SALATIGA–Bulan Bahasa menjadi salah satu kegiatan yang terus dihadirkan SMP Kristen Satya Wacana untuk mengajak pelajar mengenal, mencintai, dan mengembangkan kemampuan berbahasa. Tidak hanya menjadi ajang perlombaan, kegiatan ini juga menjadi ruang bagi para pelajar untuk menunjukkan keberanian, kreativitas, serta apresiasi terhadap keberagaman bahasa dan budaya Indonesia.
Memasuki penyelenggaraan ke-21, Bulan Bahasa tahun ini mengusung tema “Bhuana Citra Nusantara” dan berlangsung selama lima hari, Senin (26/10/2026) hingga Jumat (30/10/2026). Sebanyak 776 peserta dari 114 sekolah turut ambil bagian, terdiri atas 392 peserta tingkat Sekolah Dasar (SD) dan 384 peserta tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Para peserta berasal dari berbagai wilayah, di antaranya Kota Salatiga, Kabupaten Semarang, dan Kota Semarang.
Selama lima hari, para peserta mengikuti 26 jenis perlombaan yang mencakup bidang bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Jawa, Mandarin, seni rupa, dan musik. Beragam kompetisi diselenggarakan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa sekaligus kreativitas peserta, mulai dari mendongeng, membaca puisi, dan pidato dalam bahasa Indonesia hingga newscasting, storytelling, dan speech dalam bahasa Inggris. Peserta juga diajak mengenal kekayaan bahasa dan budaya melalui lomba menulis aksara Jawa, macapat, geguritan, menulis Hanzi, serta membaca puisi Mandarin. Kreativitas peserta turut ditampilkan melalui kompetisi mewarnai, menggambar komik, dan menyanyi solo.
Sertifikat Terkurasi PUSPRESNAS
Ketua Panitia Bulan Bahasa ke-21, Dr. Nobita Triwijayanti, M.Pd., menjelaskan bahwa Bulan Bahasa tahun ini memiliki perbedaan dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya, yaitu adanya sertifikat yang telah terkurasi secara nasional. Hal ini menjadi nilai tambah bagi para pemenang sekaligus memberikan pengakuan lebih terhadap capaian yang diraih selama mengikuti perlombaan.
“Selain itu, karena tahun ini sudah terkurasi Puspresnas, hal tersebut juga menambah nilai lebih sehingga perlombaan menjadi lebih bergengsi,” jelas Nobita.
Penyelenggaraan Bulan Bahasa yang memasuki tahun ke-21 mendapat apresiasi dari sejumlah pihak. Ketua Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana (YPTKSW), Jeffrie Lempas, mengapresiasi konsistensi penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan pelajar dari berbagai sekolah di Salatiga dan sekitarnya.

Foto UKSW
Dalam sambutannya pada pembukaan kegiatan, Senin (26/10/2026), Jeffrie menyampaikan bahwa Bulan Bahasa dapat menjadi kesempatan bagi para peserta untuk terus belajar dan mengembangkan potensi diri. “Jadikan Bulan Bahasa sebagai kesempatan untuk belajar, untuk berkarya, dan untuk mengembangkan kompetensi diri,” pesannya.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Direktorat Kemahasiswaan UKSW, Giner Maslebu, S.Si., S.Pd., M.Si., menyampaikan bahwa Bulan Bahasa menjadi ruang perjumpaan bagi generasi muda dari berbagai sekolah untuk membangun semangat persatuan dan kecintaan terhadap Indonesia. Menurutnya, pengalaman dan interaksi antar peserta menjadi nilai penting yang melampaui hasil perlombaan.
“Hal yang paling penting adalah perjumpaan yang membuat kita semakin mencintai Indonesia,” ungkapnya.
Pembukaan Bulan Bahasa ke-21 turut dihadiri oleh Wali Kota Salatiga yang diwakili Kepala Dinas Pendidikan Kota Salatiga, Mudjiati, M.Pd., serta Ketua DPRD Kota Salatiga yang diwakili Anggota Komisi A DPRD Kota Salatiga, Laurens Adrian, S.T. Hadir pula para kepala sekolah dari berbagai satuan pendidikan yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Rangkaian Bulan Bahasa ke-21 ditutup pada Jumat (30/10/2026). Sebanyak 156 peserta menerima penghargaan dari berbagai kategori perlombaan. Acara penutupan dimeriahkan dengan penampilan dari perwakilan pemenang, kemudian dilanjutkan dengan penyerahan trofi dan sertifikat kepada para juara.
Kegiatan ini sejalan dengan komitmen terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs ke-4, yaitu pendidikan berkualitas, melalui penyediaan ruang pembelajaran dan pengembangan kompetensi bagi pelajar, serta SDGs ke-10, yaitu berkurangnya kesenjangan, melalui keterlibatan peserta dari berbagai sekolah dan latar belakang untuk memperoleh kesempatan yang setara dalam berkarya dan mengembangkan potensi. Upaya ini juga mendukung Asta Cita ke-4 yang menekankan penguatan pembangunan sumber daya manusia, pendidikan, dan pengembangan talenta generasi muda.
Sebagai perguruan tinggi swasta terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi pada jenjang D3 hingga S3. UKSW juga dikenal sebagai “Kampus Indonesia Mini” karena keberagaman latar belakang mahasiswanya serta mengusung semangat “Creative Minority” dalam menghadirkan kontribusi bagi masyarakat. (RLS/UKSW/BOY)







