Kupang (MEDIATOR)—Politisi Senayan asal NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), hadir dan menjadi keynote speaker dalam diskusi bertema ‘Peran Strategis Pertamina dalam Optimalisasi Pemanfaatan Gas Bumi’, Sabtu (21/2) di Kristal Hotel-Kupang.
Ikut mendampinginya di podium, General Manager SOR III PGN, Hedi Hedianto dan Guru Besar Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof. Dr.Yantus A.B Neolaka, S.Pd., M.Si. Untuk diketahui, Prof Yantus adalah dosen Undana yang dua kali berhasil masuk dalam daftar bergengsi World’s Top 2 Percent Scientist 2024 dan 2025. Daftar ini disusun oleh Stanford University bekerja sama dengan Elsevier berdasarkan basis data Scopus. Dia urutan ke 51 dari 223.153 akademisi dunia dan dari daftar ilmuwan paling berpengaruh di dunia ini, 150 ilmuwan dari Indonesia yang masuk daftar tersebut.
Materi yang dibahas mereka saat itu sangatlah menarik.
Dalam materinya, VBL penuh semangat menyebut bahwa NTT punya kekayaan energi baru terbarukan (EBT) yang melimpah ruah. Seperti tanah yang luas, lautan membentang, energi matahari yang tak pernah putusnya setiap tahun.
“Hari ini saya ingin kita semua melihat diri kita sendiri dengan cara yang baru. Lihatlah tanah yang kita pijak ini. Laut yang membentang luas, savana yang membakar semangat, dan mentari yang tak pernah lelah bersinar. Ini bukan tanah yang miskin. Ini tanah para raja, tanah pejuang, tanah yang diberkati kekayaan luar biasa,”demikian politisi Nasdem ini di awal materinya.
Sambil berdiri, politisi yang kerab hadir dengan pernyataan kontroversialnya menambahkan, “Saya menekankan kita punya gas bumi yang bisa menerangi rumah-rumah kita, menggantikan kayu api yang selama ini membelenggu ibu-ibu kita. Kita punya panas matahari di Sumba yang begitu dahsyat, siap diubah menjadi listrik untuk menggerakkan tambak udang seluas ribuan hektar. Bahkan hidrogen, energi masa depan, ada dalam genggaman kita.”
Karena itu ada satu pertanyaan yang baginya sangat menggelitik: Mengapa kita masih berteriak tentang kemiskinan? Kenapa setiap Desember kita harus susah payah mendapatkan minyak tanah? kemiskinan di NTT terjadi karena kita belum mengerjakan kekayaan kita dengan sungguh-sungguh. Kita belum mengelola energi kita dengan profesional.
“Saya ingin lihat generasi muda NTT tidak lagi disibukkan dengan urusan mengejar minyak tanah, tapi mulai berpikir bagaimana gas bumi bisa mengalir di dapur-dapur kita. Bagaimana panel surya menghidupkan mesin-mesin usaha kecil kita. Bagaimana listrik yang stabil melahirkan industri-industri baru,”demikian VBL dalam narasi yang dikemas apik di media sosialnya.
“Saudaraku, bahagia itu soal hati, tapi kemiskinan adalah etik pembangunan yang harus kita tuntaskan. Kita tidak boleh puas hanya dengan senyum dan syukur. Kita harus bergerak,”tambahnya. Karenanya, dia tak pernah berhenti menarasikan spirit kebangkitan bahwa NTT tidak boleh lagi tertinggal.
“Kekayaan ini harus kita kelola, harus kita rasakan. Ini saatnya kita bangkit. Ini saatnya NTT menjadi tuan di rumah sendiri. Ayo kita buktikan bahwa tanah para laskar ini mampu bersinar terang. Tuhan memberkati kita semua,”pungkasnya.
Makroalga= Emas Hijau NTT
Di kesempatan yang sama, Prof Yantus dalam materinya menyentil tentang hal yang sama, bagaimana mengelola energi baru terbarukan yang dimiliki provinsi ini. Dari berbagai riset yang dikantonginya, dia mengusulkan untuk pengembangan biofuell berbasis rumput laut. Tak tanggung-tanggung, dalam materinya berjudul ‘Transformasi Energi Terbarukan di NTT’, dia membedah komitmen global hingga strategi energi NTT, sebuah arah baru transisi energi menuju 2050.
Selain itu, Prof Yantus juga membuka pemahaman publik mengenai kekayaan energi yang dimiliki Pulau Timor, dalam sebuah thema tersendiri yakni Timor biomass island dimana energi lokal dimaksimalkan sebagai bentuk kontribusi nyata dalam komitmen menjaga iklim global. Jika selama ini batubara dijadikan sebagai sumber energi maka disubstitusi dengan biomassa.
Sementara terkait usulannya menjadikan makroalga sebagai emas hijau NTT, Prof Yantus merujuk pada dasar penelitiannya. Yakni rumput laut jenis Eucheuma cotonii yang melimpah di perairan NTT. Rumput laut ini melewati tahapan fermentasi, distilasi, pemurinian hingga bioetanol dengan standar bioetanol E5, E10 sampai E20.
“Kenapa, karena kita memilikinya dan potensinya melimpah ruah. Saya percaya dengan potensi yang melimpah ruah seperti ini, NTT menjadi pusat pengembangan biofuel laut maritim,”ungkap sekretaris senat perguruan tinggi Undana ini. (boy)






