Kupang (MEDIATOR) – Universitas Nusa Cendana (Undana) terus memperkuat langkah internasionalisasi pendidikan melalui partisipasi aktif mahasiswanya dalam program Southeast Asian Teacher Project (SEA Teacher). Program pertukaran mahasiswa keguruan (FKIP) se-Asia Tenggara ini merupakan inisiasi Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) dalam bentuk praktik mengajar di negara ASEAN lain. Mahasiswa Undana berpeluang untuk terjun langsung mengajar di luar negeri dan menyerap praktik pembelajaran global yang inovatif untuk diterapkan sekembalinya ke kampus.
Tiga mahasiswa Undana dari total delapan mahasiswa yang menjadi representasi program ini membagikan pengalaman perdana mengajar diluar negeri. Mereka adalah Rapi Mesa Valentino Poa (Pendidikan Fisika), Helya Sherisya Messakh (Pendidikan Matematika), dan Selfisina Sarah Samadara (Pendidikan Bahasa Inggris). Mereka menjalani praktik mengajar di dua institusi ternama di Filipina, yakni Saint Louis College dan Don Mariano Marcos Memorial State University (DMMMSU).
Adaptasi Budaya Berpikir Kritis
Selama berkegiatan di Filipina, para mahasiswa menemukan dinamika kelas yang sangat aktif dan partisipatif. Siswa di sana menunjukkan kemampuan berpikir kritis yang kuat dengan tidak hanya sekadar menjawab pertanyaan, tetapi juga mampu menjelaskan alasan logis di balik setiap jawaban mereka.
“Awalnya saya merasa gugup, tetapi siswa di sana sangat aktif dan suportif. Mereka bahkan mendorong saya untuk terus percaya diri saat mengajar,” ujar Rapi Mesa Valentino Poa, yang ditemui seusai audiensi bersama Rektor Undana, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kepala International Relation Office (IRO).
Hal senada diungkapkan oleh Selfisina Sarah Samadara yang terkesan dengan pola komunikasi dua arah di kelas. “Mereka tidak hanya menjawab, tetapi juga menjelaskan proses berpikir mereka. Ini adalah indikator kuatnya pengembangan kemampuan berpikir kritis dalam proses pembelajaran di sana,” ungkapnya.
Pendekatan Sistematis dan Terstruktur
Keberhasilan interaksi di kelas tersebut didukung oleh perencanaan pembelajaran (lesson plan) yang sangat detail dan terstruktur. Para pengajar di Filipina menerapkan berbagai model pembelajaran modern seperti discovery learning serta model siklus belajar 5E hingga 7E (Engage, Explore, Explain, Elaborate, Evaluate).
Helya Sherisya Messakh menjelaskan bahwa ketelitian dalam menyusun rencana pembelajaran terbukti mampu meminimalkan kesalahan penyampaian materi. “Dengan perencanaan yang detail, alur interaksi antara pengajar dan siswa menjadi lebih terarah dan hidup, meskipun materi yang diajarkan tergolong baru bagi mereka,” tambah Helya.
Strategi Transformasi Pembelajaran di Undana
Pengalaman internasional ini menjadi dasar bagi Undana untuk mendorong penguatan praktik pembelajaran di lingkungan internal. Sekembalinya dari Filipina, para mahasiswa tersebut siap mengadaptasi sejumlah poin strategis, di antaranya:
• Penerapan Student-Centered Learning: Mendorong keterlibatan aktif mahasiswa melalui diskusi, eksplorasi, dan praktik langsung daripada sekadar mendengarkan ceramah.
• Penguatan Literasi dan Budaya Bertanya: Membiasakan mahasiswa untuk mencari tahu secara mandiri dan berani mengemukakan pendapat.
• Kreativitas Metode Mengajar: Mengembangkan media pembelajaran yang kontekstual dan menarik untuk menjaga antusiasme belajar dari awal hingga akhir sesi.
• Sistematisasi Rencana Pembelajaran: Menyusun alur pengajaran yang lebih terukur untuk menciptakan suasana belajar yang lebih profesional.
Melalui program SEA Teacher, Undana berharap dapat membuktikan komitmennya dalam mencetak calon tenaga pendidik yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga memiliki kepercayaan diri dan wawasan global. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan sistem pendidikan di Nusa Tenggara Timur yang lebih adaptif, inovatif, dan berdaya saing internasional. (IyL/rls/undana/boy)






