KKN UKSW Dorong Pertanian Berkelanjutan, Mahasiswa Olah Limbah Biogas Jadi Pupuk Organik

INFO UKSW80 Dilihat

SALATIGA–Guna mendukung pertanian ramah lingkungan dan mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia, Fakultas Pertanian dan Bisnis (FPB) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menggelar program pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Dusun Sengon, Desa Manggihan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, belum lama ini selama satu bulan.

Salah satu kelompok KKN mengangkat tema budidaya pertanian dengan memanfaatkan limbah peternakan dan bahan organik lokal untuk mendukung pertanian berkelanjutan. Selama satu bulan, mahasiswa mendampingi masyarakat mengolah residu biogas (bio-slurry) dan limbah kotoran sapi menjadi bahan yang dapat dimanfaatkan kembali untuk budidaya pertanian. Mereka melakukannya di bawah pendampingan dua dosen, Dr. Theresa Dwi Kurnia, S.P., M.P., dan Dr. Maria, SP., MP.

Kelompok yang terdiri dari tujuh mahasiswa Program Studi Agroteknologi dan Agribisnis tersebut melibatkan 25 peserta dari Kelompok Tani Utomo, Kelompok Wanita Tani (KWT), dan Karang Taruna setempat. Warga didampingi membuat pupuk organik cair (POC) dan pupuk organik padat (POP) dari limbah peternakan dan residu biogas. Selain itu, mahasiswa mengenalkan pembuatan mikroorganisme lokal (MOL) dan asam humat dari bahan organik lokal, serta mengajak warga mempraktikkan pengujian kandungan hara tanah menggunakan Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK).

Baca Juga  Rektor Intiyas Pimpin Tim UKSW, Gelar Kunjungan Benchmarking ke Universitas Negeri Surabaya  

Dr. Theresa Dwi Kurnia, S.P., M.P., yang juga Ketua Program Studi Agroteknologi UKSW, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya mengenalkan pemanfaatan limbah, tetapi juga mendorong masyarakat memahami kondisi tanah dan kebutuhan tanaman sebelum menggunakan bahan pendukung pertanian.

“Selain mengurangi potensi limbah, program ini mendorong masyarakat untuk memahami pentingnya menjaga kesuburan tanah serta menggunakan pupuk dan bahan pendukung pertanian sesuai dengan kondisi tanah dan kebutuhan tanaman,” terangnya.

Penerapan pupuk organik kemudian dilakukan melalui demplot tanaman pakcoy. Mahasiswa dan warga mencoba empat perlakuan, yaitu POP, POC, MOL, dan kontrol. Pada minggu kedua, tanaman dengan perlakuan POC dan MOL menunjukkan pertumbuhan lebih cepat dibandingkan beberapa perlakuan lainnya. Demplot tersebut sekaligus menjadi contoh langsung bagi masyarakat mengenai penerapan pupuk organik pada tanaman hortikultura.

Baca Juga  Dari Limbah Jadi Inovasi: Expo Agribisnis UKSW Tampilkan Karya Berdampak

Dari hasil evaluasi, sebanyak 84% peserta telah mengetahui pemanfaatan bio-slurry sebagai bahan yang dapat digunakan dalam pertanian sebelum mengikuti kegiatan. Setelah mengikuti rangkaian praktik, peserta memberikan respons positif terhadap peningkatan pemahaman mengenai pembuatan POC, POP, dan MOL serta manfaat kegiatan bagi masyarakat.

Menurut Paimin, warga Dusun Sengon, kegiatan KKN UKSW memberikan pengetahuan baru yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kegiatan ini memberikan pengetahuan baru bagi kami tentang cara memanfaatkan limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Semoga kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan dan membantu masyarakat dalam mengembangkan pertanian yang lebih ramah lingkungan,” ujar Paimin.

Dr. Theresa menambahkan, pemanfaatan sumber daya lokal dan pengelolaan limbah menjadi salah satu langkah untuk membangun pertanian yang lebih berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan semakin terampil memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar sekaligus menjaga kesuburan tanah.

Baca Juga  LTC UKSW Ajak Mahasiswa Amerika Belajar Seni Anyaman Eceng Gondok

Program tersebut merupakan bagian dari KKN FPB UKSW yang mengangkat sejumlah tema sesuai potensi dan kebutuhan masyarakat, meliputi budidaya pertanian, agrowisata, penyuluhan dan pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan UMKM. Kegiatan ini juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs ke-2 tentang tanpa kelaparan, SDGs ke-2 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab melalui pemanfaatan limbah, serta SDGs ke-13 tentang penanganan perubahan iklim.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 34 Prodi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. (RLS/UKSW/BOY)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan