KUPANG – Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali mengukuhkan posisi prestisiusnya di panggung akademik internasional melalui capaian yang membanggakan dari jajaran tenaga pendidik. Dosen dari Program Studi Fisika, Fakultas Sains dan Teknik (FST) Undana, Redi Kristian Pingak, S.Si., M.Sc., Ph.D. (cand.), resmi kembali menembus jajaran elit ilmuwan dunia dalam daftar World’s Top 2% Scientist 2026 yang dirilis oleh Stanford University dan Elsevier BV.
Pemeringkatan berskala global ini menjadikan Redi Kristian Pingak sebagai satu-satunya wakil akademisi Undana yang meraih predikat kehormatan tersebut pada edisi 2026, sekaligus mempertahankan posisinya selama dua tahun berturut-turut setelah sebelumnya juga masuk dalam daftar ilmuwan paling berpengaruh dunia pada edisi 2025 bersama Prof. Dr. Yantus A.B. Neolaka, S.Pd., M.Sc.
Rekam jejak riset berkelanjutan ini memperkuat reputasi kelembagaan di tingkat dunia, membuktikan kapasitas laboratorium lokal dalam menghasilkan sains berstandar internasional, serta meningkatkan bobot Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi. Prestasi fenomenal ini membuktikan secara konkret bahwa keterbatasan geografis bukanlah penghalang untuk melahirkan karya inovasi yang diakui dunia, sekaligus menginspirasi lahirnya talenta-talenta peneliti muda dari wilayah timur Indonesia.
Metrik Sitasi Tersandar dan Performa Riset Global
Pemeringkatan World’s Top 2% Scientist disusun menggunakan standar metrik sitasi tersandar (c-score) secara ketat melalui basis data Scopus untuk mengukur akumulasi pengaruh riset, h-index, serta dampak riil publikasi ilmiah di tingkat internasional. Berdasarkan data resmi publikasi pemeringkatan 2026, Redi Kristian Pingak mencatatkan performa riset global yang solid dengan menempati Peringkat Global 126.419 dunia. Khusus pada bidang utama Physics & Astronomy dan sub-bidang keahlian Applied Physics, akademisi Undana ini sukses mengamankan Peringkat Global Sub-Bidang 2.269 dunia.
“Puji syukur kepada Tuhan, tahun ini saya kembali masuk ke dalam daftar Top 2% Ilmuwan Dunia di bidang Fisika. Ini adalah tahun kedua berturut-turut saya menerima penghargaan ini setelah tahun lalu juga masuk dalam daftar yang sama,” ungkap Redi Kristian Pingak dalam wawancaranya di Kupang, Selasa (13/10/2026).
Mengabdi sebagai dosen dan peneliti Undana sejak tahun 2008, Redi Kristian Pingak merupakan alumnus S1 Fisika Undana angkatan 2008 yang kemudian menyelesaikan jenjang S2 Master of Science (Physics) di The University of Melbourne, Australia, melalui beasiswa Australia Awards. Saat ini, ia tengah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di The University of Sydney, Australia, dengan dukungan penuh Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Republik Indonesia.
Fokus kepakaran risetnya bergerak di garis depan sains modern (cutting-edge science), meliputi theoretical and computational condensed matter physics, mekanika kuantum, hingga pemodelan komputasional material halide perovskite dan material dua dimensi (2D) untuk aplikasi fotovoltaik serta fotokatalitik masa depan.
Produktivitas Publikasi dan Penghargaan Anugerah Undana 2026
Ketajaman analisis dan produktivitas riset Redi Kristian Pingak tercatat secara presisi pada basis data Science and Technology Index (SINTA) dan Scopus. Ia telah memublikasikan 48 artikel ilmiah pada jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus, dengan raihan H-index Scopus mencapai angka 20 serta akumulasi sitasi global menembus 1.164 kali.
Atas kinerjanya yang luar biasa, Undana turut menganugerahkan penghargaan Anugerah Undana 2026 sebagai Peraih Skor SINTA Tertinggi Kategori 3 Tahun (3 Years) Urutan Pertama di tingkat universitas. Di balik raihan prestasi dunia ini, Redi menegaskan bahwa karya ilmiah yang berdampak luas merupakan buah dari kerja keras kolektif dan sinergi tim peneliti, bukan pencapaian individu semata.
Ia turut menyampaikan apresiasi mendalam kepada pimpinan Undana, Kemdiktisaintek, serta LPDP atas fasilitasi sarana, riset, dan pembiayaan pendidikan yang berkelanjutan. Dukungan institusional yang kuat dinilai menjadi kunci utama agar para peneliti di daerah dapat terus mengembangkan inovasi yang menjawab tantangan zaman.
“Bagi saya, ini adalah hasil kerja keras tim, bukan pencapaian individu. Saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh tim peneliti atas kerja sama yang luar biasa. Tanpa kolaborasi yang kuat, riset berdampak ini tidak akan pernah terwujud,” pukasnya.
Dorongan Inspirasi bagi Generasi Muda Peneliti Indonesia
Keberhasilan mempertahankan predikat ilmuwan berpengaruh dunia ini menjadi suntikan semangat baru bagi seluruh civitas akademika Undana dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). Pimpinan universitas berharap capaian bersejarah ini dapat memicu keberanian para dosen muda dan mahasiswa untuk menembus batas-batas riset di kancah global.
Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa putra daerah dari NTT mampu memberi warna dan kontribusi substantif bagi kemajuan ilmu pengetahuan dunia.
“Saya berharap capaian ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda Indonesia, khususnya para peneliti muda dan mahasiswa. Kita dapat membuktikan bahwa ilmuwan Indonesia mampu bersaing dan memberi warna di panggung sains internasional. Teruslah meneliti, berinovasi, dan berkarya untuk kemajuan bangsa,” pesannya membakar semangat akademisi muda. (Alk/rls/undana/boy)






