengandung makna mendalam. Cap terpasang di kepala adalah simbol komitmen untuk menjaga kehormatan profesi. Sementara lilin yang menyala di tangan sebagai pengingat bahwa di manapun bertugas harus menjadi cahaya yang memberikan harapan bagi pasien tanpa membeda-bedakan suku, ras dan budaya, sebagaimana Florence Nightingale telah mengajarkan tentang arti ketulusan dan pengabdian tanpa batas,” ungkapnya.
Perawat yang melayani
Dengan penuh harapan, Profesor Ferdy Semuel Rondonuwu mengungkapkan rasa bangganya melepas kesembilan belas mahasiswa tersebut. Ia berpesan agar para mahasiswa menggali sebanyak mungkin pengetahuan dan pengalaman berharga dari senior-senior perawat. “Kalian adalah wajah UKSW. Semoga Tuhan menyertai dan kalian bisa kembali ke fakultas secara formal,” katanya.
Sementara itu, Dekan FIK Ir. Ferry Fredy Karwur berpesan agar mahasiswa menjadi pribadi yang disiplin. “Menjadi perawat profesi harus disiplin dan melayani. Semoga selalu dikuatkan dalam perjalanan dan belajar,” imbuhnya.
Saat dijumpai di sela acara, Ners Venti Agustina menjelaskan bahwa mahasiswa angkatan kedua Profesi Ners ini akan melakukan praktik selama satu tahun di RSUD dr. Soebarkat Tjitrodarmodjo Kota Salatiga, Panti Wredha Salib Putih, Wisma Lansia Maria Martha Salatiga, dan enam Puskesmas di Kota Salatiga.
“Selama masa profesi, mahasiswa akan fokus menjalani praktik di sejumlah rumah sakit yang telah bekerja sama. Pengalaman ini menjadi bekal utama sebelum mereka mengikuti ujian kompetensi. Setelah dinyatakan lulus, mereka berhak menyandang gelar Ners sebagai tanda siap terjun di dunia kerja dan tenaga kesehatan profesional,” jelasnya.
Acara ini menegaskan komitmen UKSW dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) yakni poin ke-4 yaitu pendidikan berkualitas dan poin ke-17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan. Selain itu, kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen UKSW terhadap program Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Berdampak yang selaras dengan Asta Cita ke-4 yaitu penguatan sumber daya manusia (pendidikan, sains, teknologi, kesehatan).
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 64 program studi di jenjang D3 hingga S3 dengan 36 prodi terakreditasi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. (rls/UKSW/boy)






